Memotret Kalijodo

Sobih AW Adnan    •    22 Februari 2016 22:06 WIB
Memotret Kalijodo
Gambar kawasan Kalijodo terpampang di papan pemantauan progres Posko Pendaftaran dan Penanganan Warga RW 05 Kalijodo di Kantor Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. (foto: MI/Panca Syaukani).

Metrotvnews.com, Jakarta: Mendung belum begitu tebal. Salah satu sudut Kota Jakarta yang mulai menyedot banyak perhatian ini tampak ramai lalu lalang pemburu berita. Beberapa mobil berlogo stasiun televisi terparkir di muka gang. Kalijodo, Jakarta Utara yang tetap ramai ini, tampak berbeda dalam soal siapa saja tamu yang datang.



Sudah lebih dari dua pekan Kalijodo menjadi sorotan. Semenjak tragedi Fortuner maut yang menyeruduk empat orang hingga tewas di kawasan Daan Mogot arah Tangerang pada awal Februari lalu. Pengakuan tersangka yang baru pulang dari surga dunia di tepian Kali Angke untuk masyarakat kalangan menengah ke bawah ini menjadi alasan bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan penertiban. Namun, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok menyatakan penertiban kawasan Kalijodo tidak berdasarkan pada hal-ihwal tentang aktivitas prostitusi. Akan tetapi karena kawasan tersebut masuk pada zona hijau yang mesti dikembalikan fungsinya sebagai lahan terbuka untuk umum, seperti taman.

"Saya tidak mempersoalkan prostitusi. Tidak ada orang yang bisa menghilangkan prostitusi dari muka bumi," ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta, Senin (15/2/2016).

Meski demikian, pada kenyataannya wajah utama yang tampil dalam persoalan penertiban Kalijodo ini tetap berlatar belakang pada apa yang dianggap oleh publik sebagai kemaksiatan. Sehingga mesti disikapi penuh hati-hati berdasarkan prinsip keadilan. Tak salah, jika pada akhirnya Kalijodo menjadi semacam panggung, sebuah mimbar bebas tempat orang-orang menunjukkan kebisaan diri, baik yang mendukung maupun yang menentang penggusuran.

 
Pengakuan kupu-kupu malam

Hujan sore yang cukup deras tiba-tiba mengguyur kawasan yang sedang cemas ini. Kalijodo kembali ke wajah asal selepas orang-orang yang tak biasa datang lebih memilih untuk bubar.

Selepas isya, hujan mereda menjadi gerimis, seorang pria bertubuh gempal yang belakangan minta disapa Bintang turun dari sepeda motor jenis matic berwarna putih yang dikendarai rekannya. Semacam berbisik-bisik, ia meminta rekannya untuk langsung berbalik sementara dirinya mengeluarkan sebuah kunci dari kantong celana jeansnya yang entah berwarna apa karena suasana minim cahaya.

 "Dia (menunjuk arah kawannya) menjemput cewek-cewek (para PSK yang mangkal di kafenya -red)," ujar Bintang yang ditanya saat mencoba membuka pintu besi di sebuah bangunan semacam rumah toko (ruko) di barisan muka Kalijodo.

 Bintang mengeluh. Ini hari adalah awal di mana Kalijodo harus menerima kenyataan soal pelanggan yang datang bisa dipastikan akan berkurang. Pasalnya, kata Bintang, semenjak tersebar isu penggusuran yang menyasar Kalijodo mencuat, banyak pesan singkat yang masuk diterimanya, menanyakan apakah Kalijodo tetap aman untuk disinggahi. Padahal kurang dari sepekan lagi surat perintah pengosongan tahap pertama (SP1) dari Ahok harus ditempelkan di tembok-tembok di setiap gang.

 “Sekarang bisa dihitung (kafe) yang berani buka," kata Bintang.

 Pengakuan Bintang memang tidak mengada-ada. Dari puluhan kafe berbentuk bangunan permanen yang berdiri di bantaran Kali Angke dan Kanal Banjir Barat (KBB) ini, kurang lebih hanya enam sampai delapan saja yang berani membuka pintu, menyalakan kerlap-kerlip lampu, dan menyetel musik dangdut koplo. Itu pun, untuk kali ini, benar-benar setelah malam sudah terbilang larut.

 “Biasanya kafe kami buka selepas Isya persis, dan tutup jelang Shubuh,” kata Bintang.

 Bintang mempersilakan masuk. Di dalamnya tampak kursi dan sofa berjajar. Tak lama, rekannya kembali dengan membonceng dua perempuan yang terbilang masih remaja. Bintang mengambil sebotol minuman yang dipatok dengan harga dua kali lipat.

 “Panggil saja saya Imey,” ujar perempuan bergaun warna merah serba minim sembari mengulurkan tangan usai berbisik dengan Bintang.

 Hal serupa juga dilakukan rekannya yang mengaku lebih nyaman disapa Novi. Imey dan Novi adalah dua orang pekerja yang siap menyambut para tamu di kafe yang dikelola Bintang.

 “Cuma malam ini saja berangkat kerja harus menunggu perintah dari Bintang. Biasanya kami datang pas kafe ini buka,” kata Imey mengawali pembicaraan.

 Imey mengaku berasal dari Bandung. Sementara Novi dari Cianjur. Keduanya yang sama-sama berasal dari Jawa Barat ini mengaku baru setahun lebih nongkrong di Kalijodo. Dalam semalam, Imey paling tidak menerima empat sampai lima tamu.

 “Kalau Imey, karena masih 19 tahun, jadi Rp200 ribu,” jawab Imey ketika ditanya soal berapa tarif yang harus dibayar oleh setiap tamu yang menghampirinya.

 Dari bayaran sebesar itu, Imey mengaku dirinya hanya mengantongi sebesar Rp130 ribu saja. Selebihnya, ia setorkan ke Bintang untuk membayar jasa kafe dan wisma tempatnya bekerja.

 Sedangkan tarif Novi, kata Imey, lebih murah. Dengan membayar Rp170 ribu sudah termasuk untuk kamar.

 Soal rata-rata tarif yang dipasang di kafe-kafe lain, Imey menuturkan semuanya berkisar dari Rp160 sampai Rp250 ribu. Sebenarnya tak hanya Novi dan Imey di kafe yang dikelola Bintang. Imey mengatakan ada banyak rekan-rekannya yang biasa "mangkal" di sini. Namun, sekarang mereka cemas dengan isu penertiban Kalijodo, sehingga lebih memilih untuk pulang ke kampung halaman. Sebagian besar untuk mencari pekerjaan lain.

 “Karena merasa sudah tidak nyaman di sini (Kalijodo). Kemarin saja sudah banyak wartawan, polisi, dan orang-orang yang sebenarnya tidak ingin mampir,” kata Imey.

 Selain usia, harga yang membedakan untuk berkencan di Kalijodo juga bergantung pada fasilitas yang disediakan. Novi mengaku tarifnya Rp200 ribu saat menjadi penghibur di kafe lain dan usianya masih 22 tahun. Ia baru enam bulan di kafe milik Bintang.

 Penelusursan metrotvnews.com, di lantai dua kafe yang dikelola Bintang ini terdapat sebuah toilet dan delapan bilik seluas dua meter persegi. Masing-masing bilik dibatasi hanya dengan menggunakan kayu triplek. Dalam ruang sempit itulah, Imey selalu menemani tamunya.

 Baik Imey maupun Novi, tampaknya memang sudah tak begitu berharap banyak tamu yang datang menjumpainya malam itu. Imey bahkan menceritakan rencana keduanya setelah penggusuran tempat dirinya mencari nafkah ini benar-benar terjadi.

 "Teman-teman yang lain banyak yang sudah pulang kampung. Ada yang nyari tempat lain, ada yang berhenti. Kalau saya, lihat nanti aja," kata Imey.

 Cerita serupa disampaikan pengunjung kafe Jelita, tempat hiburan lain yang berada di Kalijodo. Tidak tampak sama sekali para wanita pelayan para pria hidung belang di kafe ini.

“Ya, di sini cuma minum-minum saja. Cewek-cewek sudah pada pulang kampung,” kata pria yang mengaku bernama Gatot.

 Gatot mengaku sudah lebih dari lima tahun bertugas sebagai penjaga kafe Jelita. Kafe ini tetap bertahan untuk buka hanya dengan harapan bisa mengurangi stok minuman yang masih banyak menumpuk di gudang.

 “Setorannya belum lunas,” kata Gatot.

 Kalijodo dan Daeng Azis

Membicarakan soal bisnis minuman di Kalijodo, Gatot mengungkapkan segala jenis minuman keras yang dijual di sekitar 60 kafe di kawasan ini dikendalikan oleh satu orang, yaitu Daeng Azis. Selain berperan sebagai pemasok minuman keras, sosok Daeng Azis juga tokoh yang disegani di Kalijodo. Sehingga sang daeng ini kerap berperan sebagai penjamin keamanan bagi baik pengelola kafe maupun para tamu yang mampir ke Kalijodo.

 “Pokoknya, tidak ada yang berani sama dia (Daeng Azis). Itu rumahnya, di kafe yang besar itu,” kata Gatot menunjuk ke salah satu bangunan yang agak menjorok ke dalam dan dengan luas yang mengalahkan ukuran kafe-lafe lainnya.

 Kafe Intan milik Daeng Azis yang terdiri dari tiga lantai itu memang tampak tidak menunjukkan aktivitasnya. Tak ada gemerlap lampu warna-warni atau pun dentuman musik yang mencolok. Di bagian muka gang tempat orang-orang masuk, tampak sebuah rantai besi menutup akses.

 “Daeng Azis sudah sejak kemarin tidak membuka kafe Intan,” kata Gatot.

 Kemasyhuran nama Daeng Azis juga rupanya tidak hanya dikenal di dunia kafe remang-remang. Nama Daeng Azis kerap menjadi sandaran bagi warga yang hendak mengungkapkan penolakan terhadap kebijakan penggusuran yang akan dilakukan Ahok.

 “Pokoknya harapan kita sebagai warga sudah diutarakan oleh Daeng Azis kemarin,” kata Salim, salah seorang warga yang juga sebagai pemilik warung kopi di tengah permukiman warga.

 Konon, Daeng Azis mulai menancapkan pengaruhnya sejak kedatangannya di tahun 1980an. Aktivitas gelap yang sudah ada di Kalijodo waktu itu berhasil menguji kekuatan Daeng Azis yang akhirnya menjadikannya sebagai penguasa tunggal sejak tahun 2000an.

 “Dulu sempat ada dua atau tiga kelompok yang menguasai Kalijodo. Tapi kayaknya Daeng Azis yang paling kuat,” kata Asep, pengojek yang mengaku tinggal di Gang Lontar, tak jauh dari kawasan Kalijodo.

 Asep bercerita, pengaruh pria berusia 60 tahunan itu juga berpengaruh hingga dalam soal yang memuncak dalam beberapa pekan terakhir. Daeng, kata Asep, tiba-tiba menjadi orang yang dituakan oleh warga setempat untuk menyatakan penolakan terhadap kebijakan gubernur DKI Jakarta tentang rencana penertiban kawasan Kalijodo.

 “Sampai-sampai, ketika warga Gang Lontar berniat menolak para PSK yang berpindah menetap ke sana, Daeng Azis sempat menakut-nakuti agar kita sementara bisa menerima mereka,” kata Asep.

 Sebutan “Daeng” yang melekat pada tokoh bernama asli Abdul Azis ini karena pria tersebut berasal dari Jeneponto, Sulawesi Selatan. Asep yang mengaku sedari kecil tinggal di wilayah dekat Kalijodo itu mengaku telah banyak mendengar sepak terjang si raja kecil.

“Dia (Daeng Azis) mulai terkenal saat terjadi perang antar kelompok preman Kalijodo pada tahun 2001. Adiknya terbunuh. Dendam kesumatnya yang luar biasa hingga bisa menyingkirkan dua kelompok lain yang sebelumnya eksis,” kata Asep.

 Sebelum mencuat isu penggusuran, Kalijodo juga dikenal sebagai pusat perjudian. Daeng Azis tentu sebagai pengendali dari bisnis haram tersebut. Asep menuturkan, praktik perjudian memang sudah tidak ada di kawasan Kalijodo, namun pengaruh Daeng Azis masih cukup dirasakan sebagai sosok yang ditakuti, baik oleh para pengelola kafe, maupun warga setempat.

 “Kalau dibilang dekat, Daeng juga cukup dekat dengan warga. Ia juga menjamin tidak ada tamu yang berani berbuat rese kepada warga setempat,” kata Asep.

 Lepas dari seberapa kuat dan pengaruh Daeng Azis, pada akhirnya tekad bulat Ahok untuk meratakan seluruh bangunan di Kalijodo tak bisa dibendung lagi. Kawasan yang dihuni oleh 3.052 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 1.340 ini pada akhirnya harus menyingkir dan di mana mereka hendak hidup di tempo selanjutnya.


(ADM)