Jessica dan Misteri Racun Sianida

Coki Lubis    •    19 Desember 2016 17:35 WIB
Jessica dan Misteri Racun Sianida
Jessica Kumala Wongso (ANTARA/Wahyu Putro A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Peristiwanya terjadi pada Rabu 6 Januari 2016, Wayan Mirna Salihin ambruk tak sadarkan diri usai meneguk kopi saat bercengkrama dengan dua sahabatnya. Tak sampai sejam kemudian, ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.



Kematian Mirna yang terkesan janggal pun menjadi berita menghebohkan. Sejurus kemudian, isu ini menjadi buah bibir di kalangan masyarakat dan dipergunjingkan selayaknya sebuah kasus misteri. Apalagi setelah polisi menyatakan Mirna tewas disebabkan keracunan sianida. Publik semakin penasaran lantaran ada teka-teki besar yang harus dipecahkan: siapa penjahatnya dan apa motifnya? Kafe Olivier yang terletak di Grand Indonesia, Jakarta, itu pun sontak menjadi sorotan. Karena, di situlah tempat yang dicurigai polisi sebagai arena kejahatan pelaku dalam meracuni kopi yang diminum Mirna.

Adalah Jessica Kumala Wongso dan Hanie Juwita Boon, dua sahabat Mirna yang menjadi kunci penyelidikan kasus ini. Mirna mengenal Jessica dan Hanie sejak masa kuliah di luar negeri. Ketiganya sama-sama lulusan salah satu universitas di Australia. Pada hari nahas itu, ketiganya diketahui mengadakan pertemuan di Kafe Olivier untuk kali pertama sejak lulus kuliah 2008 silam.

Setelah menamatkan kuliahnya, Jessica tidak kembali ke Indonesia. Ia memilih menjadi pekerja paruh waktu pada perusahaan kimia di Australia. Orang tua Jessica pun menetap di Australia sejak 2005, maka Ia pun jadi jarang ke Indonesia.

Jessica baru pulang ke Indonesia pada 5 Desember 2015 dan tinggal di rumah orangtuanya di kawasan Sunter, Jakarta Utara, lantaran tak kunjung mendapatkan pekerjaan tetap di Australia. Perempuan 27 tahun itu kembali ke Indonesia dengan harapan mendapat kerja yang lebih menjanjikan untuk kariernya ke depan. Saat itulah Jessica dan Mirna membuat janji untuk bertemu.

Pada Senin 18 Januari 2016, Polda Metro Jaya meningkatkan status penyelidikan kasus kematian Mirna ke tahap penyidikan. Pihak kepolisian menyebut, penyebab kematian Mirna adalah keracunan sianida, zat yang selama ini banyak dipakai di industri pertambangan logam, industri baja dan juga industri kimia.

Berdasarkan keterangan polisi, racun mematikan itu tercampur dalam kopi yang diminum Mirna. Terendus pula tindak pidana yang melatari kasus tersebut. Ini adalah pembunuhan.

Lantas, siapa yang mencampurnya? siapa pembunuh Mirna? Pertanyaan semacam ini mendadak padati linimasa media sosial di Indonesia saat itu. Perbincangan meluas.

Polda Metro Jaya pun mewacanakan pengungkapan kasus pembunuhan Mirna pada 26 Januari 2016. Tapi rencana itu batal. Tertundanya penetapan tersangka membuat masyarakat semakin penasaran.

Penundaan ini seakan menegaskan kepada publik bahwa kasus tersebut cukup rumit. Soal motif yang melatarbelakangi pembunuhan Mirna, belum terbongkar. Padahal, motif perlu diketahui jika ini benar pembunuhan.

Kian viral

Sebulan berlalu, teka-teki mengenai pembunuh perempuan kelahiran 30 Maret 1988 itu belum menemukan titik terang. Pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI belum mendapat nama tersangka meski Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) sudah dilayangkan oleh Polda. Namun, opini masyarakat sudah terlanjur memojokkan Jessica.

Sorotan itu muncul lantaran Jessica tiba lebih dulu dalam pertemuan di Kafe Olivier. Jessica juga lah yang memesankan Es Kopi Vietnam untuk Mirna. Padahal, saat itu Mirna belum tiba di lokasi.

Topik dan tanda pagar (tagar) terkait kasus kopi sianida bermunculan di media sosial. Tak hanya itu, banyak pula meme (baca: mim) tentang Jessica dan kopi bersianida beredar di jagat maya. Maka, kasus kematian Mirna ini pun kian viral. Bahkan, sadar atau tidak, netizen mulai memposisikan Jessica sebagai satu-satunya tersangka pembunuh Mirna.

Meskipun demikian, tidak semua netizen meyakini Jessica adalah pelakunya. Alasannya, motif pembunuhan cukup rumit dan belum terbongkar. Bahkan, sebagian netizen meminta agar publik tidak menggiring opini bahwa Jessica adalah pelakunya.

Spekulasi

Saat itu, masih belum diketahui secara jelas, bagaimana zat sianida bisa masuk ke dalam kopi Mirna. Motif pembunuhan juga masih misterius. Sejumlah asumsi pun beredar di tengah masyarakat.

Salah satunya, spekulasi tentang kemiripan kasus ini dengan salah satu serial cerita manga Detektif Conan. Dalam komik Detektif Conan seri ke-26, dikisahkan bagaimana memecahkan misteri pembunuhan dengan menggunakan sianida.

Selain itu, berkembang juga spekulasi yang mengaitkan kasus ini dengan fiksi tentang Jane Marple dalam novel Agatha Christie. Sosok Jane alias Miss Marple dinarasikan sebagai wanita tua di Inggris yang cerdas, kritis, dan tajam dalam menganalisa sehingga kerap membantu mememecahkan kasus-kasus kriminal yang rumit, layaknya detektif profesional.

Bila menggunakan gaya Miss Marple, maka Jessica, yang saat itu terlanjur menjadi tersangka di mata publik, tidak mungkin membunuh calon korbannya di depan matanya. Jessica itu diakui normal dan sangat pintar, tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu dengan mengorbankan dirinya.

Sejumlah asumsi hingga pelibatan Detektif Conan dan Miss Marple, dinilai sebagai ekspresi masyarakat saat menyoroti kasus kopi sianida. Boleh jadi, ekspresi seperti ini muncul karena saat itu kepolisian terus menunda penetapan tersangka kasus kematian Mirna.

Jessica ditahan

Akhirnya, setelah pemeriksaan dan gelar perkara dilakukan, pada 29 Januari 2016 polisi menetapkan Jessica sebagai tersangka. Keesokannya, polisi menjemput Jessica yang sedang berada di sebuah hotel di Jakarta Utara. Jessica ditahan.

Jessica terancam pidana pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP yang berbunyi "barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, dancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun."

Saat itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti menyebutkan, penyidik kepolisian memiliki alat bukti, antara lain 20 keterangan saksi, yaitu enam saksi ahli, dokumen, serta petunjuk lain yang terkait.

Selain itu, dalam penyelidikan kasus kematian Mirna ini, polisi menganggap Jessica tidak konsisten saat memberikan keterangan sebagai saksi.

Pengguna media sosial kembali heboh dan gembira atas penetapan Jessica sebagai tersangka. Namun, seperti fenomena media sosial umumnya, yang kontra juga bersuara. Menganggap bahwa motif pembunuhannya belum benderang.



Perang motif

Di tengah kebingungan terhadap motif pembunuhan yang masih misterius, Ayah Mirna, Edi Darmawan Salihin, menyebut sejumlah kemungkinan motif kematian anaknya. Menurut Edi, pembunuhan itu terjadi akibat perilaku menyimpang Jessica Kumala Wongso.

Pada sisi lain, pihak Jessica juga memberikan spekulasi soal motif kematian anak pengusaha kaya itu.Pengacara Jessica, Yudi Wibowo, menduga kematian Mirna bisa saja karena motif uang.

Kecurigaan Yudi mengarah kepada orang yang ingin memanfaatkan asuransi kejiwaan atas kematian Mirna. Dia curiga ada asuransi jiwa atas nama Wayan Mirna dengan jumlah besar di luar negeri. Jessica sebagai kambing hitam.

Dua motif yang muncul dari dua pihak yang saling menuduh itu sudah tentu menjadi sorotan baru. Namun, seperti diketahui, dominasi suara masyarakat sejalur dengan Ayah Mirna, yakni, Jessica lah yang membunuh Mirna.

Sedangkan motif yang sah dan cukup menjadi penguat bagi Jaksa adalah, Jessica meracun Mirna lantaran sakit hati usai dinasihati Mirna agar putus dengan pacarnya, Patrick O'Connor.

Baca: Pengacara Ungkap Sederet Kejanggalan Kasus Mirna

Sisi lain sidang

Masyarakat semakin tertarik dan penasaran dengan perkembangan kasus Jessica. Benarkah Jessica pembunuh Mirna atau sebaliknya? Sidang demi sidang pun menjadi sorotan, bahkan menjadi laporan rutin berbagai media.

Sejak 15 Juni 2016, kali pertama Jessica duduk di kursi pesakitan, hingga pembacaan vonis pada 27 Oktober 2016, total ada 28 persidangan.

Hampir setiap sidang Jessica digelar, pengadilan dipadati pengunjung. Semakin mendekat ke babak akhir, semakin banyak pula masyarakat yang datang, ingin menyaksikannya jalannya sidang secara langsung.

Saking kuatnya pengaruh kasus kopi sianida ini di masyarakat, di babak akhir persidangan, pihak kepolisian terpaksa memperketat pengamanan. Agar sidang berjalan kondusif, polisi terpaksa memisahkan pengunjung yang datang. Yaitu, masyarakat yang pro Jessica dengan yang inginkan Jessica divonis bersalah.

Baca: Pengunjung Sidang Jessica Diperlakukan Seperti Penonton Bola http://news.metrotvnews.com/hukum/zNAGMevk-pengunjung-sidang-jessica-diperlakukan-seperti-penonton-bola

Tak hanya yang penasaran yang datang ke persidangan, sejumlah pelajar pun turut hadir demi tugas sekolah. Mereka mengaku bahwa guru memintanya untuk datang dan mengamati persidangan Jessica. Hasilnya harus dilaporkan, terkait mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Tampak pula puluhan Calon Jaksa yang mengenakan seragam dan berkepala plontos. Sama, mereka mengaku datang ke persidangan ini dalam rangka tugas Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Plus-minus

Bagi sebagian kalangan, jalannya persidangan Jessica merupakan tontonan menarik. Tapi, sebagian lain menganggap sebaliknya. Kritik mulai muncul terhadap sorotan yang sangat besar terhadap kasus kopi sianida ini.

Banyak kalangan resah, bertanya-tanya, siapa Jessica, siapa Mirna? Apakah sorotan besar terhadap persidangan kasus kopi sianida itu penting untuk konsumsi publik? Pada sisi proses hukumnya, apakah sorotan besar ini merugikan?

Baca: KPI Kritisi Penayangan Sidang Kasus Kematian Mirna

Pengamat hukum pidana Universitas Indonesia, Ganjar Laksmana mengatakan, persidangan Jessica yang bersifat terlalu terbuka dinilai melanggar asas praduga tak bersalah. Karena bisa mempengaruhi keterangan ahli.

Kepada Metro TV Ganjar menuturkan, baik saksi dari pihak terdakwa maupun dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang belum bersaksi, akan mudah terpengaruh dengan keterangan saksi sebelumnya di persidangan.

Dengan begitu, yang dikhawatirkan kemudian adalah, hilangnya obyektivitas saksi dalam mengutarakan pendapatnya secara ilmiah di hadapan majelis hakim. "Harusnya saksi-saksi itu tidak boleh bertemu. Tidak boleh mencocokan kesaksian," katanya.

Arti sidang terbuka untuk umum, kata Ganjar, masyarakat bisa menyaksikannya secara langsung di ruang sidang. Bukan menghadirkan sidang pengadilan ke rumah melalui tayangan televisi secara langsung.

Hal serupa diutarakan pakar hukum dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar. Bila saksi dari kedua pihak bisa saling mengetahui keterangan yang dikemukakan, selanjutnya yang muncul hanya sebagai pembenaran.

"Mereka akan mencari bantahan keterangan saksi lawannya. Sehingga tidak murni lagi. Itu sebenarnya kerugiannya bagi penegakan hukum," katanya.

Meski begitu, Fickar mengakui sisi positif dari fenomena persidangan kasus kopi sianida itu. Yaitu, masyarakat menjadi mengerti istilah-istilah forensik, toksikologi dan istilah lain dari dunia medis yang mungkin baru bagi sebagian orang.

"Dampak lainnya, masyarakat jadi tahu proses persidangan. Masyarakat jadi tahu bahwa untuk memperoleh keadilan itu butuh proses panjang," ujar Fickar.

Banding

Palu diketuk, Jessica terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana terhadap Wayan Mirna Salihin. Dia divonis 20 tahun penjara. Vonis ini sesuai tuntutan Jaksa, tidak kurang, tidak lebih.

Keputusan ini mengecewakan Jessica. Otto Hasibuan, kuasa hukumnya, menyatakan, atas persetujuan kliennya, dia akan mengajukan banding. Bagi Otto, kliennya tidak patut dipenjara walaupun itu hanya satu hari.

"Kami prihatin dan kecewa. Keputusan hakim tidak berdasarkan bukti-bukti kuat. Karenanya, kami menyatakan banding," ucap Otto usai vonis dibacakan Hakim di PN Jakpus, Kamis (27/10/2016).

Kekecewaan atas vonis juga ditunjukkan sejumlah orang yang mengaku simpatisan terdakwa Jessica. Mereka mengaku tidak menerima keputusan hakim lantaran dinilai minim bukti.

Baca: Divonis 20 Tahun, Simpatisan Jessica Kecewa

Ada pula kalangan yang menganggap keputusan sidang Jessica di PN Jakarta Pusat akibat tergiring opini. Opini yang terbangun sejak awal dinilai sudah menyudutkan Jessica, mulai ditetapkan sebagai tersangka hingga terdakwa tunggal.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Astuti Sitanggang, mengatakan, proses hukum kasus kopi sianida selama ini cenderung menonjolkan permainan opini publik dibanding pembuktian fakta.

"Opini-opini itu bahkan berkembang liar di luar persidangan," tulis Astuti melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis, 3 November 2016.

Rabu, 7 Desember 2016, Otto pun resmi mendaftarkan memori banding ke PN Jakarta Pusat. Dalam memori banding. Otto berharap, Pengadilan Tinggi Jakarta dapat memberi keputusan teradil.


 
Populer

Berdasarkan data lembaga riset Indonesia Indicator, kuatnya pengaruh kasus kopi sianida terhadap masyarakat dan media massa, membawa nama Jessica dan Mirna ke dalam 10 besar sosok populer sepanjang 2016.

Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang mengakui, kasus kopi sianida ini mendapat sorotan yang sangat kuat dari masyarakat, khususnya dari media sosial. Media massa pun menangkap fenomena ini, bahkan turut membangun suasana.

Hasilnya, mulai dari awal kasus ini muncul hingga persidangan, bisa terbayang berapa banyak pemberitaan media massa yang muncul. Sudah tentu, selama 9 bulan itu, tokoh-tokohnya sering disebut dalam berita.

"Dari 10 nama terpopuler di Indonesia di tahun 2016, Jessica dan Mirna termasuk di dalamnya," ujar Tika kepada metrotvnews.com, Rabu (15/12/2016).

Sementara itu, "Jessica Kumala Wongso" juga menjadi salah satu frasa yang paling banyak diketik pada mesin pencari Google Indonesia. Terpidana kasus kematian Mirna ini berada pada peringkat sembilan pencarian terpopuler sepanjang 2016.

Menurut Managing Director Google Indonesia, Tony Keusgen, sejumlah kata kunci terkait Jessica, yang paling banyak diketik adalah 'Sidang Jessica Wongso', 'Kasus Jessica', 'Mirna', 'Sidang Jessica', 'Vonis Jessica'.

"Termasuk kata 'Sianida', hingga 'Berita Jessica'," kata Tony di The Gunawarman, Jakarta, Rabu (14/12/2016).

Namun, semua sadar bahwa drama panjang kasus kopi sianida ini belum berakhir, seiring rencana banding Jessica dan kuasa hukumnya. Ditambah rencana dimunculkan bukti-bukti baru.

Baca: Jessica Optimistis Menang Banding di Pengadilan Tinggi

Apakah kelanjutan kasus kopi sianida mendatang akan seheboh dan sepopuler tahun ini? Yang jelas, selama 9 bulan, kasus ini telah cukup menyita perhatian masyarakat. Bahkan, boleh dibilang turut melibatkan masyarakat.

"Ya. Kasus kopi sianida adalah salah satu fenomena tahun 2016," ujar Tika.
 


(ADM)