Konflik Suriah nan Membutakan

Coki Lubis    •    05 Juni 2017 13:14 WIB
Konflik Suriah nan Membutakan
Ketua Tim MER-C, Joserizal Jurnalis. (MI/Sayuti)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tak disangka, di balik sosok yang tenang itu tersimpan watak penolong yang pantang menyerah dan penuh semangat. Dia adalah dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT. Pria yang tak pernah merasa cukup untuk sekadar menjadi dokter, tanpa terjun ke zona peperangan.
 
Bukan senapan, namun perlengkapan medis yang menjadi senjatanya. Target operasinya, korban yang berjatuhan di medan pertempuran. Bersama kawan sejawat, dia mendirikan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada 1999, yang hingga kini menjadi kendaraan resmi bagi para 'dokter perang'.
 
Sejumlah wilayah konflik seperti Maluku, Mindanao (Filipina), Afghanistan, Irak, dan Gaza (Palestina), telah ia sambangi. Bahkan, di Gaza, dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi itu diamanahkan untuk mendirikan Rumah Sakit Indonesia.
 

Rumah Sakit Indonesia yang dibangun Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) hasil dari penggalangan dana kemanusiaan masyarakat Indonesia resmi beroperasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Rumah Sakit Indonesia tersebut murni akan melakukan misi kemanusiaan dalam membantu warga Palestina (Dok. MER-C)



Aktifitas kemanusiaan inilah yang membuat Joserizal dekat dengan banyak aktivis dan pemimpin-pemimpin organisasi massa Islam, di dalam maupun luar negeri.
 
Tak disangka, konsistensi terhadap 'politik kemanusiaan' yang dia anut, yang profesional dan netral, justru menjauhkan dirinya dari sejumlah aktivis yang awalnya bersahabat dengan Jose.
 
Saat kami menyambangi kediamannya di kawasan Cibubur, Kamis, 1 Juni 2017, Jose pun sudi menuturkan suka duka bekerja di tengah pusaran konflik pihak-pihak yang berebut kekuasaan. Temasuk drama “politik kemanusiaan” yang membuatnya dikucilkan oleh kelompok tertentu. Baginya, semua muncul sejak konlik di Suriah pecah pada 2011. Berikut petikan wawancaranya:
 
Bagaimana Anda memandang situasi krisis di Suriah?
 
Saya memang sedang fokus di Timur Tengah. Latar belakang konflik Suriah yang saya ketahui dimulai Maret 2011. Saat itu, demonstrasi terjadi di selatan Suriah, lantas mendapat respon keras dari pemerintah rezim Presiden Bashar al-Assad. Terjadi pertumpahan darah, jatuh korban banyak dari kubu oposisi yang berdemonstrasi, juga korban jiwa di sisi aparat pemerintah.
 
Anehnya, berdasarkan forensik yang kami ketahui, peluru yang menyebabkan korban tewas di kubu oposisi, dengan peluru yang menghantam aparat, jenisnya sama. Saya punya datanya.
 
Ini seperti lanjutan cerita kejatuhan rezim di Arab Spring. Mulai dari Tunisia, Mesir, Libya, kini Suriah. Dari kejadian tadi, tiba-tiba merebak di berbagai wilayah lain di Suriah.
 
Oposisi yang paling kuat saat itu Free Syrian Army (FSA), membentuk pemerintahan transisi. Turut pula faksi-faksi Islam di dalamnya, yang merupakan jaringan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM).
 
Saat itu juga muncul Jabhat An Nusrah, cabang dari Al Qaeda. Sebagai kelompok penentang rezim, Nusrah terbilang besar. Jadi, kalau FSA menampung orang-orang sekuler, Nusrah kelompok Islamis. Tapi di medan pertempuran, Nusrah lebih sukses dibanding FSA. Milisi-milisi (fighter) asing banyak berhimpun di Nusrah.
 
Lepas itu, Abu Bakar Baghdadi, tokoh Al Qaeda juga, mendirikan ISL (sekarang ISIS). Baghdadi minta Nusrah bergabung dengannya, tapi permintaan itu ditolak. Makanya pertarungan ISIS dan Nusrah menjadi salah satu perang di Suriah. Nah, perpecahan itu sampai ke Indonesia, juga di Afghanistan. Karena Al Qaeda memiliki pendukung di sini (Indonesia).
 
Jadi kalau kita lihat petanya, yang terlibat dalam oposisi (pemerintah Suriah) itu ada Al Qaeda, kemudian Ikhwanul Muslimin (IM). Nah, IM yang sangat aktif dalam cerita Arab Spring, dari Libya, Tunisia, Mesir. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk memperoleh kekuasaan.
 
Sudah jelas, ada faksi-faksi yang merupakan organisasi yang bersifat internasional atau transnasional (lintas negara). Anggotanya, pendukungnya, atau simpatisan, sudah pasti memiliki pandangan yang sama dengan organisasi induknya. Banyak perdebatan di sini.
 
Bisa dipertegas maksud Anda mengenai persoalan ini?
 
Sebelum konflik itu, yang jelas Suriah adalah negara yang cukup kuat secara ekonomi. Tidak pernah tergantung dengan Barat. Selain itu, Suriah konsisten melawan zionisme Israel terhadap bangsa Palestina.
 
Suriah merupakan jalur bantuan buat Palestina. Bagi saya, ini sebenarnya faktor utama dari konflik-konflik di Timur Tengah. Soal Israel-Palestina.
 
Kenapa begitu?
 
Lihat dampaknya, kekuatan kompak di Palestina yang melawan Israel, yaitu Hamas dengan Hizbullah (kelompok perlawanan yang berbasis di Lebanon) yang didukung Iran, tidak lagi harmonis.
 
Mengapa? Karena salah satu lapisan faktor konflik di Suriah adalah sekterian. Isu tentang golongan Suni-Syiah terus dikipas sebagai pemicu konflik. Sementara, Hammas di Palestina merupakan perlawanan golongan Sunni, dan Hizbullah yang didukung Iran mewakili golongan Syiah.
ILUSTRASI: Mahasiswa Palestina berbaris saat matahari terbenam di Al-Rebat College
for Law and Police Science di Khan Younis, Jalur Gaza. Program politik baru Hamas. (AFP/Adel Hana)
 
Pada sisi lain, Suriah, yang menjadi pendukung sekaligus jalur bantuan buat Palestina, justru digempur oleh kelompok-kelompok yang sebetulnya juga pembela Palestina. Di sinilah saya berbeda pendapat dengan teman-teman yang menyokong gerakan penggulingan Bashar al-Assad.
 
Padahal dulu kami bersahabat saat bicara Palestina. Kini mereka bicara Suriah. Sampai-sampai saya dituduh Syiah. Agen pendukung Bashar Assad, dan lain-lain. Itu muncul karena saya hanya mengatakan, konflik Suriah itu membutakan. Kelompok-kelompok Islam dipermainkan.
 
Semacam upaya pecah belah, ya?

Ada yang menarik. Bagi orang-orang sekuler, yang diisukan adalah tegaknya demokrasi. Sementara kelompok yang lain, isunya menegakkan syariat islam. Akhirnya berkelahi, hancur. Karena persoalannya ini menukik ke Israel.
 
Sementara teman-teman IM yang ada di sini, sangat getol mendukung turunnya rezim Bashar al-Assad. Sama halnya Hizbut Tahrir (HT) identik juga dengan IM, tapi HT pecahan lah. Juga mendukung gerakan oposisi di Suriah.
 
Selama ini 'jualan' Palestina, tapi kok tidak bisa membaca orang-orang yang ingin menghancurkan sekutu bangsa Palestina.
 
Hanya dua kelompok yang serius melawan Israel. Hamas yang berbasis IM, dengan Hizbullah berbasis Syiah. Saya lama di Palestina. Di sana, Hizbullah melatih Hamas. Roket Hammas dari Iran. Kini gara-gara Suriah, hubungan keduanya retak.
 
Tapi saya katakan, tidak semua faksi Hamas dan Hizbullah. Beruntungnya, di antara mereka, di Palestina, ada yang tidak terpengaruh dan masih baik hubungannya.
 
Lantas, bagaimana Anda menyikapinya?
 
Saya bergerak dengan basis humanitarian politics. Pandangan netral dan profesional inilah yang akhirnya membuat saya dan sahabat-sahabat kini berseberangan. Mereka kembali ke induk organisasi masing-masing. Tidak lagi bicara kemanusiaan.
 
Saya katakan, apa bedanya yang mereka lakukan terhadap Suriah dengan zionisme. Ya. Saya berpandangan politik kemanusiaan. Kerusakan peradaban itu ulah zionis. Zionis itu isme (paham), bukan Yahudi sebagai agama, lho. Berbeda. Zionis yang saya maksud adalah ideologi yang menghinakan orang lain, bangsa lain diluar dirinya.
 
Tapi, saya bicara begini sudah pasti diserang. Seperti soal “Save Aleppo”, saya pernah mengatakan mengapa tidak ada Save Palmyra? Bukan kah wilayah Palmyra juga diserang habis-habisan oleh pemerintah Bashar al-Assad?
 
Apa karena Aleppo dikuasai FSA dan kelompok-kelompok IM, juga ada Al Qaeda, lantas menjadi lebih penting dibanding Palmyra yang saat itu dikuasai ISIS? Bukankah sama-sama luluh lantak dan banyak jatuh korban?
 
Ya, beginilah cara saya membaca konflik yang memakan banyak korban. Begini cara saya menghadapi tudingan tidak benar dan dibuat-buat. Soal itu, saya siap mubahalah.
 
Tapi yang terpenting dari semuanya, dalam kerja kemanusiaan, saya dan teman-teman di MER-C, tetap profesional. Tidak peduli apa pandangan politik dari korban yang sedang kami tangani. Jangan bawa-bawan pandangan pribadi ke dalam kerja kemanusiaan.
 
Catatan: Mubahalah adalah saling bersumpah agar laknat Allah SWT dijatuhkan atas orang yang zalim atau berdusta di antara pihak yang berselisih.
 
 
 


(ADM)