Geliat Narkotika dan Dalih Stamina

Lis Pratiwi    •    22 Desember 2017 18:29 WIB
Geliat Narkotika dan Dalih Stamina
Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Jerat narkotika dan obat berbahaya (narkoba) kian menguat di Indonesia. Dulu, barang haram itu terkait erat dengan kehidupan malam. Kini, tersebar mulai dari perkampungan hingga tempat belajar.
 
Penggunanya tidak lagi eksekutif muda yang tinggal di kota. Para pegawai kantoran, dokter, pengacara, kuli bangunan, hingga buruh perkebunan pun mudah menjamahnya.
 

Dalih narkoba berganti. Dulu gaya hidup, sekarang soal kebutuhan akan stamina.


Tahun 2014, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap sebanyak 70 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah pekerja di usia produktif. Menyamarkan narkoba menjadi suplemen kesehatan pun digunakan sebagai modus operandi penyebaran barang haram ini.
 
"Orang-orang cenderung bekerja overtime dalam rangka kebutuhan hidup, mereka membutuhkan suplemen. Suplemen ini lah yang dijadikan modus bagi pengedar," ujar Kepala Humas BNN kala itu, Kombes Sumirat Dwiyanto.
 
Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP DKI Jakarta Khrisna Anggara mengatakan, hingga kini mayoritas profesi pengguna narkoba tidak banyak berubah. Kalangan pekerja di sektor pertambangan, perkebunan, dan transportasi memiliki kerentanan sangat tinggi.
 
“Jadi pekerja itu bukan lagi seperti 1990-an atau 2000 awal, identik kerja di kota besar yang sering hang-out ke klub malam. Banyak juga pekerja perkebunan di Sumatera yang jauh dari kota,” kata Khrisna saat kami temui di Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa 18 Desember 2017.
 

Pada 2011, BNN mencatat terdapat 3,8 juta pengguna narkotika di Indonesia. Angka ini mengalami fluktuasi menjadi 5 juta, 4,3 juta, 4 juta, dan 5,1 juta - selama 2012 hingga 2015.


Akibat narkotika, diperkirakan 40 hingga 50 orang meninggal dunia setiap hari, dan kerugian sebesar Rp72 triliun setiap tahunnya. Sementara itu, selama periode Januari hingga Juni 2017, terjadi 423 kasus narkotika dengan 597 tersangka.
 
Barang bukti yang berhasil diamankan; sabu sebanyak 236.306,80 gram, ekstasi 108.590,25 butir, ganja 61.363,08 gram, heroin 4,60 gram, kokain 3,49 gram, dan ketamine 93,23 gram.
 
Troels Vester, koordinator lembaga PBB untuk kejahatan narkoba (United Nations Office on Drugs and Crime/UNODC), menilai, Indonesia adalah salah satu jalur utama dalam perdagangan narkotika internasional, juga menjadi pasar narkoba yang besar.



Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP DKI Jakarta Khrisna Anggara. (Medcom/Lis)
Sabu paling diminati
 
BNN juga mencatat beberapa jenis narkotika yang paling diminati di Indonesia, di antaranya adalah sabu, dengan kebutuhan 219 juta gram per tahun. Kemudian disusul ganja dengan 158 juta gram per tahun, dan ekstasi dengan 14 juta gram per tahun.
 
Krisna mengatakan, karena tingginya permintaan, narkotika jenis stimulan seperti sabu dan ekstasi paling banyak beredar.
 
“Umumnya itu, fungsinya untuk meningkatkan stamina, tenaga, energi, walaupun semua itu sifatnya semu,” sambung Khrisna.
 
Ambil misal dalam kasus tertangkapnya seorang pilot Lion Air berinisial MS di sebuah hotel di Kupang, 4 Desember 2017 lalu. Dalam kasus tersebut, polisi berhasil mengamankan barang bukti sabu seberat 0,3 gram.
 
Selain MS, sepanjang 2011 hingga 2016, empat pilot dan tiga kru kabin Lion Air juga diamankan BNN dan kepolisian karena penyalahgunaan narkoba. Dalam kejadian tersebut, mayoritas pengguna memiliki narkotika jenis sabu. 
 

Alasan para pilot yang tertangkap nyaris senada; soal stamina dan tekanan pekerjaan.


Khrisna pun menyayangkan tindakan para oknum pilot yang memiliki tanggung jawab profesi besar kepada masyarakat tersebut. Selain nyawa penumpang, nama baik maskapai turut menjadi taruhannya.
 
Dia mengatakan beberapa maskapai sudah bekerja sama dengan BNN ihwal pemberantasan narkotika di kalangan penerbang.
 
“Kita adakan MoU sebagai upaya bersama meminimalisir peredaran gelap narkoba ini, khususnya di lingkungan mereka (penerbang), karena memang ini kan taruhannya sangat besar,” imbuhnya.



(Dari kiri) Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Pilot Indonesia (IPI) Capt. Ari Safari, Direktur Advokasi BNN Yunis Farida Oktoris, Ketua IPI Dewa Wiwekananda, Direktur Air Traffic Services IPI Capt. Rizki, Kepala Kasi Ketenagakerjaan Direktorat Advokasi BNN Dewi Ayu Iriani. IPI dan BNN menyatakan kerjasama dalam pemberantasan narkoba di lingkungan penerbang, Juni 2016. (ANTARA)
 
 
Aturan jam terbang
 
“Tidak. Itu hanya alasannya saja (kalau pakai narkoba karena jam kerja padat),” kata Direktur AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan saat ditemui Medcom.id di Jalan MH Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat, Senin 17 Desember 2017.
 
Merujuk aturan organisasi penerbangan sipil internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO), maksimal jam terbang seorang pilot adalah; 9 jam dalam sehari, 30 jam dalam seminggu, 110 jam dalam satu bulan, dan 1.050 jam dalam satu tahun.
 
Ketentuan itu tentu sudah mempertimbangkan aspek daya tahan tubuh. Aturan itu juga ada dalam Civil Aviation Safety Regulations (CASR) yang digunakan Kementerian Perhubungan.



Direktur AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan. (Medcom/Lis)
 

Dendy berpendapat waktu tersebut masih dalam batas wajar. Dia mencontohkan, bisa saja dalam sehari pilot hanya mendapat jadwal terbang selama 2 jam dan di hari lain mendapat 7 jam. Pengaturan ini pun tidak melebihi ketentuan.
 
“Coba seminggu itu 168 jam, ini hanya 30 jam kita batasin (jam terbang). Kalau dibilang (jam terbang) tinggi, enggak. Sehari maksimal 9 jam, memang setiap hari terbang? Tidak. Mereka banyak waktu untuk recover,” jelas Dendy.
 

Umumnya, pesawat dikendalikan oleh satu kapten pilot dan satu kopilot (two man operation). Untuk penerbangan jarak jauh yang membutuhkan waktu tempuh lebih dari 9 jam, maskapai akan memberikan awak tambahan.


Alasan stamina dalam penggunaan narkoba di kalangan penerbang juga dibantah oleh Ketua Ikatan Pilot Indonesia (IPI) Bambang Adisurya Angkasa.
 
Saat dihubungi, Rabu, 20 Desember 2017, Bambang mengatakan, seorang pilot seharusnya sadar dengan konsekuensi pekerjaannya yang menuntut kesehatan prima.
 
Tuntutan tersebut dimulai sejak seleksi, pendidikan, hingga dunia pekerjaan. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang pilot mengunakan alkohol atau narkoba untuk menambah stamina. Apalagi berdalih tekanan profesi.
 
“Nah kalau sudah begini (pilot menggunakan narkotika) namanya oknum,” tegasnya.
 


(COK)