Awal Mula Trotoar

Wanda Indana    •    23 Agustus 2017 20:52 WIB
Awal Mula Trotoar
Pejalan kaki berjalan melalui Parliament Square di London (AFP/Ben Stansall)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menilik sejarahnya, trotoar pertama kali ditemukan di sebuah kota kuno di pusat Anatolia (Turki) pada rentang 2000 sampai 1990 tahun sebelum masehi. Namun, bentuk desain trotoarnya belum ideal, tidak seperti trotoar saat ini.
 
Tulisan sejarawan Turki, Spiro Konstantine Kostof, dalam bukunya The City Assembled (1992) mengungkapkan bahwa trotoar purba itu tidak memiliki pemisah atau separator. Diperkirakan pejalan kaki masa itu masih harus bercampur dengan kuda, pedati, dan gerobak.
 
Trotoar mulai dikembangkan pada masa Kekaisaran Romawi. Orang Romawi memiliki sebuah kata khusus untuk menyebut trotoar, yakni: samita.
 
Pada abad ke-2 SM, Romawi tumbuh sebagai kekuatan besar di daratan Eropa ditandai penaklukan atas bangsa Yunani. Kota-kota di Yunani jatuh di bawah kontrol Romawi. Termasuk pembangunan kota harus mengikuti aturan Romawi. Yakni, membangun samita pada setiap tepian jalan.
 
Kota Korintus adalah salah satu kota penting di Yunani yang dihancurkan Romawi pada 146 SM. Korintus dibangun ulang oleh Julius Caesar pada tahun 46 SM. Di kota ini, dibangun trotoar dengan desain yang lebih mapan, sudah memisahkan pejalan kaki dengan kendaraan barang.
 
Setelah selesai dibangun, Korintus menjadi kota pusat perdagangan dan kebudayaan. Kota pelabuhan ini menjadi tempat berlabuh kapal-kapal dari Asia Kecil, Mesir dan Eropa. Korintus akhirnya menjadi provinsi Kekaisaran Romawi, yaitu Akhaya yang dipimpin Gubernur Galio.



Setelah 500 tahun berkuasa, Kekasisaran Romawi akhirnya runtuh pada penghujung abad ke-4 masehi, setelah diserang kaum barbar dari utara. Kejatuhan Romawi diikuti dengan lenyapnya trotoar di kota-kota Eropa yang pernah menjadi bekas wilayah kekuasaan Romawi.
 
Setelah sekian lama kembali kehilangan fungsinya, trotoar muncul kembali di kota-kota Eropa setelah peristiwa kebakaran hebat melanda London pada 1666. Kebakaran itu meluluhlantakkan sebagian besar wilayah kota. Kebakaran itu menghanguskan 13.200 rumah, 87 gereja paroki, 6 kapel, termasuk Katedral Santo Paulus dan sebagian besar bangunan-bangunan penting.
 
Sebelum peristiwa kebakaran, seorang kolumnis di Inggris bernama John Evelyn mengkritik pemerintah kota London dengan memaparkan tentang peradaban masyarakat yang tertinggal jika dibanding dengan Paris. Ia bahkan menyebut London adalah kota yang penuh kayu, tidak meniru Paris, dan macet.
 
Evelyn mengingatkan akan adanya bahaya kebakaran di London yang akan ditimbulkan oleh penggunaan rumah kayu. Menurut dia, London menjadi ‘rumah’ bagi tunawisma pada masa kekaisaran Romawi selama empat abad. Setelah ditinggal Romawi, London tumbuh sebagai kota tanpa rencana dan tidak terkontrol. Ledakan warga kota mendorong terbentuknya pemukiman kumuh  di daerah pinggiran sungai Thames.
 
Nah, setelah peristiwa kebakaran itu, Raja Inggris Charles II menerbitkan aturan tentang tata kota dan melarang penggunaan kayu dalam pembangunan gedung dan rumah. Charles II juga memerintahkan pembangunan trotoar untuk memisahkan bangunan satu dengan bangunan lainnya. Dia meminta, pembangunan trotoar terbuat dari batu untuk menjadi sekat alami untuk antisipasi kebakaran.
 
Kemudian pada tahun 1762, Pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang yang mengatur lebih rinci pembangunan trotoar. Aturan itu dikenal dengan Westminster Paving Acts 1972, yang mengatur pembersihan kota di jalanan, pengumpulan sampah, perbaikan trotoar dan jalan utama, serta pembentukan sistem pembuangan limbah bawah tanah.
 
Secara teknis, undang-undang itu memerintahkan pembangunan lintasan trotoar ditinggikan dari permukaan jalan untuk melindungi pejalan kaki. Sementara itu, pembersihan trotoar menjadi tanggungjawab individu.
 
Sejak saat itu, pejalan kaki sebagai subjek pengguna trotoar diberi rasa aman dan nyaman ketika beraktivitas. Pemerintah Inggris juga giat menggelar kampanye-kamapanye penggunaan trotoar.
 
Bahkan, di Inggris, ada sebuah ungkapan populer yang mengatakan “The pavement is the skin of the city. Below it lies the arteries, veins, and guts that keep the city alive”. Ini bermakna, “Trotoar adalah kulitnya kota. Di bawahnya ada jaringan arteri, pembuluh darah, dan organ dalam yang membuat kota tetap hidup”.
 
Tak berlangsung lama, jalan-jalan di London terus berevolusi. Di area perbelanjaan (shopping arcade) terdapat jejeran toko-toko mulai menampilkan barang dagangan di jendela kaca, lampu-lampu pertokoan menerangi trotoar dan menjadikannya pusat mode, makanan dan gaya hidup.
 
Dahulu, toko hanya menjadi area pemuas bagi kelompok borjuois. Kini, pertokoan di sepanjang trotoar menjadi ruang publik yang bisa dinikmati semua kalangan. Trotoar di Inggris juga dianggap sebagai simbol kekuatan rakyat.
 

FOTO: Pejalan kaki berjalan melintasi Jembatan London dengan rintangan yang baru dipasang di London. (AFP/Odd Andersen
) Pola pikir
 
Paris tidak terlepas dari sejarah tebentuknya trotoar modern. Paris sering diakitkan dengan kota paling romantis di dunia. Kenapa? Karena Paris memiliki trotoar yang nyaman bagi warganya untuk menikmati kota dengan berjalan kaki.
 
“Untuk mengetahui peradaban dan estetika sebuah kota, hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Trotoar berasal dari Prancis, berasal dari kata Trottoir,” ujar pengamat perkotaan Nirwono Joga kepada Metrotvnews.com, Jumat 19 Agustus 2017.
 
Ia mengungkapkan, Prancis menempatkan pejalan kaki berada di titik teratas dalam sistem lalu lintas kota. Disusul sepeda, angkutan umum dan kendaraan pribadi berada di titik paling bawah. Maknanya, dalam berlalu lintas, hak pejalan kaki harus didahulukan. Di Paris, pejalan kaki diprioritaskan.
 
Kondisi ini berbeda dengan kota-kota di Indonesia. Misal di Jakarta, para pengendara di ibu kota sama sekali tidak menghormati hak pejalan kaki. Trotoar sebagai jalur pejalan kaki sering kali diterobos untuk menghindari kemacetan di jalan.
 
Di sisi lain, pemerintah kota seakan melakukan pembiaran. Lambat laun, mental pengendara menjadi terbiasa menerobos trotoar. Menurut Nirwono, hal ini berdampak pada prilaku pengendara dalam jangka panjang. Pengendara seakan mendapat imunitas jika masuk ke trotoar.
 
“Karena sudah terbiasa melanggar aturan. Bagi mereka itu hal wajar. Ketika ada penertiban, otomatis mereka akan marah dan akan lebih galak dari petugas,” ungkap dia.
 
Sebelum Revolusi Perancis, Paris merupakan kota padat penduduk yang dihimpit jalanan sempit berkelok-kelok. Abad ke-18, saat momen kebangkitan paham humanisme mulai bangkit, tercetus ide dan pemikiran baru berkaitan dengan penalaran ilmiah dan keterkaitan kembali dengan alam. Pada pemerintahan Raja Louis XIV, pembangunan kota Paris diarahkan dengan memperhatikan kesehatan sosial dan politik kota.
 
Pada masa Raja Louisp-Philippe I, Paris dibangun untuk warga kota yang modern namun tetap memperhatikan lingkungan. Louisp-Philippe meminta Baron Haussmann, seorang perencana tata kota untuk mendesain ulang Paris.
 
Pada tahun 1820, Paris sudah memiliki beberapa jalan-jalan terbuka yang nyaman untuk berjalan-jalan dan mendapatkan udara segar, terutama di kawasan Rue des Italiens, dan juga Champs Élysées. Haussmann terkenal dengan ide membangun jalan panjang yang memberikan perspektif terhadap bangunan Arc de Triomphe dan Opera Garnier. Kini, dua bangunan itu menjadi ikon pariwisata Paris.


FOTO: Pedestrian dekat The Louvre Museum di Paris (AFP/Ludovic Martin)



(ADM)