Para Saudagar yang Tersingkir

Wanda Indana, Mohammad Adam    •    13 Maret 2017 08:42 WIB
Para Saudagar yang Tersingkir
ILUSTRASI: Pedagang menggelar dagangan mereka berupa oleh-oleh haji di lapak di pinggir Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta. (ANTARA/Fikri Adin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dari dulu, kekerabatan orang Arab dan Betawi memang erat. Semenjak tiba di Batavia, orang Arab mudah diterima penduduk lokal. Orang Arab dikenal pandai beradaptasi dan mau berbaur.



Kawin mawin antara orang Arab dan penduduk lokal yang kerap dilakukan pada masa lalu menandakan pembauran tersebut. Tak hanya itu, kedekatan hubungan pun ditingkatkan lagi hingga ke kancah perdagangan dan bahkan ranah keimanan. Sejarah mencatat, akulturasi budaya orang-orang Arab di Nusantara sudah berkembang jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Selain membuka serta memperlebar jalur perniagaan Nusantara, orang-orang Arab juga menularkan agama Islam kepada masyarakat pribumi.

Tak sekadar menjadi saudagar, orang-orang Arab pun berperan sebagai penyiar Islam. Biasanya, setelah berdagang, mereka mulai menyebarkan ajaran Islam melalui kelompok-kelompok pengajian alias majelis taklim. Bahkan, tak sedikit di antara para saudagar mereka yang mendirikan sekolah.

Syahdan, setelah Belanda menduduki Batavia dan turut mencampuri hampir semua aspek kehidupan masyarakat di Nusantara, termasuk mengatur politik pemerintahan dan aktivitas perekonomian, kedekatan Arab dan Betawi dicurigai Pemerintah kolonial Hindia Belanda. Mereka gerah dengan betapa eratnya kekerabatan Arab-Betawi, dikhawatirkan gabungan kekuatan keduanya dipengaruhi semangat “jihad” mampu memicu gerakan perlawanan dan mengguncang dominasi pemerintah kolonial.

Pada 23 Juni 1925, pemerintah kolonial mengubah peraturan ketatanegaraan dari Regerings Reglement (RR) menjadi Indische Staatsregeling (IS). Perubahan aturan itu dimuat dalam Staatsblad Nomor 415 yang mulai berlaku pada 1 Januari 1926.

Pasal 163 Indische Staatsregeling mengatur stratifikasi sosial. Aturan itu membagi penduduk di Hindia Belanda menjadi tiga Golongan. Golongan I terdiri dari orang Eropa. Golongan II adalah orang Timur Asing (Tionghoa, Arab, dan India), dan Golongan III pribumi alias bumi putera atau yang disebut inlander.

Dengan berlakunya pengaturan golongan itu, maka penduduk Batavia wajib mengikuti kebijakan kampung etnis (wijkenstelsel). Belanda juga memberlakukan kebijakan pas jalan (passen stelsel). Orang dari etnis tertentu tak bebas keluar masuk dari kampungnya, harus menunjukkan kartu pas jalan. Sementara, kartu pas itu sulit didapat. Akhirnya, interaksi antaretnis dengan pribumi menjadi terhambat.

Pemerintah Hindia Belanda berdalih, pembentukan aturan IS sebagai upaya mempermudah pengaturan etnis demi menjaga keamanan. Di balik itu, Pemerintah ingin menjatuhkan pengaruh pribumi dalam bidang ekonomi dan sosial, dan memisahkan hubungan Arab-Betawi.

Golongan Timur Asing yang diwakili Tionghoa, Arab, dan India, kian leluasa menjalankan kegiatan ekonomi. Sementara golongan pribumi, menjadi tidak berdaya di bidang ekonomi. Adanya aturan IS, pribumi tidak bisa lagi menjalin kerjasama dagang dengan Arab, Tionghoa dan India.

Peneliti Budaya dari Universitas Indonesia, Zeffry Alkatiri, mengatakan, pemukiman Arab dan Tionghoa selalu berada di koridor pasar. Tak heran, roda perekonomian banyak digerakkan kedua etnis ini. Interaksi mereka juga dekat dengan masyarakat sekitar karena kebutuhan-kebutuhan tertentu. Misalnya, terkait penyaluran keagamaan, ada masjid sebagai tempat yang mempersatukan mereka. Cara hidup di antara mereka juga tidak terlalu berbeda.

“Masyarakat Arab sudah campuran, banyak ibunya dari kalangan pribumi. Cuma fisiknya saja yang membedakan. Tapi yang lain sama, pembaurannya nyaris sempurna,” jelas Zeffry kepada Metrotvnews.com, Kamis 9 Maret 2017.

Di masa kini, populasi Arab berkurang, sebaran orang Arab di Jakarta terkonsentrasi di Petamburan, Kebon Kacang, Kebon Melati dan lain-lain. Banyak orang Arab yang menjual tanah, pindah menyebar ke wilayah lain, salah satu faktornya tidak mampu bersaing dengan pedagang dari kelompok lain.

Menurut Zeffry, ada perubahan pola perdgaangan. Dulu, masyarakat Arab berdagang dengan mengandalkan dua komoditi, yaitu furnitur dan material bangunan. Itu karena mereka dekat degan masyarakat penghasil bahan baku, jadi suplai barang seperti kayu menjadi lebih mudah. Sekarang, bisnis furnitur dan material bangunan dikuasi pedagang kelompok lain.

“Apalagi ada bahan pabrik segala macam kemudian toko-toko tersebut tidak mampu bersaing dengan yang lain, sehingga posisinya diganti pedagang lain. Begitu juga material, dulu di beberapa lingkungan banyak dan pasti orang Arab yang jual. Tapi suplainya kemudian kan dilakukan dengan sistem pabrik dan segala macam, distribusi yang tertutup, lantas tidak mampu bersaing. Hingga kemudian mereka terdesak,” terang dia.


Penyair zeffry Alkatiri - Dok. Pribadi

Lantas, orang Arab beralih komoditas perniagaan, seperti mobil dan keramik. Tapi, bisnis itu juga tak bertahan lama. “Beralih lagi ke bisnis jasa semacam pelayanan haji, umroh. Seiring pertumbuhan ekonomi masyarakat dan permintaan haji meningkat. karena mereka punya jalur,” ujar Zeffry.

Orang Arab yang merantau ke daerah banyak mendulang kesuksesan. Di sana, mereka merintis bisnis baru, utamanya di bidang tekstil. Bisnis orang Arab di daerah terbilang lebih maju. Mereka menjual produk tekstil ke Jakarta, sebagian diekspor ke luar negeri.

“Jakarta sebagai pasarnya saja. Tapi asalnya dari Cirebon, Tegal, Pekalongan, bahkan sampai Surabaya. Mereka memang memproduksi benang dan sarung hingga bagian dari kehidupan mereka. Sampai sekarang, bisnis itu besar-bearan hingga ekspor ke Afrika. Masih di produksi keluarga-keluarga (fam) lama,” jelas dia.

Menurut Zeffry, tersingkirnya orang Arab dalam persaingan bisnis bukan tanpa sebab. Orang Arab banyak bersantai. Cepat puas dengan hasil dagangan tanpa berfikir untuk mengembangkan usaha.

Di Pasar Tanah Abang, sebagai pusat perdagangan di Batavia, semakin maju. Ketika pasar semakin terbuka, banyak orang multi etnis uang yang memiliki budaya berdagang berdatangan dari daerah.

Cepatnya perkembangan ekonomi tak dimanfaatkan orang Arab. Mereka tetap santai. Banyak industri, sistem distribusi, yang hanya dikuasai sekelompok orang. Akhirnya, orang Arab tidak siap, dan kalah bersaing.

“Boleh dikata Arab tersingkir. Di era itu, ketika Jakarta berkembang, pertumbuhan populasi dan banyak etnis lain melakukan hal yang sama, tidak disadari sebagai suatu saingan yang mengancam. Masih leha-leha dan akhirnya kalah,” pungkas Zeffry.

Identitas Arab

Dalam hal perdagangan, etnis Tionghoa merupakan kelompok yang paling berkembang pesat. Orang Tionghoa mampu menguasai jalur perdagangan di berbagai sektor. Pemerintah Hindia Belanda pun memberikan perhatian lebih kepada kelompok Tionghoa, lantaran perniagaan mereka semakin berkembang dan banyak di antaranya yang dapat diandalkan sebagai kunci perekonomian.

Sementara itu, kelompok Arab dan India tak semaju kelompok Tionghoa. Penyebabnya, orang Arab dan sebagian kecil kelompok India yang beragama Islam tak hanya fokus berdagang. Mereka juga memiliki kewajiban menyebarkan agama. Kendati kebijakan wijkenstelsel dan passen stelsel sudah diberlakukan, tetap saja mereka melakukan interaksi dengan penduduk lokal. Bahkan, mereka juga berasimilasi melalui perkawinan dengan pribumi.

Sejarawan Rushdy Hoesein mengatakan, hubungan Arab-Pribumi yang semula sebatas kegiatan keagamaan bergeser menjadi kegiatan perjuangan. Orang-orang Arab, ikut membantu perjuangan melepaskan diri dari Pemerintahan Belanda. Karena memiliki nasib yang sama, orang-orang Tionghoa yang lebih dekat dengan pemerintah Hindia Belanda mulai berbelok dan ikut membantu memperjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Orang Arab sudah merasa dirinya orang Indonesia, jadi mereka ikut membantu memperjuangkan kemerdakaan Indonesia,” kata Rushdy, Kamis 9 Maret 2017.

Rushdy, yang juga keturunan Arab dari marga Alaydrus, megaku taka ada yang spesial dari kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Alsaud, 1 Februari lalu. Bagi dia, meskipun memiliki keturunan Arab, tapi Rushdy menganggap dirinya sebagai orang Indonesia.

“Kedatangan Raja Salman buat saya biasa saja. Karena saya orang Indonesia,” pungkas Rushdy.


(ADM)