Memandang Trotoar sebagai Identitas Peradaban Kota

Wanda Indana    •    25 Agustus 2017 21:28 WIB
Memandang Trotoar sebagai Identitas Peradaban Kota
Pedestrian di Jepang (AFP/Toshifumi Kitamura)

Metrotvnews.com, Jakarta: Trotoar adalah etalase kehidupan penduduk kota. Peradaban dan kebudayaan sebuah kota bisa dilihat dari kondisi trotoarnya.
 
Sejak tiga dekade silam, kota-kota di negara maju mulai menerapkan konsep kota yang ramah lingkungan. Masing-masing seolah berlomba mengembangkan kawasan perkotaan yang sehat dan nyaman dengan fasilitas pedestrian yang memadai.
 
Trotoar dianggap penting di negara maju. Karena, sarana ini menunjukkan identitas sebuah kota. Kenyataan di Eropa, berjalan kaki merupakan warisan budaya yang sampai sekarang tetap lestari.
 
Berbeda dengan perkembangan di Eropa, Jakarta justru tumbuh sebagai kota motoris. Yakni, kota yang mengandalkan mesin sebagai tenaga penggerak aktivitas penduduk kota.
 
Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, menjelaskan bahwa ciri-ciri kota motoris bisa dilihat dari banyaknya kendaraan pribadi yang mendominasi jalanan serta rendahnya kesadaran berjalan kaki di trotoar.
 
“Kalau kota motoris, warganya naik motor atau mobil sampai ke tempat tujuannya, tiba langsung masuk kantor. Kota motoris memang memanjakan warganya,” ujar Nirwono kepada Metrotvnews.com, Jumat 11 Agustus 2011.
 
Kondisi ini kontraproduktif dengan situasi di Eropa. Penduduk kota Eropa rajin berjalan kaki dengan fasilitas trotoar yang memadai. Sudah begitu, didukung sistem transportasi yang mapan pula. Pedestrian menjadi aktor yang diperhitungan dalam perencanaan perkotaan.
 
“Kalau di sini, berjalan kaki menjadi tidak penting, pejalan kaki tidak dianggap,” kata Nirwono.
 
Warga yang tinggal di kota motoris memiliki pandangan bahwa orang yang berjalan kaki dikaitkan dengan orang yang susah, atau masyarakat kelas bawah. Sementara itu, orang yang membawa mobil dianggap memiliki strata sosial yang lebih tinggi, digolongkan masyarakat kelas atas.
 
“Itu image yang dibangun, bahwa orang yang berjalan kaki adalah orang susah. Akibat pemahaman yang salah tadi, maka akan sulit menumbuhkan budaya berjalan kaki. Padahal, di Eropa orang yang berjalan kaki juga sanggup membeli kendaraan pribadi, tetapi mereka memilih untuk berjalan kaki,” ungkap dia.
 
Ia menambahkan, Singapura dan Tokyo merupakan potret kota di Asia yang bisa ditiru dalam upaya penyediaan fasilitas trotoar. Kedua kota itu mengandalkan ruang pedestrian yang nyaman sebagai daya tarik pariwisata.
 

FOTO: Seorang promotor berkostum simbol mata uang dolar menyambut orang-orang yang lewat di sepanjang kawasan perbelanjaan Orchard Road di Singapura. (AFP/Roslan Rahman
)



Ikon wisata belanja
 
Singapura memiliki jalan terkenal di dunia, yakni Orchad Road. Jalan sepanjang sepanjang 2,2 kilometer itu merupakan tempat pemuas dahaga para pecinta belanja.
 
Orchad Road tak memiliki ruas jalan yang lebar. Tapi yang membikin menarik, Orchad Road memiliki jalur pedestrian yang luas di sisi kiri dan kanan yang membuat pengunjung betah menjelajah kota di ujung Selat Malaka itu.
 
Kini, Orchad Road menjadi lokasi wisata belanja populer di dunia. Para pelancong Singapura dari berbagai negara akan dimanjakan dengan pusat perbelanjaan yang menjajakan barang-barang ternama, restoran kelas atas, kerajinan etnik, galeri seni, dan tongkrongan yang santai untuk menikmati denyut peradaban kota.
 
Padahal pada sekitar satu setengah abad yang lalu, kondisi Orchard Road hanyalah sebuah jalan kecil dengan perkebunan buah, perkebunan pala, dan kebun merica. Baru pada kurun tahun 1850-an daerah ini mulai berubah menjadi pusat jajanan kuliner seiring ramainya perdagangan di Selat Malaka.
 
Mulai tahun 1903, toko-toko di Orchard Road mulai bermunculan. Ketika Singapura resmi menjadi negara otonom yang lepas dari Malaysia, pemerintah di Negeri Singa pun membangun kawasan itu sebagai pusat ekonomi dengan mengandalkan trotoar yang nyaman untuk menjadi daya tarik bagi turis. Dari sinilah reputasi Orchard Road sebagai surga belanja dan pusat hiburan berkembang pesat.
FOTO: Pejalan kaki menyeberang jalan di depan stasiun Shibuya di Tokyo. (AFP/Yoshikazu Tsuno
)

Persimpangan hilir mudik
 
Adapun Jepang memiliki jalur pedestrian yang nyaman dan aman. Shibuya, salah satu distrik di Tokyo, menjadi terkenal dengan budaya orang Jepang yang gemar berjalan kaki.
 
Persimpangan Shibuya alias Shibuya Cross merupakan persimpangan paling ramai di dunia. Setiap hari diperkirakan ada dua juta orang berjalan kaki menyeberangi pesimpangan yang berada di jantung kota Tokyo itu.
 
Letak Shibuya Cross yang berada di dekat stasiun Shibuya membuat kawasan itu selalu dipadati pejalan kaki. Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, ribuan pejalan kaki berkerumunan di belakang garis zebra cross. Pandangan ribuan pejalan kaki ke arah yang sama, yakni lampu lalu lintas yang berganti warna setiap 90 detik sekali.
 
Pemandangan menakjubkan mulai terlihat ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Seketika itu juga, ribuan orang mulai menyeberang dari segalah arah.
Infograsik: Fakta Persimpangan Shibuya
 
Kerumunan ribuan orang yang setiap hari hilir mudik di persimpangan itu menjadi daya tarik tersendiri. Tak lengkap rasanya jika wisatawan yang datang ke Jepang tidak menikmati sensasi berjalan kaki di Persimpangan Shibuya.
 
Saking ramainya aktivitas pejalan kaki di Persimpangan Shibuya, tempat itu kemudian populer jadi salah satu landmark pariwisata Jepang. Apalagi, distrik Shibuya juga dipadati jajaran gedung pusat perbelanjaan dan restoran.
 
Ketika malam, distrik Shibuya lebih atraktif dengan lampu neon warna-warni yang terpasang di gedung-gedung yang berada di persimpangan itu. Tak heran, papan iklan dari berbagai merk lokal dan internasional menjamur di kawasan itu.
 
Dulunya, Persimpangan Shibuya adalah sebuah desa yang didirikan pada tahun 1889 oleh penggabungan desa-desa di Kami-Shibuya, Naka-Shibuya dan Shimo-Shibuya. Shibuya mengalami pembangunan pesat dan menjadi kota modern pada tahun 1909.
 
Pembukaan Jalur kereta api Tokyu Toyoko pada 1932 menjadikan Shibuya sebagai terminal utama antara Tokyo dan Yokohama. Seiring waktu, Shibuya mengalami perluasan hingga kota-kota tetangga seperti Sendagaya dan Yoyohata. Shibuya menjadi bagian Tokyo pada 15 Maret 1947. Kini, Shibuya adalah salah satu distrik khusus Tokyo Metropolis.
 
Salah satu cerita paling terkenal tentang Shibuya adalah kisah Hachiko, seekor anjing yang menunggu mendiang tuannya di Stasiun Shibuya setiap hari dari tahun 1923 sampai 1935. Hachiko akhirnya menjadi selebriti nasional untuk kesetiaannya. Sebuah patung Hachiko dibangun di sebelah stasiun, dan alun-alun Hachiko sekitarnya sekarang menjadi titik temu yang paling populer di daerah ini.
 

Pembatasan
 
Menurut Nirwono, Jakarta bisa menjadi Singapura dan Tokyo jika mau membatasi pergerakan kendaraan pribadi. Tak kalah penting, Pemerintah Kota wajib memperhitungkan pejalan kaki sebagai bagian dari subyek dari perencanaan kota.
 
“Trortoar adalah ruh sebuah kota, Untuk bisa merasakan langsung suasana kota itu bisa dialami kalau kita berjalan kakai. Jadi apakah kota itu panas, sejuk, bersih, kotor, bau, wangi, bisa ketahuan ketika berjalan kaki,” kata Nirwono.
 
Di Perancis, trotoar dianggap sebagai puncak peradaban kota. Di sana, hak pejalan kaki menjadi nomor satu. Sebab itu, Paris dijuluki sebagai kota paling romantis di dunia karena sanggup menyediakan suasana kota melalui penyediaan trotoar yang nyaman dan aman. Kota Paris tidak akan asyik jika dinikmati dengan mengendarai mobil.
 
“Menikmati pemandangan Paris tidak akan enak kalau menggunakan kendaraan,” tutur Nirwono.
Menurut Nirwono, sebenarnya Indonesia memiliki budaya berjalan kaki pada masa kolonial Belanda. Kata dia, Batavia dan kota-kota yang dibangun pemerintah Hindia Belanda memiliki trotoar dengan luas enam sampai tujuh meter. Penduduk kota masih banyak yang berjalan kaki.
 
Seiring berkembanganya industri otomotif di Jepang, kendaran mesin mulai membanjiri kota-kota di Indonesia. Budaya berjalan kaki semakin terkikis. Kini, sebagian besar kota-kota di Indonesia tak memiliki trotoar yang ramah bagi pejalan kaki.
 
Karena itu, pembatsan pergerakan kendaraan pribadi harus dilakukan. Selain itu, penertiban trotoar juga harus konsisten. Diberlakukannya kebijakan Bulan Tertib Trotoar di Jakarta oleh Pemprov DKI Jakarta diharapkan menjadi semangat awal dalam mencipatakan trotoar yang aman dan nyaman.
 
“Paling tidak bisa dijadikan momentum untuk penegakkan aturan, membangun budaya berjalan kakai, dan menyediakan infrastruktur berkelanjutan untuk semua,” pungkas Nirwono.


FOTO: Suasana kemacetan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Banyak pedagang yang menggelar dagangan di trotoar. (MI/Susanto)


(ADM)