Gengsi Jamu

Surya Perkasa    •    08 Februari 2016 19:54 WIB
Gengsi Jamu
JAMU MASUK HOTEL: Ibu Yani penjual jamu gendong menyajikan jamu di Hotel Mercure, Jakarta. (foto: MI/Ramdani).

Metrotvnews.com, Jakarta: Beras ditumbuk bersama kencur dan rempah untuk pegal-pegal dan linu, meringankan gangguan batuk, menambah nafsu makan, menyegarkan tubuh dan menyembuhkan perut kembung. Kunyit asam dapat diolah untuk membantu melangsingkan tubuh, mengatasi masalah menstruasi, memperlancar peredaran darah, menjaga metabolisme tubuh,  membantu mengobati luka pada lambung serta mengobati panas dalam.
 
Dua jenis racikan sederhana tersebut adalah sebagian kecil dari beragam jenis ramuan pengobatan herbal Indonesia yang bernama jamu. Sederhana, namun banyak manfaatnya.
 
Masyarakat Indonesia sudah mengenal jamu ribuan tahun yang lalu. Orang dulu mengenal pembuat jamu dengan istilah tabib atau dukun.‎ Konon jamu sudah ada sejak abad ke-13 masehi pada jaman Mataram Kuno.
 
Namun, tradisi pembuatan jamu diduga lebih tua dari itu. Sebab, potret tentang kegiatan masyarakat meramu obat ditemukan pada relief Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Untuk diketahui, para ahli sejarah memperkirakan Candi Borobudur didirikan pada abad ke-8 masehi atau era kejayaan dinasti Syailendra. Kisah penggunaan jamu bagi masyarakat suku Jawa juga terdapat pada relief-relief pada Candi Prambanan di Jawa Tengah, Candi Penataran di Jawa Timur, dan Candi Tegalwangi yang juga di Jawa Timur.
 
Kemudian dalam kurun tahun 991-1016, perumusan obat dan ekstraksi dari tanaman ditulis pada daun kelapa atau lontar. Antara lain seperti Lontar Usada di Bali, dan Lontar Pabbura di Sulawesi Selatan. Beberapa dokumen tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Lalu pada ‎tahun 1858 dan terdiri dari 1734‎ kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Yogyakarta melakukan pembukuan mengenai jenis-jenis obat atau jamu.
 
Secara umum jamu dianggap tidak beracun dan tidak menimbulkan efek samping. Khasiat jamu telah teruji oleh waktu, sejarah, serta bukti empiris langsung pada manusia selama ratusan tahun yang telah menggunakan obat tradisional. Kini seiring dengan perkembangan zaman, jamu di Indonesia sudah mengalami banyak kemajuan hal itu ditandai dengan banyak‎ pabrik jamu yang tumbuh subur di Indonesia.
 
Presiden Komisaris Jamu Jago Grup, Jaya Suprana, menyebut jamu disepakati sebagai istilah ramuan pengobatan herbal asli dari Indonesia. Manfaat jamu tidak hanya untuk pengobatan dalam tubuh, tetapi juga luar tubuh. Makanya, bisa dikonsumsi sebagai upaya untuk menangkal beragam penyakit sekaligus “mempercantik” diri.
 
“Jamu itu sendiri, suka tak suka, memang istilah yang berasal dari pulau Jawa. Sedangkan ramuan jamu itu sudah ada sejak jaman-jaman kerajaan,” ujar Jaya saat berbincang dengan metrotvnews.com, Sabtu (6/8/2016).
 
Ilmu pengobatan herbal khas nusantara ini seharusnya bisa disandingkan dengan pengobatan herbal tradisional Tiongkok. Walau bisa jadi kalah dari segi usia dibanding herbal dari Negeri Tirai Bambu, namun jamu menang dari segi kecocokan budaya.
 
Menurut Jaya, jamu punya keunikannya sendiri dibandingkan dengan herbal Tiongkok. Jamu tidak menggunakan mineral dan cenderung sedikit unsur hewani. Bahan baku adalah akar-akaran, umbi-umbian, daun-daunan, biji-bijian, dan semacamnya dari tumbuhan. Kalaupun ada bahan dari hewan untuk ramuan jamu, itu paling sifatnya hanya pelengkap saja, misalnya telur dan madu.
 
“Jadi, kalau disimpulkan, jamu ini tidak terbentur masalah halal atau tidak halal. Ini seolah-olah jamu itu sendiri siap akan kehadiran Islam. Siap untuk bisa dikonsumsi siapa saja,” papar Jaya.
 
Jamu merupakan salah satu warisan budaya Indonesia di bidang kesehatan. Sebagai produk herbal yang punya nilai budaya tinggi karena berusia lebih dari 1.200 tahun, sudah sepatutnya semua pihak mendukung jamu untuk menjadi produk unggulan Indonesia.
 
Tapi, apakah jamu masih punya gengsi di era pengobatan modern?
 
Anak-anak Indonesia pada masa pertumbuhan umumnya pernah dicekoki jamu oleh ibunya. Katanya untuk meningkatkan nafsu makan dan memperkuat daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.
 
Pasangan suami-istri pun tak jarang mengonsumsi jamu untuk meningkatkan fertilitas. Ibu-ibu juga memakai jamu untuk meningkatkan produksi ASI untuk si buah hati atau mempercantik diri demi suami.
 
Kini jamu dalam skala industri sedang berupaya sekuat tenaga untuk dapat tetap bertahan di pasar nasional obat herbal.
 
Berdasarkan data yang dirilis oleh Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) Indonesia, industri herbal dan obat tradisional Indonesia bertumbuh 15%pada tahun 2014. Nilai penjualan kosmetik, suplemen dan obat tradisional tahun 2014 tercatat Rp15 triliun. Namun, jatah jamu yang notabene khas Indonesia hanya sekitar Rp3 triliun.
 
Statistik penjualan jamu pada tahun 2015 malah menunjukkan penurunan. Meski penjualan obat tradisional di Indonesia meningkat menjadi sekitar Rp16 triliun, namun jamu turun 20% dibanding tahun sebelumnya.
 
Penjelasan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy A Sparringa pun seolah mengkonfirmasi bahwa jumlah pengguna jamu di Indonesia tidak terlalu tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh hasil riset yang dipegang oleh BPOM.
 
Berdasarkan Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, data profil penggunaan jamu diperoleh gambaran mengenai penggunaan jamu dan manfaatnya di Indonesia. Dengan meriset 177.926 responden penduduk umur 15 tahun ke atas, diketahui jumlah orang yang mengkonsumsi jamu secara rutin tidaklah besar.
 
“Secara nasional, sebanyak 59,12% penduduk Indonesia pernah mengkonsumsi jamu, yang merupakan gabungan dari data kebiasaan mengkonsumsi jamu setiap hari 4,36%, kadang-kadang 45,03%, dan tidak rutin mengkonsumsi jamu, tapi sebelumnya pernah 9,73%,” kata Roy kepada metrotvnews.com, Minggu (7/2/2016).
 
Pada Riskesdas tahun 2013, Kementerian Kesehatan kembali melakukan riset terkait profil penggunaan obat tradisional namun dengan parameter berbeda. Hasil survei menunjukkan 15,7% rumah tangga menyimpan obat tradisional untuk swamedikasi. Persentase rumah tangga yang menyimpan obat tradisional (termasuk jamu) sebesar 17,2% di wilayah perkotaan dan 13,2% di wilayah pedesaan.
 
“Dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, tingkat konsumsi obat-obatan alami termasuk jamu di Indonesia tergolong tinggi, yaitu 28%.  Sedangkan Malaysia hanya 15%, Vietnam 12%, Singapura hanya 8%, ,” papar Roy.
 
Meski kenyataannya seperti itu, jamu masih punya harapan untuk berjaya di pasar nasional. Jaya Suprana yakin, jamu bisa unggul  dalam persaingan dengan produk asing.
 
“Sudah saatnya jamu Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri. Tidak sekedar tuan rumah untuk ‘jamu’ asing,” tegas Jaya.
 
Persaingan
 
Jamu mendapat perlawanan kuat dari obat dan kosmetik herbal non jamu. Tren tumbuhnya persaingan ini dapat dilihat dari semakin banyaknya produk obat tradisional di Indonesia.
 

 
Sejak tahun 2011 hingga 5 Februari 2016 tercatat sebanyak 11.507 produk obat tradisional yang terdaftar di Badan POM. Roy menyebut sebagian besar produk tersebut merupakan produk dari Indonesia. Hanya sekitar 20 persen produk terdaftar merupakan produk impor.
 
Dari keseluruhan obat tradisional terdaftar, Obat Tradisional Lokal berjumlah 9.645 jenis. Untuk Obat Tradisional Impor terdaftar sebanyak 1.825 jenis dan jumlah Obat Tradisional Lisensi sebanyak 37 jenis.
 
Jamu sendiri memang diketahui dan dipercaya sebagai pengobatan dengan efek samping minimalis. Masyarakat mempercayai penggunaan obat-obat herbal untuk memelihara kesehatan dan mengobati penyakit sejak dahulu. Penggunaan bahan alami yang merupakan asal jamu, memang aman terbukti aman dari efek samping dibandingkan produk obat modern.
 
Tapi miris. Dari belasan ribu produk obat tradisional terdaftar ini, porsi pengguna jamu dan angka penjualan tak setinggi jenis obat tradisional lain. Banyak alasan yang membuat hal ini bisa terjadi.
 
Jamu tak semenarik produk herbal lain. Kurangnya pengakuan bisa jadi menjadi alasan gengsi jamu tak setinggi produk herbal dari lain negeri.
 
Berbeda dengan pengobatan tradisional Tiongkok yang semakin mendunia, jamu tidak dilindungi secara pasti. Jamu saat ini hanya disokong oleh sistem identifikasi tanpa memiliki perundang-undangan yang memayungi.
 
“Pada dasarnya, Tiongkok mengakui chinesee traditional medicine (pengobatan tradisional Tiongkok). Dan itu diatur oleh negara,” ujar Alvin Lie, salah satu anggota komunitas Gerakan Cintai Produk Indonesia, Kamis (4/2/2016).
 
Alvin yang dulu sempat menjabat sebagai direktur perusahaan distribusi jamu, anggota parlemen, dan kini menjadi anggota Ombudsman tersebut melihat jamu belum mendapat perlakuan yang sama dengan negara lain memperlakukan obat tradisionalnya. Bahkan pemerintah hanya promosikan jamu di bidang gerakan dan aturan pembuatan dan pengawasan.
 
“Padahal ada ranah sosiokultural dan filosofi di dalam jamu. Sayangnya, itu belum disentuh,” kata Alvin.
 
Apa yang disampaikan Alvin ini benar adanya. Aturan perundang-undangan yang khusus atau membahas jamu secara utuh belum ada. Jamu masih digeneralisasi bersama obat, suplemen, dan kosmetik tradisional lain.
 
Identifikasi dan pengawasan jamu dilakukan oleh BPOM dengan menjadikan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 007/2012 tentang Registrasi Obat Tradisional sebagai dasar dan penerapan prinsip Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Namun UU untuk jamu sendiri belum ada.
 
Jaya Suprana sebagai orang yang mengaku telah berdarah-darah dalam memperjuangkan kelestarian jamu di Indonesia juga pihatin melihat kenyataan jamu yang dianak-tirikan di negerinya sendir . Padahal jamu memiliki potensi pasar dan nilai budaya yang besar. Tetapi hal ini sering diabaikan, bahkan dikesampingkan.
 
Hal ini terbukti saat klausul UU Kesehatan yang terkait dengan jamu hilang tak berbekas. Padahal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat berjanji menyetujui Rancangan UU ini. “Tiba-tiba saja hilang, padahal tinggal ditandatangani di meja Pak SBY.”
 
Selain itu pembuktian manfaat jamu secara ilmiah medis juga belum banyak dilakukan. Alvin dan Roy membenarkan hal tersebut. Alvin menyebut pembuktian secara medis jamu sudah dilakukan beberapa kali, namun intensitasnya tidak banyak. Adapun Roy menengarai jumlahnya bahkan bisa dihitung dengan jari, saking sedikitnya.
 
“Hingga saat ini, produk obat tradisional yang terdaftar di Badan POM yang telah melalui uji klinis atau dikategorikan sebagai fitofarmaka berjumlah sebanyak 7 produk. Hal ini memperlihatkan pemanfaatan penelitian herbal oleh industri untuk pengembangan produk obat tradisional masih belum optimal,” ungkap Roy.
 
Sementara itu Jaya merasa pembuktian secara klinis dengan metode sama dengan obat farmasi untuk jamu tidaklah adil. Menurut dia, jamu memiliki fungsi untuk meningkatkan kekuatan tubuh dan menangkal penyakit. Bukan mengobati penyakit secara instan seperti obat farmasi. Selain itu, jamu membutuhkan proses panjang untuk dirasakan dampaknya. Apalagi jamu memiliki efek yang berbeda bagi tiap orang.
 
“Dan lagi, pribadi saya tidak setuju dengan sistem paten. Paten itu seperti bahasa Jawa mateni, justru mematikan racikan-racikan turun temurun yang dimiliki keluarga-keluarga peracik jamu. Coba, ada berapa banyak yang bisa meracik jamu pegal linu?,” kata Jaya Suprana,
 
Kurangnya pengakuan ini juga berasal tidak adanya pengakuan terhadap produk jamu, tapi juga tidaknya adanya sistem pengakuan terhadap “peracik jamu” secara umur.
 
Berbeda dengan tabib-tabib pengobatan Tiongkok dan dokter secara umum, peracik jamu tidak memiliki standarisasi dan sertifikasi secara khusus. Hal ini membuat masyarakat banyak beralih ke obat-obat herbal lain.
 
Alvin merasa perlu ada sistem sertifikasi dan perlindungan untuk bahan jamu dan peraciknya. Ini juga diamini oleh Roy yang menilai, perlu dibangun sistem pelayanan kesehatan dan pendidikan dokter herbal medis.
 
Selain itu Roy juga mencermati penelitian dan inovasi teknologi pengembangan jamu antara universitas atau lembaga riset dengan industri semestinya semakin ditingkatkan. Industri jamu pun perlu di dorong masuk pasar global lewat pengakuan (branding) produk jamu dengan menjaga kualitas, mutu dan keamanan.
 
Jaya merasakan hal yang sama. Menurut dia, pemerintah harus melindungi produk jamu dengan memastikan pengakuan di tingkat nasional dan internasional. Dengan membuat UU Jamu dan mendaftarkan produk jamu sebagai warisan budaya di Unesco contohnya. Sekolah jamu bisa menjadi salah satu solusi.
 
“Farmasi sudah berkonspirasi untuk membuat produk, distribusikan produk, dan memasarkannya dengan mendidik juru racik berlabel apoteker dan pemberi resep bernama dokter. Obat herbal Tiongkok juga sudah berkonspirasi sekarang,” kata Jaya.
 
Industri jamu besar dengan produknya, warung jamu racikannya, atau mbok jamu gendong dengan bahan siap sajinya, harus menjadi barisan pendorong pertumbuhan jamu.  Pemerintah harus berani bertindak dan tak setengah hati bergerak. Pelaku dan seluruh kelompok terkait juga harus memutar otak agar jamu menjadi tuan obat herbal Indonesia.
 
“Sudah saatnya kita berkonspirasi untuk jamu. Memastikan jamu dapat bertahan dan menyebarkan jamu sebagai warisan khas nusantara ke masyarakat global,” tandas Jaya.
 


(ADM)