"Jangan Sebut Kami Preman"

Wanda Indana    •    15 Mei 2017 13:37 WIB
Kendaraan melintasi gate parkir di RTH RPTRA Kalijodo, Tambora, Jakarta. (MI/Galih Pradipta).

Metrotvnews.com, Jakarta: Saat perbincangan membahas soal isu mengenai parkir liar dan preman kembali berkeliaran di Kalijodo, mata Jamaluddin mendadak nanar. Raut wajahnya pun menegang dan memerah. Nada suaranya juga tiba-tiba meninggi.



“Saya merasa kecewa! Saya dizalimi!,” lantang Jamaluddin alias Jamal, kepada Metrotvnews.com di Taman Kalijodo, Tambora, Jakarta Barat, Kamis 11 Mei 2017. Siang itu, emosi Jamal yang dikenal sebagai Koordinator Keamanan Taman Kalijodo, seakan meledak. Jamal jengkel dituduh sebagai kepala preman yang mengusai Kalijodo. Jamal tertegun, usahanya membikin Taman Kalijodo seaman dan senyaman seperti sekarang, justru dianggap benalu. Malah, dia dicap bandit.

Jamal kian meringis saat Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko menyebut pungutan liar yang dilakukan preman di taman Kalijodo adalah ulah anak buah Jamal. Jamal bilang, kabar itu sama sekali tak betul.

“Seharusnya Dishub membantu klarifikasi pemberitaan hoax itu, tidak benar itu,” cetus dia.

Sebelumnya, beberapa pekan lalu, masyarakat dihebohkan dengan pemberitaaan tentang munculnya preman yang kembali mengusai Kalijodo. Kelakuan preman dianggap resek, lantaran menarik pungutan liar dari para pengunjung Taman Kalijodo.

Disebutkan bahwa para preman yang jumlahnya sekira 20 orang menguasai lima Terminal Parkir Elektronik (TPE) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo. Mereka juga meminta tarif parkir Rp3.000 hingga Rp5.000 untuk sepeda motor sekali parkir. Sementara itu, untuk mobil dikenakan Rp10 ribu. Duit parkir itu disetor ke Jamal.

Tak hanya itu, lima mesin parkir TPE juga dikabarkan raib. Sampai-sampai, dugaan menjamurnya premanisme di taman Kalijodo dikaitkan dengan kekalahan gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta.

Menurut warga yang ditemui Metrotvnews.com, kabar itu tidak benar. Ia bahkan membantah isu tentang alat PTE raib dan preman kembali masuk Kalijodo.

Jamal pun turut meluruskan. Menurut dia, ada 11 anak buahnya yang direkrut menjadi juru parkir dengan menjaga mesin TPE. Perekrutan juru parkir pun diketahui Kepala Unit Pengelola (UP) Perparkiran Dishubtrans DKI Jakarta Theodore Sianturi. Dengan kata lain, mereka memiliki legalitas memungut uang parkir di taman Kalijodo.

“Anak-anak sempat direkrut atas rekomendasi saya, ada 11 orang sebagai jasa untuk pelayanan mesin TPE,” kata dia.

Kesebelas juru parkir itu juga dijanjikan oleh Pemda mendapat gaji sebesar UMP DKI, Rp3,3 juta. Apes, semenjak bertugas mulai Februari higga pertengahan April, anak-anak buah Jamal belum mendapat gaji. “Satu peser pun gaji mereka tidak terima dari pemerintah, tapi saya yang bayar gaji mereka,” kata Jamal.

Bukan cuma itu, Jamal mengaku mengisi saldo mesin TPE. Saban hari, Jamal merogoh kocek tak kurang dari Rp200 ribu untuk mengisi saldo lima mesin TPE. Tapi, Jamal tak mau meminta uang yang sudah dikeluarkannya.
“Dikali lima saja sudah satu juta. Bayangkan, dikali berapa bulan dari Februari sampai April. Berapa juta uang saya masuk ke situ. Tapi saya tidak pernah meminta dan menuntut UP Perparkiran untuk mengembalikan uang saya, atau meminta gaji anak buah saya,” beber Jamal.

Jamal tak mau ribut. Walaupun dia kecewa dituduh memungut uang parkir. Kata dia, pernyataan Sigit sangat menyudutkan Jamal. “Kalau ada parkir dan pungutan liar, berarti UP Perparkiran  juga liar lah, karena mereka menunjuk anak buah saya menjadi juru parkir,” imbuh dia.

Tak ada preman

Bukan dapat untung, malah buntung. Begitu kira-kira yang dirasakan Jamal. Betapa tidak, Jamal mengeluarkan Rp5 juta sampai Rp6 juta per hari  untuk membiaya operasional Kalijodo, seperti untuk pengamanan, kebersihan dan parkir. Dihitung-hitung, selama lima bulan mulai dari proses pembangunan hingga peresmian taman Kalijodo, Jamal sudah mengeluarkan duit Rp840 juta.

Menurut Jamal, UP Perperakiran yang mendapat keuntungan dari situasi ini. Pertama, UP Perparkiraan tidak membayar gaji 11 anak buahnya. Kedua, tak mengisi saldo lima mesin TPE. “Dua keuntungan buat UPP Parkir,” ucap Jamal.

Jamal menjamin, tak ada preman di Kalijodo. Dia bilang, tidak ada pengunjung yang kehilangan helm, apalagi motor, seperti pemberitaan media. Dia menantang pihak tertentu untuk membuktikan adanya aksi premanisme di Kalijodo.

“Silakan cek di pospol atau polres di sini, apakah ada orang datang bikin laporan kalau di sini ada kehilangan, pencurian, perampokan? Tidak ada! Jadi harusnya Dishub ini memberikan statement yang baik, membantu. Ini malah seolah-olah menyudutkan kita yang sudah membantu pemerintah menjaga kemanan dan kenyamanan pengunjung yang datang  ke sini,” ujar Jamal.

Jamal ingin publik mengetahui kondisi sebenarnya. Kata dia, taman Kalijodo banyak dikunjungi masyarakat setiap hari. Jumlah pengunjung membeludak pada Sabtu dan Minggu. Tak hanya warga Jakarta, taman Kalijodo juga sering didatangi warga dari luar Jakarta, bahkan dari luar pulau Jawa.

Mayoritas warga datang ke Kalijodo membawa kendaraan pribadi. Kalau tak ada yang mengatur dan menjaga kendaraan warga, maka Kalijodo akan semrawut. Karena itu, Jamal menugaskan anak buahnya untuk menjaga dan mengatur parkir kendaraan pengunjung. Tujuannya, ya untuk ketertiban umum.

“Kalau Sabtu-Minggu, itu berjubel. Kalau tidak ada yang atur, tidak ada yang kendalikan, kayak apa? Tapi saya mampu dengan anak-anak saya,” ujar Jamal.


Pengendara mengambil karcis saat melintasi parkir gate di RPTRA Kalijodo. (MI/Arya Manggala)

Parkir murah

Kabar munculnya premanisme di Kalijodo sampai ke telinga Ahok. Bekas Bupati Belitung Timur itu memerintahkan Dishub DKI untuk menerapkan sistem palang parkir otomatis atau gate. Ada tiga alasan sistem parkir gate diberlakukan; menghindari kebocoran retribusi, untuk keamanan dan kenyamanan, dan memastikan tarif sekali bayar.

Senin 9 Mei, sistem parkir gate mulai diberlakukan. Tarif parkir taman Kalijodo juga ikut berubah. Tarif parkir untuk sepeda motor dikenakan Rp2000 per jam, berlaku progresif. Satu jam berikutnya dikenakan Rp1.000. Untuk mobil dikenakan tarif Rp4.000 per jam, juga berlaku progresif. Satu jam berikutnya dikenakan tarif Rp2.000.

Tarif progresif yang diberlakukan Dishub DKI di taman Kalijodo justru disesalkan. Tak sedikit masyarakat yang mengeluh tarif parkir di Taman Kalijodo.

Anton, 33, salah seorang pengunjung taman Kalijodo mengaku was-was. Sebab, dia takut berlama-lama menikmati suasana taman Kalijodo. Semakin lama berada di Taman Kalijodo, semakin dalam pula dia merogoh kocek. Ini membuatnya tak nyaman.

“Jadi khawatir kalau lama-lama di sini. Biasanya kalau datang ke sini dari pagi, tidak mikir mau balik jam berapa, karena bayar parkirnya flat Rp3.000,” ujar Anton.

Shanti, 26, warga Kebon Jeruk juga mengungkapkan hal serupa. Kata Shanti, tak ada perbedaan antara parkir manual dengan parkir gate. Sistem parkir gate justru lebih mahal.

“Pengunjung kan juga dari kalangan menengah bawah. Kalau kemarin-kemarin, kita tinggal bayar ke tukang parkir bayar sekali sudah. Kalau sekarang sedikit lebih mahal sih,” katanya.

Kendatati demikian, Shanti mengaku parkir di taman Kalijodo lebih rapi, tertib, dan transparan. Pengendara yang masuk kawasan taman akan mendapat karcis dan mendapat bukti pembayaran parkir setelah keluar taman.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah  mengungkapkan, tak ada pungutan liar di taman Kalijodo. Andri bilang, sistem parkir meter tidak diefektifkan para juru parkir. Banyak masyarakat yang tidak membawa kartu uang elektronik (e-money) untuk membayar parkir.

“Tidak diefektifkan, bukan tidak efektif. Juru parkir kita beri kartu merchant, jadi kalau parkir kita bisa minta struknya,” jelas Andri saat ditemui Metrotvnews.com di Kantor Dishub DKI Jakarta Jalan Cideng Barat Dalam, Cideng, gambir, Jakarta Pusat, Jumat 5 Mei 2017.

Andri menambahkan, pihaknya menyediakan lahan parkir di Jalan Kepanduan I, tepat di bawah jalan layang tol dalam Pluit-Tomang (Jakarta Inner Ring Road). Tarif parkir di sana dikenakan Rp4000, berlaku flat.

“Kalau masyarakat mau murah, parkir ke kolong, cuma jalan sebentar ke Taman Kalijodo,” tandas Andri.


Petugas parkir mengatur kendaraan bermotor di kawasan RPTRA dan RTH Kalijodo, Jakarta. (ANTARA/Aprillio Akbar).


(ADM)