Meminum Kopi, Mengangkat Budaya

Sobih AW Adnan    •    18 April 2016 17:25 WIB
Meminum Kopi, Mengangkat Budaya
Barista atau peracik kopi, Firmansyah atau yang akrab dipanggil Pepeng menyajikan kopi racikannya di Klinik Kopi, Yogyakarta, Jawa Tengah. (MI/Ramdani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kopi melebur dalam kehidupan dan tradisi  masyarakat dunia selama berabad-abad. Komoditas ini dikenal hampir di seluruh dunia meski dengan nama yang berbeda. Antara lain qahwah di Jazirah Arab, kahveh di Turki, kafee di Jerman, coffee di Inggris, cafe di Prancis, atau koffie di Belanda.
 
Konon kopi ditemukan pertama kali di tahun  800 sebelum Masehi di benua Afrika. Bermula dari seorang penggembala bernama Khalid, biji yang lebih mirip buah ceri ini dimasak dengan lemak hewan dan anggur. Hingga akhirnya cara itu kemudian ditiru dan dinikmati banyak orang.
 
Di Indonesia kopi dikenal mulai masa culturstelsel alias tanam paksa pada 1830 sampai 1870. Jawa dan Sumatra menjadi pulau pelopor produksi kopi melalui perkebunan yang dikelola pemerintah Hindia Belanda. Pada masa itu, kopi jenis arabica menjadi pilihan. Kompeni mendatangkan bibit bakal seduhan berkafein ini langsung dari Yaman.
 
Geliat sejarah kopi di Indonesia malah tercatat sebelum itu. Profesor ilmu sosial spesialis Asia Selatan dan ASEAN di Universiteit van Amsterdam, Jan Breman, mnengunkapkan dalam bukunya Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870,  bahwa kopi telah ditanam di Cianjur, Jawa Barat pada 1711. Dari setiap pikul yang berisi sekitar 125 pon, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) meraup untung sebesar 50 gulden.
 
Kala itu, VOC merupakan kamar dagang atau persekutuan pengusaha Belanda yang memegang hak monopoli perdagangan eskpor komoditas dan melakukan aktivitas kolonial di wilayah Nusantara.
 
Praktik tanam paksa telah berlangsung di Indonesia sejak abad ke-18 pada masa VOC di Jawa Barat yang dikenal dengan istilah Preanger Stelsel. Kelak, menurut Breman, Preanger Stelsel tak lain merupakan cikal bakal dari Cultuurstelsel. Tanaman yang wajib ditanam para petani bukan nila, teh dan tebu, melainkan kopi. Alasannya, pada saat itu kopi merupakan komoditas yang paling dicari di pasar dunia.
 
Kesuburan lahan di Jawa dimanfaatkan oleh penjajah Belanda untuk membuka perkebunan kopi. Batavia menjadi tempat pertama kali penjajah merintis pembibitan kopi pada 1690-an di perkebunan yang sekarang dikenal sebagai kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Namun, upaya tersebut gagal lantaran terjangan banjir. Pada 1696, uji penanaman kedua dilakukan, hasilnya kemudian disebarkan ke wilayah Jawa Barat. Antara lain Bogor, Sukabumi, Banten, serta Priangan. Lalu pada 1711 VOC untuk pertama kali mengekspor kopi ke Eropa melalui pelabuhan Batavia. Dari tanah Sunda inilah tanaman perdu ditanam secara paksa dari ujung timur hingga ujung barat Indonesia yang lebih dikenal dengan istilah Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) di wilayah koloni Belanda.
 
Kini, eskalasi bisnis kopi makin melebar. Sadar atau tidak, perlahan-lahan kopi mengalami pergeseran peran dan makna dalam posisinya di kehidupan masyarakat di dunia. Fenomena globalisasi dalam dunia di era modern ini, mempengaruhi bisnis kopi. Globalisasi membuat kopi tak hanya menjadi sekadar komoditas perdagangan, tapi juga melambangkan gaya hidup (lifestyle).
 
Kopi menjelma sebagai media kampanye globalisasi melalui gerai-gerai kedainya yang bertebaran hampir di seluruh penjuru dunia. Pertumbuhan pesat gerai kopi ini juga dapat menjadi salah satu indikasi bagaimana globalisasi telah berjalan dan memudarkan batas-batas kenegaraan.
 
Globalisasi boleh dibilang berhasil membawa budaya minum kopi ke dalam level yang baru. Jaringan kedai tersebut tak hanya menjual kopi, mereka juga menjual gaya hidup, bahwa meminum kopi merupakan sebuah pengalaman menyenangkan yang dapat dinikmati kapan saja. Dulu, orang memandang bahwa meminum kopi menjadi kebiasaan di pagi hari yang dibutuhkan sebagai asupan kafein yang penting bagi tubuh. Namun, nyatanya saat ini pandangan tersebut berubah bagi sebagian masyarakat. Bahkan, beberapa orang menganggap bahwa menjadi konsumen gerai kopi tertentu mampu mempromosikan status seseorang di masyarakat.
 
Starbucks dalam hal ini merupakan salah satu ikon dalam globalisasi mengingat keberhasilannya membuka sekitar 18.000 gerai kopi di seluruh penjuru dunia. Padahal, Starbucks awalnya hanya merupakan kedai kopi kecil di Amerika Serikat, namun usaha ini berkembang sedemikian rupa hingga akhirnya mampu melakukan ekspansi internasional dan menjangkau pasar luar negeri. Termasuk Indonesia.
 
Kenyataan yang menarik adalah, Indonesia merupakan negara yang selalu termasuk dalam empat besar pemasok kopi dunia. Namun, Indonesia juga menjadi pasar empuk globalisasi kedai kopi itu. Buktinya, ada 300 outlet Starbucks di Indonesia yang tersebar di berbagai pelosok kota besar.
 
Sisi lain kopi selanjutnya adalah ihwal salah satu minuman yang diperkaya keyakinan,  mitos dan spiritual. Banyak ragam cerita muncul dari secangkir kopi. Ia kerap dijadikan simbol sederhana untuk kesepakatan-kesepakatan dan gagasan luar biasa. Orang-orang sering menyebutnya “bermula dari obrolan warung kopi”.
 
Kopi dan kisah-kisah
 
Seperti telah banyak disebutkan bahwa kopi berawal dari benua Afrika, tepatnya di daerah Abyssinia. Perkenalan kopi di setiap negara hampir selalu diiringi dengan kisah ketidak-sengajaan atau bahkan persekongkolan. Di India, awal mula kopi dikenal dari aksi penyelundupan seorang bernama Baba Budan usai melakukan ibadah haji pada abad 15. Meski diceritakan tak membawa banyak bibit biji kopi dari Jazirah Arab, namun hal itu menjadi rujukan yang banyak dipakai dalam sejarah penyebaran kopi di India bahkan benua Eropa.
 
Kisah serupa terjadi di Indonesia pada abad ke-18. Pakar kopi Nusantara, Johny Rahardi menceritakan awal mula kopi Luwak yang kini masyhur di tengah para penikmatnya juga dibarengi dengan ketidaksengajaan. Menurut dia, kopi yang kini memiliki harga jual cukup mahal yakni 100 Dollar AS untuk setia 450 gramnya itu bermula dari sebuah peristiwa yang terjadi di Ambarawa, Jawa Tengah pada zaman tanam paksa.
 
“Saat itu kopi sudah menjadi hidangan yang hanya boleh dinikmati kalangan elite Belanda. Masyarakat pribumi tidak bisa menikmati kopi hasil panen. Maka para pekerja hanya memanfaatkan sisa biji kopi yang jatuh di tanah setelah dimakan luwak,” kata Johny kepada Metrotvenews.com, Jumat (15/4/2016).
 
Kopi yang keluar bersama kotoran hewan itu lantas dicuci dan dikeringkan sebelum dipanggang dan ditumbuk menjadi seduhan kopi. Melihat para pekerja yang dipergoki menikmati secangkir kopi, kata Johny, seorang mandor Belanda kemudian menuduh mereka mencuri dan menyembunyikan sebagian hasil panen untuk dinikmati sendiri.
 
Para pekerja pun kemudian disidang. Setelah mendengarkan pengakuan dari para pribumi, menurut Johny,  opsir Belanda menganggap kebiasaan meminum kopi yang keluar bersamaan dengan kotoran luwak itu sebagai kebiasaan yang kotor dan menjijikkan.
 
Namun, ia melanjutkan, lambat laun kebiasaan para pekerja meminum kopi sisa santapan luwak itu mengusik rasa penasaran para pengelola perkebunan Belanda. Akhirnya, mereka merebut kebiasaan itu karena ternyata kopi luwak dipercaya memiliki kualitas rasa yang jauh lebih baik dari sekadar kopi hasil panen biasa.
 
 Padahal, soal rasa kopi yang enak setelah dicerna oleh luwak ini juga masih mitos. Memang pencernaan luwak mengandung enzim proteinase yang dapat menguatkan rasa dan aroma kopi. “Tapi itu tidak signifikan, hanya bertahan empat jam,” kata Johny.
 
Usai peristiwa itu, kopi luwak dipercaya memiliki kualitas unggul mengalahkan kopi lainnya. Koloni dagang Belanda pun mulai mengkonsentrasikan dalam produksi kopi mahal tersebut.
 
“Setelah Belanda hengkang, kopi luwak terus dikenal sebagai brand yang baik untuk kualitas kopi. Sampai pada 1930, muncul pula pabrik kopi bermerk tugu luwak, padahal tidak mesti dari hasil fermentasi luwak,” kata Johny.
 
Keberadaan kopi juga kerap muncul dengan diiringi kisah kepercayaan khasiatnya yang dapat meningkatkan konsentrasi, termasuk dalam hal spiritual. Dalam buku Irsyadul Ikhwan fi Syurbil Qohwah wa Addukhon yang ditulis awal abad 20 oleh Syekh Ihsan Jampes, Kediri, Jawa Timur dijelaskan bahwa kopi yang mengundang polemik halal-haram di tengah ulama saat itu juga dipercaya bisa meningkatkan aktivitas ibadah.
 
“Tanpa sengaja, dalam kopi dia menemukan rasa yang menyegaran, meringankan pikiran, dan membangkitkan semangat tetap terjaga sampai waktu yang lama untuk beribadah,” tulis Syekh Ihsan saat menceritakan sosok ulama bernama Abu Bakar Ibn Abdullah asy-Syadzili.
 
Secangkir kopi di mata para sufi
 
Dalam dunia Islam dikenal tradisi tasawuf. Tasawuf yang pada awalnya merupakan gerakan menjauhi hal duniawi ini dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Sufi, yakni pelaku tradisi tasawuf memiliki catatan dan pandangan tersendiri dalam memosisikan kopi sebagai hal yang cukup istimewa.
 
Praktisi Tasawuf, Candra Malik mengatakan keistimewaan kopi di mata para sufi dimulai sejak pertama kali penemuan biji dengan aroma penuh daya pikat itu. Para sufi, kata pria yang akrab disapa Gus Candra ini sebagian menjadikan kopi sebagai daya pacu beribadah di waktu malam.
 
“Berkat jasa seekor kambing gembalaan, kaum Sufi pun menemukan kopi yang menemani mereka untuk tetap terjaga sepanjang malam dalam zikir atau terjaga dan berjaga di malam hari dengan mendirikan salat, baca Al Qur’an. Bahkan, oleh Sufi Ali bin Omar dari Yaman, kopi dijadikan obat aneka penyakit, kopi terus menyebar ke seluruh dunia dengan banyak kisah,” ujar Candra Malik kepada metrotvnews.com, Minggu (17/4/2016).
 
Menurut Gus Candra, pengistimewaan kaum sufi terhadap kopi juga dinilai dari prosesnya yang panjang dan melibatkan banyak orang. Kopi, dengan rantai proses penyajian yang panjang ini memberikan hikmah untuk meningkatkan permenungan dan rasa syukur.
 
Menurut dia, secangkir kopi bisa sampai ke hadapannya dengan melalui sejarah teramat panjang. Sejak dikenal Suku Galla di Afrika Timur pada seribu tahun Sebelum Masehi (SM), secangkir kopi itu masih berupa biji-biji yang dipanen dari kebun-kebun kopi. “Ribuan, bahkan jutaan manusia, bekerja mengerahkan jiwa raga, membanting tulang, memeras keringat, demi secangkir kopi saya ini,” ujar Candra.
 
Kebiasaan kopi yang diseduh dan disajikan ke dalam cangkir juga memiliki pemaknaan yang cukup dalam. Cangkir yang kecenderungannya memiliki tangkai oleh kaum sufi dianalogikan seolah sedang memegang telinga sendiri.
 
“Setelah kuping terpegang dan kopi mendekat, kau aktifkan lidah sebagai indera penyesap dan hidung sebagai indera pencium,”  kata Candra Malik yang mengaku sedang menirukan gurunya.
 
Mata sebagai indera penglihat, kata Candra Malik, akan menatap ke arah suwung tertentu. Lantas ketika kopi itu disesap maka panasnya secangkir kopi akan membuka pori-pori kulit dengan pola itu maka aktiflah seluruh lima indera dalam diri.
 
“Inilah mengapa tatkala mengaji tasawuf, seorang murid biasanya disuguhi secangkir kopi oleh sang mursyid,” kata dia.
 


(ADM)