Mimpi Silat Masuk Olimpiade

Surya Perkasa    •    08 Maret 2016 00:12 WIB
Mimpi Silat Masuk Olimpiade
Sejumlah seniman Betawi menunjukkan kesenian pencak silat Betawi di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. (foto: Antara/Rivan Awal Lingga)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pencak silat, beladiri yang lahir dan berkembang pesat di Indonesia hingga Malaysia. Gaung nama silat dan perguruannya di negeri sendiri pun terdengar kalah dibandingkan beladiri impor seperti karate, taekwondo, dan judo.
 
Sangat disayangkan karena salah satu warisan budaya Indonesia justru tidak terlalu diperhatikan. Kalaupun diperhatikan, silat juga tidak mendapat perhatian yang jauh lebih baik ketimbang beladiri lain nan telah resmi masuk olimpiade.
 
Pengakuan Sekretaris Jenderal Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Erizal Chaniago menunjukkan beladiri asli Indonesia ini lebih lama berjalan sendiri ketimbang dituntun dan didorong pemerintah. Berbeda dengan beladiri dari negara lain yang disponsori dengan getol oleh negaranya.
 
“Beberapa negara, pemerintah itu berperan aktif. Yom Koo Do misalnya. mereka memperkenalkan secara masif dengan promosi ke daerah-daerah. Bahkan hingga tingkat Kabupaten dan Kota,” kata Erizal saat berbincang dengan metrotvnews.com, Kamis (3/3/2016).
 
Upaya organisasi yang berdiri sejak 18 Mei 1948 tersebut untuk mempromosikan silat ke negera seberang bahkan baru didukung secara intensif oleh Menteri Pemuda dan Olahraga pada dua periode belakangan. Itu pun baru berjalan dengan skala besar untuk dua negara.
 
Pertama pada era Menpora Adhyaksa Dault, IPSI dibantu untuk mempromosikan silat ke Afrika Selatan. Kedua pada era Menpora Imam Nachrowi dengan membantu IPSI untuk mengirimkan pelatih silat ke Iran.
 
“Ini bahkan baru. Silat selama ini tidak diperhatikan dengan baik,” kata pria yang akrab disapa Ical ini.
 
Miris bila mengingat silat merupakan bagian dari budaya asli Indonesia. Ditambah lagi silat Indonesia masih merajai kompetisi-kompetisi Internasional. Di ajang South East Asia (SEA) Games, dominasi Indonesia masih sulit dipatahkan.
 
 Pada SEA Games 2015 contohnya, Indonesia hanya diungguli Vietnam karena selisih perolehan perak. Tapi Indonesia masih menang dari segi total perolehan medali. Sementara itu Malaysia dan Thailand terpaut cukup jauh.
 
Bahkan Indonesia berjaya dalam cabang olahraga pencak silat di SEA Games 2011 dengan perolehan emas terbanyak. Walaupun kalah dari Vietnam dari segi total perolehan medali.
 
 
 
“Kita dapat emas sampai empat. Bahkan di SEA Games 2011 sampai sembilan emas. Tidak ada masyarakat yang membanggakan kita selain pecinta silat sendiri. Tapi pesilat tidak pernah kecewa,” tutur Erizal yang juga dikenal sebagai praktisi silat Minang dari Satria Muda Indonesia ini.
 
Masalah populer atau tidaknya sebuah cabang olahraga selalu bicara tentang prestasi. Namun dari segi prestasi silat tidak pernah kalah dibanding beladiri lain. Kekalahan silat cuma karena tidak ada yang ekspos di negeri sendiri. “Tidak ada yang menggadangkan silat,” kalau kutip Erizal.
 
Benar saja. Saat menggunakan sistem analisa Semrush Competitive Intelligence yang disokong Google, tingkat kepopuleran kata kunci silat dikalahkan telak oleh kata kunci karate. Perbandingannya pun terpaut jauh, 9:100. Sementara itu jika silat dibandingkan taekwondo hanya 8:100.
 
Tapi, silat justru mendapat perhatian yang tidak sedikit di negeri seberang. Banyak negara-negara yang mulai terpikat dengan silat. Terbukti dengan cukup tingginya pertumbuhan perguruan silat di negeri lain.
 
Setidaknya ada 57 negara yang telah memiliki perguruan silat. Sebanyak 28 di antaranya juga sudah membentuk organisasi dan terdaftar di Persatuan Silat Antarbangsa (Persilat). Erizal mengungkapkan, setidaknya jumlah tersebut akan bertambah menjadi 30 organisasi terdaftar di akhir tahun ini.
 
Tidak hanya berasal dari ketertarikan individu, bahkan beberapa lembaga negara tertarik dengan keganasan silat sendiri.
 
Ketika salah satu detasemen Kepolisian kita mengadopsi beladiri Krav Maga dari Israel, silat justru ingin diadopsi oleh banyak militer negara lain. Hal ini pun diakui oleh Erizal lewat banyaknya negara yang meminta pelatih ke IPSI. Namun Erizal enggan membongkar negara mana saja yang telah melayangkan permintaan resmi.
 
“Saya cuma bisa sebut Kongo. Kalau mau cari tahu, silahkan dicek ke latar belakang atlit silat di kompetisi Internasional. Terutama dari negara-negara yang ‘aneh’,” kata Erizal memberikan petunjuk.
 
Kompetisi silat tingkat regional dan internasional juga semakin banyak diselenggarakan. Tiga minggu yang lalu, Malaysia baru saja usai mengadakan kompetisi skala Internasional. Pada 26 Maret depan pesilat dapat bersain di Belanda Open, kemudian ada England Open, kemudian ada Vietnam Open. Pesilat dapat mengejar prestasi lewat kejuaraan dunia yang hampir tiap bulan diselenggarakan.
 
Sebenarnya pesilat sendiri tidak pernah mempermasalahkan bila silat minim kepopuleran di Nusantara, karena usia beladiri ini sudah lebih tua ketimbang negara Indonesia sendiri. Pesilat pun akan terus menggadangkan nama silat dan Indonesia di kancah Internasional, baik atupun tanpa dukungan penuh pemerintah dan media nasional.
 
Walau mengakui kalah di segi teknik komunikasi dan cara mempopulerkan ke massa, pesilat akan terus mengembangkan silat. Walau IPSI sebagai organisasi mengakui banyak kekurangan, namun silat memilki banyak potensi besar.
 
Potensi bernama silat
 
Silat memiliki potensi besar, begitu menurut para pelaku silat. Silat tidak hanya bisa bicara soal beladiri dan prestasi. Silat juga hanya berbicara tentang seni. Hal inilah yang sering dilupakan oleh pemerintah dan publik secara umum.
 
“Perhatiannya terlalu fokus ke silat prestasi. Sementara itu untuk seni dan silat tradisi beladiri masih sedikit kurang,” kata guru silat dari Perguruan Silat Harimau Minang, Edwel Yasri Datuak Rajo Gampo Alam ke metrotvnews.com, Jumat (4/3/2015).
 
Hal yang disampaikan oleh pria yang akrab disapa Datuak Edwel tersebut tak berbeda dengan apa yang dipahami oleh Erizal. Ada empat aspek filosofis yang dimiliki oleh sebuah aliran dalam perguruan silat. Aspek yang terdiri dari mental-spiritual, beladiri, seni dan olahraga ini menjadi potensi.
 
Walau sama-sama dapat dikembangkan, baru beberapa aspek yang dapat disentuh IPSI sebagai organisasi yang tergabung dalam Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
 
Pertama soal aspek mental-spiritual yang pengembangannnya sangat luas. Aspek ini bicara tentang tata tertib, etika, moral, doa, dan berbagai aspek lain yang dimiliki oleh masing-masing perguruan. Aspek ini menjadi keunikan dan kekhasan dari masing-masing aliran dan perguruan karena terkait dengan budaya dan lingkungan.
 
Hal ini dapat digali lebih dalam dari sisi akademik karena ikatannya yang erat dengan budaya dan beragam keunikan. Erizal mencontohkan upacara pengangkatan murid atau putuih kaji di Silek Minang. Di beberapa aliran dan perguruan, upacara putuih kaji diidentikan dengan bamain jo harimau atau bagaluik jo harimau, yakni upacara pengangkatan dengan prosedur bertanding dengan harimau yang dulu banyak dipelihara oleh tuo silek (guru silat) yang juga pawang harimau.
 
Pengobatan alternatif Silat Cimande juga menjadi contoh lain dari keunikan aspek ini. “Beberapa waktu belakangan, praktisi spiritual dari perguruan Pagar Nusa di bawah Nahdlatul Ulama juga sering memberikan pengobatan alternatif gratis,” tambah Erizal.
 
Kemudian aspek beladiri yang pasti dipelajari oleh setiap pesilat. Tapi aspek ini tidak bisa diekspos karena terkait dengan karakter ‘mematikan’ atau ‘keganasan’ masing-masing aliran dan perguruan silat. Aspek beladiri dari silat ini hanya bisa dilihat ketika jiwa seorang pesilat terancam. Aspek ini jelas tidak bisa dipengaruhi dari luar karena milik perguruan.
 
Aspek seni yang terkait dengan adat istiadat tempat perguruan berada. Aspek ini biasanya dikenal dengan pencak atau mancak. Beberapa daerah menyebut aspek seni ini dengan bunga silat, karena di aspek inilah silat diperlihatkan keanggunan dan keindahannya.
 
Beberapa perguruan silat masih mengembangkan aspek ini. Selain itu aspek ini akan sulit dimasuki karena ini adalah karya, cipta dan rasa adat istiadat setempat. Di Sumatera Barat contohnya ada randai dan tari gelombang, di Banten ada Debus, di Jawa Timur ada Reog, dan banyak lagi keunikan aspek seni dari silat yang berpotensial disebarluaskan.
 
“Dan ini juga miliknya perguruan. Paling-paling yang bisa masuk ke dalam sini Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata lewat menyediakan panggung atau mengadakan festival,” kata dia.
 
Aspek olahraga barulah satu-satunya aspek yang bisa dimasuki KONI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Aspek ini yang selalu yang menjadi populer karena terkait dengan prestasi dan dikejar pemberitaan karena kadang melekat ke harga diri bangsa. Inilah satu-satunya aspek silat yang dapat diukur dan telah memiliki sistem pertandingan yang diakui Internasional. Indonesia harusnya bisa berbangga diri karena Indonesia menjadi salah satu motor penggerak dan raja dalam aspek ini.
 
Potensi-potensi khas Indonesia dari unik dan berpotensinya silat ini masih harus lebih dalam digali dan dipertahankan. Karena saat ini semakin banyak perguruan dan aliran yang semakin memudar. Bahkan beberapa perguruan mungkin saja jadi punah, karena IPSI harus memayungi sekitar 800-1000 perguruan silat se-Indonesia
 
“PB IPSI mengelola keempatnya. Memberikan fasilitas, tapi tidak bisa masuk. Kalau seni diberi panggung, dan olahraga baru kita latih. Sementara itu kan silat berkembang keempat aspek ini di seluruh dunia. Ada yang fokus ke salah satu aspek saja, dan ada penjurusan masing-masing. Itulah kelebihan silat,”
 
Mimpi silat masuk Olimpiade
 
Seperti beladiri lain, silat juga memiliki mimpi masuk di Olimpiade. Menjadi olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade dapat menjadi pembuktian bahwa silat, sebagai beladiri dan olahraga, telah diterima dan menyebar di seluruh dunia.
 
“Mudah-mudahan, pemerintah semakin peduli,” kata Erizal.
 
Bantuan berbentuk materil memang dirasa perlu karena keterbatasan IPSI mengakomodir ratusan perguruan dan jutaan praktisi silat. Namun, dukungan moril untuk semakin menyebarluaskan silat pun jauh lebih dibutuhkan.
 
Organisasi yang diketuai oleh Prabowo Subianto ini merasa Olimpiade bukan menjadi hal yang mustahil bila Kemenpora, KONI dan Komite Olimpiade Indonesia melakukan lobi di pertemuan tingkat dunia.
 
Tanpa bantuan pemerintah, maka mimpi untuk mempertahanakan silat sebagai pertandingan tetap SEA Games, dipertandingkan di Asian Games, hingga masuk ke Olimpiade tidak akan terjadi. Konsolidasi di tingkat bawa tidak akan bisa cepat dilakukan IPSI.
 
“Menpora dan Menlu perintahkan kembangkan silat di KBRI saja, sudah bisa jadi tu barang. Kita sebagai bangsa Indonesia akan bisa bahagia bila silat, memakai istilah Minang bak samuik tapangkua (bak sarang semut tercangkul, semu berhamburan ke luar), berserakan dan menyebar di dunia,” harap Erizal.
 
Sementara itu, Datuak Edwel sebagai praktisi tidak berharap yang muluk-muluk. Perguruan silat yang diperhatikan tidak boleh hanya sekedar yang mengejar prestasi. Organisasi juga memayungi pesilat seni dan pesilat tradisi beladiri.
 
“Kalau tidak akhirnya pesilat dan perguruan silat itu kan bergerak sendiri-sendiri,” pungkas Edwel.
 
Namun keduanya mengakui bahwa silat harus diakui sebagai warisan kebudayaan nasional. Selama ini pemerintah tidak memiliki dasar dan kewajiban yang mengekang untuk memperjuangkan dan mendorong promosi silat. Undang-Undang Kebudayaan perlu mengatur silat sebagai salah satu kebudayaan Indonesia. Ini dapat memastikan, silat memiliki jaminan bisa berpromosi serta terus dapat bertahan.
 


(ADM)