Freeport dan Pamor Emas

Mohammad Adam    •    28 November 2015 04:12 WIB
Freeport dan Pamor Emas
Pekerja menyusuri tunnel tambang bawah tanah DOZ PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Papua. (foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kinerja saham Freeport McMoran anjlok. Harga saham perusahaan raksasa tambang emas dan tembaga ini anjlok hingga 70 persen dalam setahun terakhir. Ditengarai kesulitan keuangan Freeport di tahun ini disebabkan oleh kejatuhan harga komoditas di pasar internasional, tak terkecuali emas.



Emas tampaknya kehilangan daya tariknya, logam mulia ini tak lagi dianggap sebagai investasi yang menguntungkan untuk investasi jangka pendek. Namun, emas masih diminati para investor sebagai perlindungan kekayaannya saat terjadi guncangan perekonomian. Seiring dengan munculnya isu Federal Reserve selaku bank sentral Amerika Serikat bakal menaikkan suku bunganya, harga emas mengalami tren penurunan sejak 2013.

Data menunjukkan bahwa harga emas di bursa New York, AS, pada hari terakhir perdagangan tahun 2012 tercatat di level USD1.657,5 per troy ounce. Harga semakin memburuk ke level USD1.204 pada 2013. Meski mencatatkan kenaikan sedikit ke level USD1.206,0 pada pentupan perdagangan tahun 2014, namun emas diperkirakan akan melanjutkan penurunannya di sepanjang tahun 2015.

Prediksi itu nyaris terbukti. Analis PT Fortis Asia Futures, Deddy Yusuf Siregar, pada Rabu 31 Desember 2014, meramalkan bahwa harga emas pada 2015 akan lebih rendah dari USD1.050 per troy ounce. Pemantauan posisi harga emas di COMEX New York Mercantile Exchange pada Jumat 27 November 2015, harga emas telah menyentuh level 1.068,2 per troy ounce.

Harga emas mencatat rekor tertinggi pada 6 September 2011 di level USD1.921,2. Dengan demikian jika dibandingkan dengan posisi saat ini, harga emas telah turun hingga 37 persen atau lebih dari sepertiga rekor puncaknya.

Menurut Deddy, harga emas sungguh sangat memprihatinkan tahun 2015 ini. Maka, tak heran jika para investor khawatir mengenai apa yang akan terjadi di tahun mendatang.

Apalagi, beberapa waktu yang lalu Citigroup Inc menurunkan proyeksinya pada logam mulia ini. Bank besar itu memperkirakan tahun ini emas akan dijual pada kisaran harga USD1.050, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya USD1.195. Perusahaan investasi besar lainnya juga berpendapat serupa.

Deddy menjelaskan, pamor emas sebagai investasi safe haven memang kian memudar, salah satu pemicunya adalah rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan. Suku bunga AS diprediksi akan meningkat. Mayoritas anggota FOMC dalam proyeksi terbaru mereka memperkirakan suku bunga AS akan menjadi 0,75% di tahun 2016 dari angka 0,25% saat ini. Artinya, akan meningkat sekitar dua setengah kali lipat dari level saat ini.

Namun, hingga kuartal ketiga 2015, belum ada kepastian kapan kenaikan suku bunga AS itu akan diberlakukan oleh The Fed. Ketidakpastian isu kenaikan Fed Rate ini memperberat kenaikan harga komoditas di pasar global. Emas sebagai salah satu komoditas tambang turut terbebani.

Jika langkah bank sentral AS menaikkan suku bunga itu benar-benar berjalan, dipastikan bakal mengubah situasi perekonomian global. Kenaikan suku bunga di AS, sekecil apa pun akan mengubah seluruh konstelasi geomoneter.

Kenaikan suku bunga The Fed akan membuat risiko investasi dan valuasi aset finansial di pasar global harus dinilai ulang. Hal ini, bisa memicu pergeseran penempatan investasi portofolio lintas negara. Akibatnya, likuditas dolar AS bisa kian mengetat, terutama di negara-negara yang fundamental ekonominya lemah.

Normalisasi kebijakan moneter di AS bisa berimplikasi pada berkurangnya aliran modal masuk. Gejala pemulihan ekonomi di Negara Paman Sam ditambah rencana The Fed menaikkan suku bunga acuannya, memicu penguatan nilai tukar mata uang dolar AS, terhadap hampir seluruh mata uang utama. Kondisi ini membuat harga emas di pasar logam mulia makin terpukul.

Meskipun permintaan emas meningkat 8% pada kuartal ketiga 2015 dibandingkan kuartal sebelumnya, namun ekspektasi terhadap The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebelum akhir tahun ini lebih mendominasi pemberitaan dan sentimen di pasar. Sebagian besar pelaku pasar yakin bahwa the Fed akan menambahkan tingkat bunga acuan untuk pertama kali selama hampir satu dekade dalam pertemuan komite yang bakal diselenggarakan Desember nanti.

"Isu pemulihan ekonomi AS dan sinyal kuat tentang kenaikan suku bunga AS ini memberi sentimen negatif sehingga harga emas masih tertekan," ujar Deddy kepada metrotvnews.com, Jumat (27/11/2015).

Pelemahan harga emas, ia melanjutkan, dipicu oleh menguatnya kurs dolar AS terhadap mitra dagang utamanya, setelah membaiknya sejumlah data ekonomi AS yang dirilis. Antara lain penyerapan tenaga kerja meningkat, angka pengangguran rendah di level 5%, dan pertumbuhan industri jasa.

Kuatnya data ekonomi AS semakin memberikan optimisme pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya tahun ini. Selain itu, pasar pun mengkhawatirkan dolar AS akan terus menguat karena prospek pelonggaran kuantitatif di Eropa.

Emas memang baik sebagai safe haven untuk jangka panjang. Tetapi, dalam situasi pemulihan perekonomian AS, emas bukan menjadi pilihan menarik bagi investor. Safe haven yang lebih diminati dalam kondisi saat ini justru mata uang negara-negara dengan fundamental yang kuat, antara lain seperti dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss.

Namun, meski tahun ini emas mungkin sedikit mengkhawatirkan, harga emas diperkirakan akan jauh lebih optimis pada 2016. Logam mulia ini masih memiliki peluang untuk meningkatkan nilai jualnya di tahun mendatang.

"Kalau lihat secara teknikal, ada indikasi harga emas bisa naik di tahun depan (2016)," kata Deddy.

Seperti telah dijelaskan di atas, permintaan emas dari kuartal kedua ke kuartal ketiga meningkat sebesar 8%. Tren peningkatan permintaan ini diperkirakan berlanjut hingga kuartal pertama 2016.

Tetapi, Badan Emas Sedunia (World Gold Council) menyatakan pasokan emas tak sebanding dengan peningkatan permintaan tersebut. Produksi emas global di kuartal ketiga 2015 ternyata 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data WGC menunjukkan produksi emas dari tambang-tambang seluruh dunia sepanjang kuartal ketiga 2014 mencapai 836,1 troy ton. Sementara produksi emas kuartal ketiga 2015 hanya sebesar 827,1 troy ton.

Sesuai prinsip ekonomi, jumlah permintaan dan penawaran mempengaruhi harga segala sesuatu. Hal ini berlaku pula untuk emas, ketika permintaan meningkat dan atau penawaran berkurang, maka harga akan naik.

Bank-bank sentral ternyata menjadi pembeli emas paling besar tahun ini. Jika diperhatikan, pada kuartal kedua tahun ini saja, total mereka telah membeli 137,4 ton emas, atau meningkat sebesar 123,6% jika dibandingkan dengan pembelian pada kuartal pertama.

Artinya, bank sentral menimbun logam mulia.

Padahal, dalam periode yang lama sebelumnya, bank-bank sentral tak terlalu berminat untuk menyimpan emas. Kini, pandangan mereka tampaknya mulai berubah.

Dengan demikian, jika bank sentral tetap menjadi pembeli netto emas tahun 2016, maka harga emas bisa terangkat kembali.

Di sisi lain, permintaan yang besar juga disumbangkan dari sisi konsumen. Permintaan emas di India masih tetap tinggi. Bulan Agustus lalu nilai impor emas di India mencapai USD4,95 miliar, atau meningkat 140 persen dibandingkan impor senilai USD2,06 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Tentu bukan hal yang mengherankan apabilan pembelian emas di India terus bertambah pada tahun depan.

Jangan lupakan pula permintaan besar yang datang dari Tiongkok. Pada kuartal kedua 2015, negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini telah mengkonsumsi 216,5 ton emas. Permintan Tiongkok terhadap emas biasanya meningkat jelang perayaan Tahun Baru Imlek. Deddy memperkirakan pada bulan Februari 2016, di mana bertepatan dengan perayaan Imlek, kondisi harga yang murah ini akan dimanfaatkan investor Tiongkok untuk banyak membeli emas.

"Kalau itu terjadi, pada kuartal pertama 2016 harga emas bisa rebound. Jika didukung juga dengan inflasi di negara-negara Eropa bertambah, maka emas bisa diborong," kata Deddy.
 


(ADM)