Menyambut Redupnya Isu SARA di Medsos

M Rodhi Aulia    •    07 September 2018 19:47 WIB
Menyambut Redupnya Isu SARA di Medsos
Aksi Lintas Pemuda Etnis Nusantara menolak isu SARA dalam Pilkada DKI Jakarta, Minggu (10/9/2016). (MI)

"Netizen ini punya jempol. Ini bagian tubuh yang otonom," kata seorang penggaung alias buzzer profesional di media sosial.



Pria itu enggan disebutkan namanya. Saat kami temui pada Jumat, 31 Agustus 2018, dia mengaku sering mendapatkan pesanan untuk keperluan kelompok politik tertentu. Pesanan yang dimaksud adalah paket pekerjaan di media sosial. Tugasnya, membentuk opini dan memengaruhi warganet.

Tak jarang pemikiran dan pilihan politiknya sejalan dengan klien yang memesan jasanya. Dan, sering pula mendapatkan pesanan sebaliknya. Namun, dia tetap menjalankan tugasnya secara profesional.

Pria berpenampilan parlente itu menyadari, dalam pekerjaan profesionalnya di belantara media sosial, pengelolaan isu SARA dan hoaks bisa membahayakan, baik secara sosial maupun terhadap dirinya sendiri. Dia pun mengamini anggapan tentang andil buzzer dalam meramaikan isu SARA.

Namun, bukan berarti dirinya tidak berupaya untuk menghindarinya. Apalagi bila sudah terjadi polemik yang tidak substansial.

Kini sang buzzer boleh sedikit lega. Banyak pengamat menduga isu SARA akan meredup. Sementara isu populisme akan meramaikan perjalanan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.
 

Pergeseran

Pengamat media sosial Nukman Luthfie mengakui upaya Presiden Joko Widodo menggandeng KH. Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya di Pilpres 2019 berhasil menciptakan pergeseran topik.

"Akhirnya yang anti-Jokowi mulai mengajak perdebatan mengenai ekonomi. Yang pro-Jokowi lagi sibuk ngomongin Asian Games. Jadi yang sifatnya dulu berantem yang enggak-enggak, sekarang sudah fokus ke hal yang fundamental," kata Nukman kepada Medcom Files, Jumat, 7 September 2018.

Fakta tak terbantahkan dalam media sosial adalah terbelahnya warganet - antara pendukung petahana dan yang bukan. Dan, itu sudah mengakar sejak Pilpres 2014 hingga terakhir Pilkada DKI 2016.

"Yang bisa membuat mereka berdua bisa saling ngomong yang hakiki, ya adalah isu yang benar-benar ada. Asian Games, bencana, dolar," ucapnya.

Dalam momentum Asian Games lalu, dalam pengamatan Nukman, kedua pihak sama-sama larut dalam euforia kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah dan pencapaian medali yang signifikan.

"Sama seperti (isu) dolar. Ini nasib negara. Akhirnya membicarakan nasib negara, dan hoaks berhenti," ujar dia.

Bagi Nukman, tidak mudah menjaga perdebatan substansial di media sosial. Kuncinya ada di kedua kubu, saling menjaga perdebatan pada tataran gagasan.

"Kalau yang berbasis kebencian, tenggelamkan saja," canda Nukman.

Para ahli juga perlu terlibat dalam belantara media sosial. Berbagi ilmu terkait bidangnya masing-masing. "Seperti mantan Menteri Keuangan Chatib Basri yang membuat thread di Twitter soal dolar."

Nukman mengatakan, ilmu yang dibagi Chatib menarik dan bermanfaat bagi kedua pihak, warganet Pro-Jokowi dan Pro-Prabowo. "Orang-orang kayak Chatib Basri sangat penting bagi Indonesia dan netizen terutama," ucapnya.

Meski para pakar bisa juga berbeda pendapat, tapi menurut Nukman hasil perdebatannya bisa mencerdaskan.
 

Demi perdebatan yang sehat

Belakangan, pengamat media sosial yang juga pendiri Drone Emprit - aplikasi intelijen media sosial, Ismail Fahmi, sedang membuat sebuah program khusus yang bisa mendorong percakapan publik ke topik yang substansial.

Contohnya, isu soal penyelenggaraan IMF-World Bank Annual Meeting 2018 di Bali pada 9-14 Oktober mendatang. Acara tersebut menuai pro dan kontra, terutama soal biaya penyelenggaraan yang menelan anggaran hingga Rp6,9 triliun.

"Aku lagi bikin project soal IMF. Nanti bisa lebih detil. Siapa yang bicara. Mereka jawab apa. Sehingga kita dengan mudah mengetahui petanya," kata Ismail, Jumat, 24 Agustus 2018.

Dari sana, Ismail akan memublikasi peta disertai data perbandingan. Harapannya, akun influencer yang pengikutnya banyak mulai serius memproduksi kicauan, dan pengikutnya bisa memahami dengan baik.

"Kadang-kadang mereka (influencer) ambil isu yang dangkal. Misalnya emak-emak, harga, utang, tenaga kerja. Kita perlu lebih dalam. How-nya ada atau tidak? Siapa tahu mereka bisa menjawab. Intinya kita ingin ikut mempertajam arah diskursus," tegasnya.

Selamat tinggal isu SARA. Selamat datang perdebatan yang sehat.


(COK)