Dolar Lecek untuk Amrozi

Wanda Indana    •    17 April 2017 13:39 WIB
Dolar Lecek untuk Amrozi
Terpidana mati kasus Bom Bali I, Amrozi Nurhasyim (ANTARA/Idhad Zakaria)

Metrotvnews.com, Jakarta: Malam itu, Sabtu 12 Oktober 2002, sekira pukul 23.05 WIT, ledakan hebat terjadi di jalan Legian, depan Kafe Sari Club dan Paddy’s Club, Kuta, Bali. Penduduk kota Denpasar yang berjarak 7,8 kilometer dari tempat kejadian sontak terkejut dan terbangun dari tidur pulasnya.



Tampak dari kejauhan, kepulan asap di lokasi ledakan membentuk awan panas menyerupai jamur menjulang ke langit. Total ada tiga ledakan. Ledakan itu berasal dari bom berdaya ledak tinggi hingga meninggalkan sebuah lubang besar berdiameter 5x4 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Dampak kerusakan pun mencapai radius satu kilometer dari pusat ledakan. Total korban tewas mencapai 202 orang. Sebanyak 164 orang di antaranya warga negara asing dari 24 negara dan 38 lainnya berasal dari Indonesia. Sementara itu, sebanyak 209 orang mengalami luka-luka. Kengerian malam itu dikenang sebagai peristiwa Bom Bali I.

Peristiwa Bom Bali I menjadi serangan terorisme paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Peristiwa itu pula menjadi awal serangkaian aksi terorisme yang terjadi selanjutnya. Pasca-ledakan, keamanan Indonesia menjadi buah bibir dunia internasional.

Tim Investigasi gabungan terdiri dari Kepolisian RI dan Australian Federal Police (AFP) dibentuk sepekan pasacaledakan. Gelar perkara segera dilakukan. Hingga 28 Oktober 2002, tim investigasi belum mendapat bukti kuat. Esok harinya, Presiden RI saat itu Megawati Soekarnoputri memberi tenggat waktu sampai akhir November untuk menuntaskan kasus yang mencoreng citra Indonesia.

Hasil tim investigasi berbuah hasil. Pada 30 Oktober, polisi mendapatkan tiga sketsa wajah tersangka. Nama dan identitas pelaku sudah dikantongi. Keberadaan para tersangka juga sudah diketahui.

Pada 5 November, polisi menangkap Amrozi bin Nurhasyim, salah satu pelaku pengeboman. Amrozi dibekuk di rumahnya di di Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur. Dari mulut Amrozi, sebagian pelaku yang terlibat berhasil ditangkap.
 
Bagaimana Amrozi bisa tertangkap dalam waktu yang singkat? Cukup mencengangkan, penangkapan Amrozi bukan dari hasil forensik di lokasi ledakan. Amrozi cs ditangkap berkat hasil temuan transaksi di sebuah tempat bisnis jasa penukaran uang (money changer) ilegal.


ILUSTRASI: Dolar AS dan Rupiah.

Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Ferdinand J. Andi Lolo menjelaskan, setiap aksi terorisme membutuhkan dana untuk pembelian bahan peledak dan kebutuhan pendukung lainnya. Menengok jenis bom yang digunakan pada peristiwa Bom Bali I membutuhkan biaya lumayan mahal karena berjenis HE (high explosion). Menurut Andi, metode penelusuran sumber dana menjadi cara ampuh dalam mengendus jejak pelaku kejahatan terorisme.

Polisi dan AFP berhasil menemukan transaksi mencurigakan di sebuah money changer ilegal milik perorangan. Dari situ, petugas money changer memberikan keterangan ciri-ciri orang yang datang saat menukarkan dolar Amerika Serikat tersebut. Berkat keterangan itu, sketsa wajah pelaku berhasil dilukis.

Duit dolar AS dari money changer dibawa dan diperiksa. Diketahui, bentuk dolar yang ditukarkan dalam kondisi lecek, kusam, dan terlipat. Setelah diperiksa, dolar tersebut berasal dari Afghanistan. Fakta itu diketahui dari kode registrasi yang tertera di uang kertas dolar.

“Distribusi dolar ke sejumlah negara memiliki nomor registrasi tersendiri,” jelas Andi kepada Metrotvnews.com di Depok, Jawa Barat, Rabu 12 April 2017.


Dari kiri ke kanan: Ali Ghufron, Imam Samudra, dan Amrozi (AP Photo)

Muncul dugaan, Ali Ghufron alias Mukhlas memberi perintah kepada Amrozi, Ali Imron, dan atau Idris alias Johni Hendrawan untuk mencuci uang di money changer. Sebab, sketsa wajah ketiganya sempat dipublikasikan polisi setelah 12 hari pascaledakan. Awalnya, penukaran dolar sempat ditolak oleh money changer berizin karena kondisi uang yang lusuh.

Metode pencucian uang macam ini biasa dilakukan oleh pelaku terorisme. Bahkan, modus pendanaan terorisme lewat money changer makin marak setelah peristiwa Bom Bali I.

Hasil penyelidikan menunjukkan, duit dolar AS itu dibawa Mukhlas usai menimbah ilmu di Afghanistan. Mukhlas tinggal di Afghanistan selama enam tahun, dari 1984 hingga 1990. Saat hendak kembali ke Tanah Air, Mukhlas diberi sejumlah uang oleh Osama bin Laden pimpinan jaringan teroris Al Qaeda untuk menjalankan aksi jihad di Asia,terutama di Indonesia.

Mukhlas salah satu terpidana yang dijatuhi hukuman mati. Dua pelaku lainnya yang sudah dieksekusi mati adalah Imam Samudra alias Abdul Aziz dan Amrozi. Ketiganya disebut otak di balik serangan teror Bom Bali I.

Tak jelas Mukhlas pulang ke Indonesia melalui jalur udara atau laut. Yang jelas, Mukhlas lolos pemeriksaan. Anjing pelacak di setiap pelabuhan dan bandara dan pintu-pintu perbatasan mampu mencium bau narkoba dan senjata api. Tapi, anjing pelacak tidak mampu mencium bau uang.

Apalagi, pada saat itu belum ada aturan Cross Border Cash Carrying (CBCC) atau Laporan Pembawaan Uang Tunai (LPUT) setiap melewati wilayah perbatasan. Aturan CBCC baru diterapkan pada 2014 setelah serangkaian aksi terorisme marak terjadi. Saat ini, setiap orang harus melakukan wajib lapor jika membawa uang setara USD10 ribu jika ingin melintasi batas negara.

Selain untuk mengantisipasi transaksi pencucian uang lewat money changer untuk pendanaan terorisme, kebijakan CBCC juga untuk menghambat pencucian uang hasil dari korupsi dan suap. CBCC diberlakukan untuk menggantikan sistem pengawasan money changer yang lemah.

Sebelum BI mengeluarkan PBI Nomor 18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank, pedagang money changer tidak berkewajiban menanyakan asal usul uang yang ditukarkan pelanggan. Sebab, money changer tidak menerapkan prinsip Know Your Customer (KYC) seperti pada bank umum.
 


(ADM)