Memburu Pengedar Peluru

Coki Lubis    •    05 Juli 2017 12:31 WIB
Memburu Pengedar Peluru
ILUSTRASI: senjata dan amunisi. (MTVN/Mohammad Rizal)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kasus kejahatan dengan senjata api (senpi) kembali marak. Korban jiwa berjatuhan. Seperti biasa, semua orang sontak berbicara tentang peredaran senpi di kalangan sipil.
 
Senpi yang digunakan para pelaku kejahatan adalah pistol rakitan. Demikian ungkap Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri Jakarta, Jumat 16 Juni 2017. Meski ada yang menggunakan senpi pabrikan, menurutnya, rata-rata adalah barang selundupan.
 
Namun, baik rakitan atau pabrikan, bukankah senpi memerlukan amunisi? Lantas, bagaimana dengan pelurunya, apakah mudah didapat?
 
"Nah, yang diwaspadai (kepolisian) sekarang adalah peredaran peluru. Karena, peluru itu belum ada yang rakitan," kata Setyo.
 
Namun, ia belum dapat memberikan keterangan mengenai penyelidikan sementara Polri ihwal peredaran peluru.
 
Sejenak mundur ke tahun 2012, tepatnya dalam kasus bom Depok. Kala itu, dari lokasi, tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror  alias Densus 88 tak hanya menemukan bahan peledak, senjata api serta granat. Tapi ditemukan pula sejumlah peluru, yang diketahui buatan PT Pindad.




FOTO: Penemuan granat beserta 16 butir peluru kaliber 28 dan 38 milimeter yang masih diselidiki polisi. (ANTARA/Irfan Anshori
)
 
Logika sederhananya, peluru yang digunakan teroris kala itu sama dengan peluru yang umumnya digunakan TNI dan Polri. Bukan barang impor atau selundupan dari luar negeri. Dan boleh jadi fakta ini berlaku untuk peluru yang biasa digunakan oleh para pelaku kejahatan.
 
Bisnis peluru
Beberapa waktu lalu kami berhasil menemui seorang pebisnis senpi. Dia adalah Gugun - bukan nama asli, pria yang sudah menjalani bisnis ilegal itu sejak 2008. Produk milik Gugun adalah senpi pabrikan, bukan rakitan. Senpi-senpi itu dia peroleh dari luar negeri.
 
Selain senpi, Gugun juga melakukan jual-beli amunisi. "Kalau amunisi bukan dari luar, tapi ada yang memasok di sini (dalam negeri)," tutur pria bertubuh tegap itu.
 
Cukup blak-blakan, Gugun mengatakan bahwa dia mendapatkan pasokan peluru dari oknum anggota TNI, dan sesekali dari oknum polisi. Menurutnya, oknum-oknum tersebut memperolehnya secara ilegal dari dalam instansinya masing-masing.
 
"Biasanya saat mereka latihan, peluru diambil, setelah itu dijual," ucap Gugun.
 
Satu butir peluru biasanya bisa dibeli oleh Gugun dengan harga mulai Rp20 ribu. Setelah itu dijual kembali kepada pelanggan-pelanggan senpinya, tentu dengan harga yang bisa memberikan keuntungan.
 
Baginya, penjualan amunisi justru sudah menjadi bisnis utamanya. Perputaran transaksinya lebih cepat. Mahfum, ini produk sekali pakai. "Banyak orang butuh, untuk latihan, mungkin berburu, dan lain-lain," katanya.
 

FOTO: Aparat kepolisian Polresta Palembang, Sumatera Selatan, mengamankan tersangka purnawirawan Polri AKBP Bambang Sugiharto di Jambi dan juga menyita amunisi sebanyak 5.758 butir peluru aktif serta dua pucuk senjata api jenis FN. (ANTARA/Nova Wahyudi).

Cerita Gugun ternyata dibenarkan oleh Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Dikatakannya, dari tempat-tempat latihan, baik polisi ataupun tentara, peluru bisa beredar ke luar.
 
"Misalnya, anggota dikasih jatah sepuluh peluru untuk latihan. Yang dipakai hanya tujuh, tiga lagi dikumpulkan. Ada yang berperan sebagai pengepul," ungkap Neta saat berbincang dengan Metrotvnews.com, Jumat 30 Juni 2017.
 
Dari pantauan IPW, kontrol pemakaian peluru di kalangan Polri sangat lemah. "Tidak ketat pengawasan, dipakai untuk apa saja. Terutama, yang sering bocor itu dari tempat-tempat latihan," kata Neta.
 
Mencari uang 'lebih'
Adanya kelakuan menyimpang dari oknum aparat ini juga diakui oleh pengamat militer Conny Rahakundini Bakrie. Dia mengatakan, motivasinya mencari uang tambahan. Jauh dari persoalan yang ideologis atau dukungan untuk kegiatan terlarang.
 
Bahkan, kata Connie, tak hanya peluru, ada juga yang memperjualkan aset lain dan menjadi lahan bisnis; seperti bahan bakar kendaraan, avtur untuk pesawat, dll.
 
"Mencari uang lebih lah. Apakah kesejahteraannya dianggap kurang? itu relatif. Yang pasti, soal kesejahteraan (anggota TNI), sebetulnya sudah ditingkatkan," ujarnya saat kami hubungi, Kamis, 29 Juni 2017.
 
Bagi Connie, fenomena ini terkait rendahnya moral. Karena, bicara sistem, termasuk soal audit, semua sudah ada dan sebetulnya bisa diperketat. "Tapi siapa yang audit?"
 
Karena itu, Connie menegaskan, selain pengetatan sistem, pembinaan moral adalah hal yang prioritas dalam tubuh TNI.
 
Pada sisi lain, Irjen Setyo Wasisto dengan telak mengatakan tidak ada peluru rakitan. Maka, inilah pekerjaan rumah bagi kepolisian untuk mengawasi peredaran peluru, yang boleh jadi berasal dari dalam instansinya sendiri.
 
Tanpa peluru, senjata api tak akan berguna.


ILUSTRASI: senjata api penuh amunisi. (MTVN/Rizal)



(ADM)

  • titlenya ya

    Geliat Bisnis Senjata Rakitan (3)

    31 Agustus 2017 23:51

    Industri rumahan perakitan senjata api masih ada di sejumlah daerah di Indonesia. Seperti kasus di Tangerang, Banten, dimana kepolisian menangkap empa…

  • titlenya ya

    Geliat Bisnis Senjata Rakitan (2)

    31 Agustus 2017 23:47

    Industri rumahan perakitan senjata api masih ada di sejumlah daerah di Indonesia. Seperti kasus di Tangerang, Banten, dimana kepolisian menangkap empa…

  • titlenya ya

    Geliat Bisnis Senjata Rakitan (1)

    31 Agustus 2017 23:46

    Industri rumahan perakitan senjata api masih ada di sejumlah daerah di Indonesia. Seperti kasus di Tangerang, Banten, dimana kepolisian menangkap empa…

  • titlenya ya

    Warga Halmahera Serahkan 7 Senjata Api Organik

    03 Agustus 2017 12:56

    Penyerahan senjata merupakan bentuk kesadaran masyarakat atas situasi yang semakin kondusif.