Kepala BNN: Kita Perlu Metode Baku Rehabilitasi Narkoba

Wanda Indana    •    13 Februari 2017 13:25 WIB
Kepala BNN: Kita Perlu Metode Baku Rehabilitasi Narkoba
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso. (MI/Arya Manggala)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tegas dan kontroversial. Inilah sosok yang melekat pada Budi Waseso, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).



Buwas, sapaan Budi, memang buas memerangi penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif (narkoba). Kerja BNN kerap membetot perhatian publik. Betapa tidak, sejak Januari 2015 hingga Juni 2016, sebanyak  1.015 kasus narkoba dan 72 jaringan sindikat narkoba berhasil diungkap. Semua itu dilakukan untuk memutus mata rantai peredaran narkoba. Tapi, Jenderal bintang tiga ini menolak kinerjanya disebut sudah memenuhi harapan ramai masyarakat. Cukup blak-blakan. Lulusan Akademi Polisi angkatan 84 ini justru dengan gamblang membeberkan `aib` institutsinya. Dia menyebut ada praktik ‘wani piro’ yang dilakukan oknum petugas BNN sebelum menjebloskan pelaku ke penjara atau panti rehab.

Ada sejumlah pendekatan yang digunakan dalam menangani masalah narkoba; Supply Reduction, Demand Reduction dan Harm Reduction. Pendekaan Supply Reduction dan Demand Reduction lebih menitik beratkan pada penindakan dan penegakan hukum. Harm Reduction mengedepankan pengurangan dampak narkoba dengan program rehabilitasi.

Kedua metode tersebut jadi perdebatan di beberapa kalangan. Kalompok aktivis HAM menilai, mengirim pelaku kejahatan narkoba ke penjara tidak efektif.  Para bandar, pengedar, dan pecandu akan bertemu. Dengan begitu, yang tadinya hanya pengedar menjadi pemakai, yang tadinya pemakai menjadi pengedar.

Saat ditemui reporter Metrotvnews.com, Buwas bicara tentang strategi memerangi narkoba. Perang terhadap narkoba tak melulu menumpahkan darah. “Kuncinya ada si situ,” kata Buwas sembari menunjuk sebuah buku bersampul biru. Buku setebal lima sentimeter itu berjudul Pedoman Rehabilitasi Narkoba. Berikut ini petikan wawancaranya:

Kepala BNN Budi Waseso (MI/Susanto)

Program rehabilitasi seyogianya didasarkan pada sebuah visi yang ideal. Bisakah Anda jelaskan bagaimana konsep ideal tersebut?

BNN punya lima tugas fungsi, salah satunya rehabilitasi. Rehabilitasi adalah penyelamatan pecandu, penyalahguna, dan korban penyalahgunaan narkoba, itu harus diselamatkan. Bagaimana mereka terlepas dari ketergantungan, tidak mengkomsumsi lagi. Maka, perlulah dibentuk satu program namanya rehabilitasi.
BNN punya beberapa tempat rehab. Di mana program rehabilitasi itu menyangkut daripada rehabilitasi medis, sosial, dan pascarehab.

Namun, selama ini ternyata program rehabilitasi ini belum ada yang standar. Kita baru bicara di lingkungan BNN, kita lihat balai rehab yang dikelola oleh pemerintah, itu juga belum ada standarisasinya. Apalagi kita bicara yang dikelola oleh swasta. Maka saya melihat untuk permasalahan itu, perlu dibuat dulu standarisasinya. Ternyata setelah kita kupas, program rehabilitasi itu harus menyangkut empat item.

Yang pertama adalah rehablitasi psikologi, karena orang menyalahgunakan narkoba itu ada permaslahan psikologi. Beda-beda psikologinya ada yang masalah keluarga, frustasi, lingkungan, ah… macam-macam masalah psikologinya. Ini harus kita selesaikan.

Setelah kita tahu dulu masalah psikologi yang berdampak pada penyalahgunaan itu, kita akan bisa lakukan rehabilitasi medis. Itu menyangkut detoksifikasi, pengurangan ketergantungan, dan segala macam, itu yang kita lakukan.

Setelah selesai program itu, masuk ke rahabilitasi sosial, kita mengembalikan lagi kehidupannya. Dia bisa normal dengan bermanfaat dan berbuat lagi. Dia ada daya tangkal secara pribadi untuk tidak menyalagunakan kembali menjauhi lingkungannya yang dulu. Dia punya daya tangkal untuk tidak lagi terlibat masslah penyalahgunaan narkoba.

Baru ada pascarehabilitasi, itu memanfaatkan dari mantan-mantan pecandu itu dengan (penyaluran) bakat, bidang, situasi lingkungannya, sehingga setelah dia kembali, dia bermanfaat buat lingkungannya. Kalau dia bermanfaat dengan lingkungannya, maka dia akan melakukan suatu kegiatan yang tidak pernah ada hentinya.

Contoh, dia berada di lingkungan pertanian, kita latih dia untuk bertani yang baik dan benar. Bertani pada tanaman-tanaman yang cocok di tempat tiggalnya. Dengan begitu dia merasa melakukan hal yang produktif, dia tidak akan lagi berfikir narkotik. Ini program standar rehabilitasi semuanya sedang kita lakukam penyempurnaan, dan ini menjadi standar nasional dimana nanti tempat-tempat rehabilitasi itu baik dikelola oleh BNN, pemerintah, swasta, itu sama.

Sudah ada metode atau konsep rehabilitasi yang menjadi standar?

Konsepnya sudah jadi, sekarang tinggal pelaksanaanya untuk kita aplikasikan. Semua nanti, balai-balai rehab dari BNN, pemerintah, maupun swasta pedomannya ini. Buku ini sebagai pedoman, mereka harus melakukan sesuai dengan ini. Maka hrapannya ke depan, hasil rehabilitasi output dan outcome-nya sama. Mau direhab di mana saja sama. Maka ada jaminan bahwa orang yang sudah direhabilitasi itu betul-betul lepas dari ketergantungan. Dan dia masih bermanfaat sebagai manusia normal.

Terkait dengan konsep ideal tersebut, apa langkah-langkah Anda untuk mewujudkannya dan apa saja kendalanya?

Sebenarnya tidak ada kendalanya. Ini kan kita menyusun dengan kementerian-kementerian lain, termasuk Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), sudah kita bikin. Kendalanya itu ya hanya komitmen kita untuk melaksanakannya, untuk menyepakati ini, dan mempedomani standar baku ini, itu saja.

Mengenai anggaran, Anda pernah menyebutkan bahwa meski ada tambahan sebesar Rp400 miliar (dipangkas Rp65 miliar), jumlahnya belum ideal untuk menopang program BNN. Bisa jelaskan mengenai dukungan pembiayaan dan kaitannya dengan kesungguhan memerangi narkoba?

Bukan seperti itu. Anggaran ini dikaitkan dengan keterbatasam negara, ada penghematan gitu loh, oke berarti kita kan dikuarangi. Sebenarnya ada kebutuhan urgen, ada kebututhan yang betul-betul menjadi prioritas. Maka kita membutuhkan anggaran yang sangat prioritas kurang lebih Rp400 miliar.

Ini akan kita ajuhkan kepada pemerintah untuk supaya ini bisa dapat. Untuk kepentingan apa? untuk tugas masalah pencegahan serta pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan narkoba (P4GN). Itu untuk anggaran yang menjadi skala prioritas. Misalnya, saya harus membeli satu perangkat yang harus ada, tanpa perangkat itu tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik, maka itu menjadi sasaran prioritas. Nah, itu yang kami ajukan sebagai kebutuhan prioritas. Kalau yang kami butuhkan, itu banyak. Tapi kami tidak boleh membebani negara dengan kondisi keuangan yang terbatas.

Apakah ada kerja sama dengan pusat-pusat rehabilitasi yang diselenggarakan pihak swasta? Bagaimana BNN bersinergi dengan pihak swasta ini?

Ada. Swasta juga di bawah pembinaan dan pengawasan kita. Bahkan ada kegiatan kita yang diawaki oleh dua direktur, itu adalah penguatan lembaga ada lagi pengutan terhadap swasta terhadap rehabilitasi. Dikuatkan itu maksudnya diberikan suatu dukungan termasuk itu tadi, materi standarisasi.

Memang kita banyak harapan, kalau semua dari lembaga pemerintah, swasta, ataupun masyarakat berperan aktif, dalam menyelenggarakan rehabilitasi dengan tujuan menyelematkan generasi muda bangsa ini, maka dengan cepat kita bisa menyelamatkan korban dengan jumlah yang besar.

Bagaimana Anda memandang keterlibatan peran masyarakat dan pihak swasta yang turut berupaya memerangi narkoba seperti ikut membangun panti rehabilitasi?

Ya bagus. karena semua punya semangat untuk menyelamatkan. Siapaun dia, baik perorangan, maupun kelompok, swasta. Itu merupakan bukti wujud semangat untuk menyelamatkan korban-korban ini. Mereka berbuat untuk meyelamatkan bangsa.

Persoalannya sekarang, yang perlu kita benahi adalah standar (rehabilitasi) nya, biar semangat itu tidak sia-sia. Kalau hanya semangat terus kita lakukan asal-asalan maka hasilnya tidak ada, maka mubazir. Sekarang kita standarkan semua. Jadi jelas, semangatnya sama, standarnya sama, jadi efektif kan. Nah itu, maksud saya.

Anda pernah membongkar "borok" proses rehabilitasi pengguna narkotika di Tanah Air kita. Yaitu mengenai praktik-praktik "wani piro" yang cenderung mengarah pada pemerasan. Kenapa Anda membuka aib ini? Lebih jauh, apa yang menyebabkan muncul praktik seperti ini?

Begini, bukan di rehabilitasinya. Lembaga rehabilitasinya tidak salah, karena rehab ini memang belum standar. Tapi program rehabilitasi ini disalahgunakan karena kebijakan. Kebijakannya adalah ada keputusan bersama atau SEMA. SEMA itu terdiri dari jaksa agung, MA, dan Kepolisian dengan BNN, mengatakan kalau barang buktinya sekian-sekian itu, tidak bisa ditindak pidana.

Pecandu, pengguna, dan penyalahguna itu adalah korban. Maka wajib direhabilitasi. Itu yang rawan, karena tidak ada ketegasan, maka ini bisa dipermaikan oleh oknum di lapangan baik itu BNN atau Kepolisisan. Kalau ditangkap orang kan pengin direhab bukan dipidana, nah di situ lah jadi alasan rehabilitasi untuk pembenaran. Dan pasti di situ lah ada tawar menawar, “kamu mau dipidana atau direhabilitasi? 'Wani piro?’ Atau berani (bayar) berapa kamu?”.

Bukan di tempat rehabilitasi, balai rehab tidak pernah salah, karena dia punya niat baik untuk menyelamatkan korban. Yang salah di sini adalah oknum yang memanfaatkan balai rehab ini.

Apa upaya untuk mengatasinya?

Justru itu. Standarisasi. Setelah itu undang-undangnya direvisi, UU 35 Tahun 2009, nanti jelas di situ. Karena nanti diatur. Assesment itu penentu apakah orang ini dihukum, diganti dengan penyidikan, atau masuk rehabilitasi. Itu nanti ada tim assesment. Ini yang harus kita benahi, harus kita standarkan. Apa item-item yang harus diperiksa ketika orang mengikuti assesment. Kalau sekarang kan tidak seragam juga. Nah, itu yang saya bilang. Semua saya benahi untuk rehabilitasi, maupun pencegahan, dayamas, semua kita benahi, untuk yang lebih baik ke depan.

Dengan keterbatasan dana yang ada, apakah hasil atau output-nya khusus di rehabilitasi ini sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan?

Masalah keterbatasan dana, kita tidak bisa bicara ideal. Karena kembali kepada kondisi keuangan negara, kita harus paham juga. Kita tidak mau membebani rakyat juga. Sekarang dengan keterbatasan apapaun, termasuk dana, kita tidak boleh menyerah dengan itu. Karena kita bersinergi dengan siapapun, termasuk kepada masyarakat. Maka sekarang keberhasilan BNN dalam mengungkap jaringan itu salah satunya karena kita bersinergi. Ada Polri, dia punya dana untuk melakukan penindakan, pemberantasan narkoba, ada Bea Cukai fungsinya untuk pengawasam tentang penyelundupan barang-barang termasuk narkoba, ada pihak TNI yang bisa manfaatkan. Terus ada Kamtibmas untuk penyuluhan, ada PPATK yang bisa dimanfaatkan untuk penelusuran keuangan para jaringan ini atau para bandar.

Dengan kita bersinergi dengan sekian banyak lembaga ini, termasuk menteri perhubungan segala macem, kita akan bekerja maksimal walaupun dana kita terbatas. Jadi makanya kita tidak boleh menyerah dengan keterbatasan itu. Kita harus jalan. Toh, bisa disinergikan, karena ada kewenangan-kewenangan yang sama dan tujuannya sama.

BNN bekerja pada ranah pencegahan, penindakan, dan rehabilitasi. Kami sudah banyak mendengar apresiasi atas kegesitan Anda dalam pencegahan dan penindakan. Namun, kenapa gaung Anda di bidang rehabilitasi ini masih "sunyi"?

Karena rehabilitasi ini bukan dan tidak menjadi daya tarik pemberitaan. Itu saja. Anda lihat sendiri itu produknya. Ini kan langkah luar biasa memebuat standarisasi. Pembenahan-pembenahan di balai rehab itu sendiri, terus kita bagaimana meningkatkan pelayanannya, kualitasnya, kita lakukan terus ini. Termasuk kuantitas dan kemampuan SDM, kita lakukan. Tapi kan tidak menjadi kepentingan publis karena  masyarakat tidak begitu tertarik dengan program rehabilitasi. Tapi kalau berantas, semua pada lihat.

Mana yang menjadi prioritas Anda?

Semua kan penting. Karena  begini loh, siapapun dia, dia adalah warga negara kita, walaupun dia sengaja, walaupun dia sudah masuk jaringan, kan masih diberi peluang untuk dia sadar. dia kembali lagi Sebagai manusia normal.  Selain dia yang dipidana menerima hukuman karena putusan pengadilan, maka dia juga punya hak direhabilitasi. Sehingga ketika dia keluar dari hukuman tidak ketergantungan, bisa normal kembali, maka itu penyelamatannya.

 
Korban penyalagunaan narkoba mendapat stigma negatif saat terjun ke masyarakat, bagaimana pandangan Anda?

Maka itu gunanya ada pencegahan dan dayamas, BNN memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa narkoba bisa kena ke siapa saja, mau TNI, Polri, BNN, dokter, bahkan seorang ahli agama pun bisa kena. Jangan dianggap itu seolah-olah sebuah aib, enggak, belum tentu. Ada bermacam-macam latar belakang yang mendasari atau memengaruhi orang menyalahgunakan narkoba, ada lingkungan, pergaulan, pemahaman.
Ada pemahaman harus memakai narkoba karena dianggap modern, kalau bergaul harus pakai narkoba, itu pemahaman yang salah. Itu pola-pola pemikiran yang harus kita ubah, jadi jangan. Siapa pun kita, kalau kita masuk ke area itu cepat atau lambat akan terpengaruhi.  Ini yang harus kita suarakan kepada masyarakat, agar masyarakat paham betul, bahwa narkoba berbahaya dari sudut apapun.
 


(ADM)