Kopi Tubruk yang Khas dari Nusantara

Sobih AW Adnan    •    18 April 2016 17:42 WIB
Kopi Tubruk yang Khas dari Nusantara
Pengunjung melakukan icip-icip kopi dengan mencium aroma kopi untuk mengetahui kualitas kopi dalam rangkaian Indonesia Coffee Festival (ICF) 2013 di di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Jawa Tengah. (MI/Ramdani)

Metrotvnews.com, Cirebon: Kedai kopi modern ini cukup beruntung. Saat matahari baru tergelincir separuh tombak, paling tidak sudah empat sampai lima meja telah terisi pelanggan. Mereka berbincang masyuk dilengkapi cangkir berisi kopi hangat maupun yang telah dipadu dengan dinginnya es, sesuai selera.
 
Potret ini tergambar saat menikmati sebuah sore di jantung kota Cirebon, Jawa Barat, beberapa hari lalu. Di lantai paling bawah sebuah pusat perbelanjaan, kafe dengan ragam sajian kopi dan donat ala-Amerika ini baru berdiri tiga tahun, namun tren kekinian muda-mudi Kota Udang membawanya menjadi tempat wajib kunjung kedua setelah sekolah maupun kampus. Tidak hanya itu, di lobi pemesanan, terdapat juga orang-orang yang telah matang usia terdengar menyebut-pilih Americano, espresso, latte, cafe au lait, mocha dan beberapa sajian dengan nama asing lainnya.
 
Cirebon memang belum termasuk dalam deret daftar kota besar dan metropolis Indonesia. Namun soal kopi, di ujung timur Jawa Barat ini paling tidak terdapat empat coffee shop bermerk jaringan bisnis raksasa negeri Paman Sam. Selain itu, puluhan kafe modern lainnya juga menjamur hampir di setiap tikungan jalan dan sudut kota.
 
Banyaknya pilihan tempat nongkrong lengkap dengan hidangan kopi bergaya luar negeri ini bukan termasuk cerita lama. Mereka merupakan bagian dari rangkaian perubahan yang cukup cepat dan signifikan untuk daerah-daerah selain ibu kota provinsi. Tren penikmat kopi yang tak sungkan merogoh kocek paling sedikit Rp35.000,- per cangkirnya itu, terbangun massif hanya dalam waktu tak lebih dari lima tahun saja.
 
Pakar kopi Nusantara, Johny Rahadi menyebut fenomena ini sebagai bagian dari problem budaya masyarakat Indonesia. Menurut dia, sebagaimana keharu-biruan kebanyakan orang terhadap produk luar negeri, kemasyhuran kedai kopi modern ini juga berimbas pada kemerosotan pengetahuan dan kecintaan terhadap kopi-kopi warisan nenek moyang di dalam negeri.
 
“Kopi itu bukan sebuah tradisi baru dalam sejarah Nusantara. Kita malah lebih kaya. Banyak generasi muda yang tidak tahu, bahwa  dalam ngopi, kita memiliki produk dan tradisi asli yang luar biasa. Sayangnya, tren menggeser masyhurnya kopi asing yang menguntungkan negara lain. Kita harus menumbuhkan kesadaran untuk kembali menghargai warisan budaya kopi Nusantara,” kata Johny  kepada metrotvnews.com, Jumat (15/4/2016).
 
Ragam kopi Nusantara
 
Di Indonesia, kopi ditanam nyaris di semua provinsi yang ada. International Coffe Organization (ICO) mencatat bahwa proses produksi kopi Indonesia melibatkan lebih dari 1,84 juta kepala keluarga. Sementara data lainnya menunjukkan sebanyak sembilan juta orang menggantungkan hidupnya pada peruntungan perkebunan kopi yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
 
Indonesia bukan pemain baru dalam medan bisnis kopi dunia. Sejak masa kolonial Belanda, kopi dari bumi Nusantara diperhitungkan sebagai komoditas unggulan yang diminati pasar global. Johny mengklaim kopi Nusantara, terutama yang berasal dari Indonesia memiliki kualitas yang jauh lebih baik di atas kopi-kopi yang ditanam di benua Amerika dan Asia lainnya.
 
“Sekitar 80 hingga 89 persen kopi kita itu kopi vulkanik. Kopi yang ditanam dan tumbuh di lereng-lereng pegunungan berapi. Dan inilah yang menjadikan kopi Indonesia kualitasnya lebih baik, karena kopi kita terbentuk dari mineral yang penuh,” kata Johny.
 
Keunggulan kopi Nusantara yang ada di Indonesia, kata Johny, ditunjukkan dengan permintaan pasar dunia yang semakin meningkat. Dari data yang diluncurkan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kopi Indonesia mencapai 382,750 ton per tahun atau setara dengan 1.030.716 Dollar AS.
           
“Berbeda dengan Vietnam misalnya, kopi yang ditanam di Dak Lak hanya dihasilkan dari pegunungan tinggi tapi bukan di gunung-gunung berapi, jadi kualitasnya jauh,” ujar pria yang mengaku 32 tahun mendalami riset soal kopi.
 
Dari varian besar kopi di dunia, yakni robusta dan arabica, Indonesia memiliki peluang yang berimbang untuk dua jenis komoditas tersebut. Robusta, kata Johny, awalnya merupakan jenis kopi andalan yang diproduksi Indonesia, tapi kini kopi jenis arabica asal dalam negeri juga menjadi idola pasar kopi dunia.
 
“Untuk yang arabica bisa ditemukan di Gayo, Aceh. Lantas turun sedikit ke Kalang, Mandailing dan Lintong. Ada juga di Bengkulu dan banyak didapatkan di Pagar Alam, Sumatra Selatan,” kata dia.
 
Data ini belum lagi jika ditambahkan hasil perkebunan dari pulau Jawa, terutama Jawa Barat. Johny menyebutkan kopi jenis ini dihasilkan secara cukup besar di wilayah gunung Tilu, Malahari, Papandayan, dan pegunungan Manglayang di Sumedang dan Bandung.
 
“Kalau dilihat dari udara, akan sangat jelas bahwa perkebunan kopi kita terus mengalami perkembangan,” ujar Johny.
 
Kekayaan Indonesia dalam dunia bisnis biji pahit ini tidak hanya pada soal jumlah dan kualitas, menurut Johny, peluang bersaing dunia kopi Indonesia juga didukung oleh tradisi meminum yang semestinya layak untuk diadu dengan pasar kopi dari negara lain.
 
“Tradisi minum kopi asli khas Nusantara itu ya jenis tubruk. Yang berampas itu. Tradisi inilah yang tidak dimiliki banyak negara lain dan telah menjadi ciri khas para pendahulu kita. Ada juga tradisi tarik, ini biasa dilakukan dalam penyajian kopi Gayo, asal Aceh,” kata Johny.
 
Dengan modal ini, kata Johny, Indonesia sebenarnya sudah patut untuk turut bertarung dalam persaingan kedai kopi baik di dalam dan luar negeri. Kesadaran mencintai budaya dalam negeri mesti digenjot di segala bidang, termasuk dalam dunia perkopian.
 
“Saya sedang mengkampanyekan itu. Kopi kita terus dibuang ke luar negeri, tapi di sini generasi penerus tidak mengenal keunggulan produknya sendiri. Kesadaran ini harus kembali dibangun,” kata dia.
 
Kopi dan perlawanan budaya
 
Perbincangan mengenai kopi bukan hanya berkutat pada sebuah nama komoditas perkebunan. Persoalan kopi juga terkait erat dengan persoalan budaya. Johny menjelaskan pentingnya untuk kembali menguatkan promosi kopi Nusantara di kancah dunia yang dimulai dari kesadaran masyarakat di dalam negeri.
 
“Perkembangan kopi juga termasuk perkembangan budaya. Tidak bisa dipisahkan. Karena yang ala-Eropa dan Amerika pun sebenarnya itu hanya dampak globalisasi. Berkat tren komunikasi yang bebas batas sekarang ini, akhirnya mereka dengan leluasa memanfaatkan kita sebagai sasaran pasar,” kata Johny.
 
Merangseknya jaringan bisnis kopi modern asal Amerika dan Eropa dalam lima sampai tujuh tahun belakangan ini merupakan reaksi dan tren yang juga dirasakan oleh masyarakat internasional secara keseluruhan. Indonesia, kata Johny, sebenarnya memiliki peluang cukup besar untuk memelajari langkah dan strategi yang telah diambil oleh pemegang jaringan bisnis global. Yakni dengan cara membangun kesadaran sekaligus menguatkan kualitas kopi yang sebenarnya sudah dimiliki secara alamiah.
 
“Kekurangan kita itu di antaranya adalah lemahnya tradisi riset. Mereka (Amerika dan Eropa) memiliki tradisi yang kuat dalam hal ini. Kepentingan riset adalah membangun inovasi, strategi pemasaran, dan gagasan penyajian yang apik,” kata dia.
 
Terkait saran penyajian, Johny menjelaskan bahwa keunggulan kualitas kopi Nusantara akan terkesan percuma jika tidak dibarengi dengan inovasi yang terus digagas secara serius dan mendalam. Meskipun persoalan kopi kembali pada selera yang berbeda-beda, namun faktor penyajian yang tidak sistematis membuat kualitas kopi Nusantara sedikit demi sedikit terabaikan.
 
“Misalnya, 40 persen kualitas sajian kopi itu ditentukan oleh roasting, yakni teknik pemanggangan. Maka kita harus menelusuri teknik yang baik untuk memroses setiap jenis kopi yang dimiliki,” ujar Johny.
 
Dengan keseriusan di bidang penyajian, lanjut Johny, maka setidaknya kopi Nusantara akan kembali berjaya di negeri sendiri. Harapan baik ini juga tumbuh seiring dengan terus menjamurnya kedai-kedai kopi yang pada akhirnya akan memunculkan seleksi alami keberadaan sajian yang pas dengan selera asli masyarakat Indonesia.
 
“Intinya, fenomena ini harus dilawan. Ini juga soal jati diri. Kita memiliki kesempatan atas pertumbuhan tren yang pada akhirnya terjadi equilibrium. Orang-orang akan jeli memilih  sajian yang pas dengan kecap lidah dan tradisi khas Nusantara,” kata Johny.
 
 


(ADM)