Sudah Jatuh Tertimpa Napza

Lis Pratiwi    •    22 Desember 2017 18:04 WIB
Sudah Jatuh Tertimpa Napza
Ilustrasi: MTVN/Mohammad Rizal

Jakarta: Tepat pukul 15:08 WITA pada Sabtu, 13 April 2013, petugas lalu lintas tower (Air Traffic Control/ATC) di Bandara I Gusti Ngurai Rai memperkenankan pesawat Lion Air penerbangan Bandung menuju Bali untuk mendarat.



Dua menit kemudian, pesawat yang dikendalikan pilot Mahlub Ghazali dan kopilot Chirag Carla akhirnya mendarat. Namun, pendaratan tidak dilakukan di landasan, melainkan di laut. Kendati badan pesawat terbelah dua, seluruh penumpang dan awak kabin berjumlah 108 orang selamat. Cuaca gerimis dan jarak pandang terbatas menjadi dalih penyebab kecelakaan.

Pujian pun diberikan oleh Direktur Perhubungan Udara kala itu karena sang pilot berhasil menghindari karang di perairan, juga mengurangi risiko musibah yang lebih fatal.

Empat tahun kemudian, Kamis, 12 Januari 2017, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan terkait peristiwa tersebut.

Pria yang akrab disapa Buwas itu menyatakan, pilot pesawat Lion Air yang tergelincir ke laut saat hendak mendarat di Bali, di bawah pengaruh narkoba. Si pilot berhalusinasi seolah-olah laut itu merupakan landasan untuk mendarat.

"Hampir semua kecelakaan udara di Indonesia, apakah itu selip atau apa, pilotnya terindikasi positif narkoba," terangnya.
 
Indikasi itu didapat BNN dari catatan pemeriksaan urin, darah, dan rambut pilot sebelum penerbangan. Prosedur itu memang biasa dilakukan, dan menurut Buwas hasil akhirnya kerap tak jauh beda, yakni, positif.



Pesawat Boeing 737-800 NG milik Lion Air meleset dari runway Bandara Ngurah Rai, Bali, 13 April 2013. (AP)
Insert: Sang pilot, Mahlub Ghazali, sedang dievakuasi. Pada Januari 2017 BNN menyatakan Mahlub di bawah pengaruh narkoba saat kecelakaan terjadi.



Ucapan Buwas sejalan dengan pengakuan Diva, seorang mantan pramugari maskapai swasta, saat diwawancara Tempo pada 2012. Setidaknya, kata Diva, enam hingga tujuh orang dari 10 pilot adalah pengguna narkoba alias napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif).
 
“Saya punya teman dari maskapai lain. Cerita mereka sama. Kehidupan air crew tidak jauh dari narkoba,” akunya.
 
Pada sisi lain, berdasarkan hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), insiden transportasi udara di Indonesia paling banyak disebabkan kesalahan manusia. Jika dipersentase, sepanjang 2010-2016 mencapai 67,12 persen.
 
Faktor lainnya adalah masalah teknis 15,75 persen, lingkungan 12,33 persen, dan fasilitas infrastruktur sebesar 4,79 persen. Dalam periode itu, kecelakaan pesawat mencapai 41 kasus atau 20 persen dari keseluruhan kecelakaan atau insiden.



 
***
 
BUKAN hanya Indonesia. Ihwal pilot dan penyalahgunaan narkoba, juga menjadi persoalan di Amerika Serikat.
 
Lembaga regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA) menyebutkan, banyak awak pesawat yang ditemukan dalam pengaruh narkoba dan alhokol usai mendarat.
 
Tercatat ada 64 pilot yang melanggar larangan alkohol dan narkoba sepanjang 2010 hingga 2015. Sementara pada 2015, pencabutan lisensi dilakukan terhadap 38 pilot, dan 46 lisensi lainnya dibekukan.
 
Lebih rinci lagi, CNN pernah melaporkan analisa tewasnya 6.677 pilot dalam kurun 1990 hingga 2012. Tercatat, sekitar 40 persen pilot yang tewas dalam kecelakaan pesawat nonkomersial terindikasi dalam pengaruh obat-obatan atau narkoba.
 


(COK)