Kegagalan Aren jadi Sumber Energi Baru

Surya Perkasa    •    25 April 2016 21:08 WIB
Kegagalan Aren jadi Sumber Energi Baru
Seorang warga memanjat pohon aren untuk menyadap pohon dan menampung air nira di Tikala, Toraja Utara, Sulsel. (ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia dan negara-negara dunia lainnya masih sangat bergantung ke bahan bakar fosil untuk memenuhi kebutuhan sektor energi. Seluruh dunia pun tengah berupaya untuk mengembangkan teknologi bahan bakar terbarukan untuk melepaskan diri dari ketergantungan ke bahan bakar energi dari fosil.
 
Indonesia juga termasuk dalam barisan negara-negara yang mengikuti jejak tersebut dengan mengembangkan dan menerapkan beberapa teknologi energi terbarukan, seperti panas bumi. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menjadi garis terdepan untuk pengembangan teknologi terbarukan. Etil alkohol yang berumus kimia C2H5OH yang memiliki nama lain etanol menjadi salah satu produk bahan bakar energi terbarukan yang dikembangkan di Indonesia.
 
“Bioenergi ini sudah dikembangkan sejak lama, sekitar 1980. Tapi biofuel (bahan bakar nabati) sendiri baru dengan serius dikembangkan pemerintah sekitar 10 tahun lalu,” ujar Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan kepada metrotvnews.com, Jumat (22/4/2016).
 
Niat serius pemerintah untuk beralih dari bahan bakar fosil menuju bahan bakar nabati ini bermula karena kondisi Indonesia yang semakin defisit bahan bakar. Kian lama produksi bahan bakar Indonesia semakin menurun karena menurunnya investasi eksplorasi. Baik karena alasan lapangan minyak yang semakin tua maupun karena cadangan yang terus menurun.
 
Menukik tajamnya produksi minyak ini sangat nyata terjadi era pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Pada era 1970-an kapasitas produksi minyak mentah Indonesia masih di angka 1,3 juta barel per hari. Pada tahun 1998 jumlah produksi mencapai 1,5 juta barel per hari sampai 1998. Namun angka ini menurun tajam pada 2007 menjadi 910.000 barel per hari.
 
Indonesia yang menjadi negara net-importer bahan bakar walaupun menjadi salah satu anggota Organisasi Pengekspor Minyak Dunia (OPEC), mencoba mencari langkah untuk mengurangi dan menekan ketergantungan minyak fosil. Peemerintahan SBY-JK kemudian mengeluarkan Peraturan Presiden No 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Inpres No. 1/2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.
 
Tak selang lama, terbit Keputusan Presiden (Kepres) No. 10/2006 tentang Tugas Tim Nasional (Timnas) Pengembangan BBN untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran. Timnas, antara lain, bertugas menyusun cetak biru (blue print) dan peta jalan (road map) pengembangan BBN.
 
Pakar pangan Khudori dalam bukunya Bahan Bakar Nabati di Indonesia: Program, Implementasi dan Implikasinya Pada Kedaulatan Pangan menyebut aturan tersebu berisi tentang cetak biru BBN memuat aspek lahan, infrastruktur, kelembagaan, harga dan pasar, tata niaga, dan investasi. Aturan tersebut juga akhirnya menyusun tiga produk BBN yang diarahkan, yaitu: biodiesel (kelapa sawit, kelapa, dan jarak pagar), bioetanol (singkong, dan tebu), dan bio-oil (biokerosene dan pure plant oil/PPO).
 
Kementerian dan lembaga terkait terkait seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perdagangan, dan beberapa lembaga lain mencoba merancang program untuk menunjang pengembangan biofuel ini. Beberapa jenis program dan proyek pengembangan teknologi pun dikembangkan LIPI dan BPPT.
 
Salah satu yang menjadi proyek BPPT pada tahun 2006 itu adalah pengolahan nira dari pohon aren menjadi bioetanol. Nira yang selama ini sering diolah menjadi gula merah atau minuman alkohol tradisional Indonesia seperti tuak dan arak pun ingin dijadikan sebagai bahan bakar.
 
“Sayangnya sudah tidak diteruskan pada 2009. Etanol yang menggunakan glukosa yang berasal dari aren itu sebenarnya sudah bisa dipakai. Kendalanya saat itu ketika akan didisemenasi ke industri, justru dikait-kaitkan dengan minuman keras karena etanol itu dipakai di dalam industri ini,” ungkap Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Dr. Eniya Listiani Dewi saat dihubungi dengan metrotvnews.com, Jumat (22/4/2016).
 
Gagalnya penerapan bioetanol dari aren
 
Secara sejarah, pembuatan etanol dari aren sudah dikembangkan sejak dahulu kala. Masyarakat Nusantara, seperti Tapanuli, sudah menggunakan etanol dari aren yang telah diproses sebagai minuman alkohol tradisional dengan kadar 5-35%. Potensi ini yang kemudian coba digali BPPT untuk menghasilkan sumber bioetanol baru.
 
Kadar 3-35 persen tersebut masih tergolong rendah bila ingin digunakan sebagai bioetanol. Padahal, hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) menunjukkan bahwa untuk campuran bensin diperlukan etanol dengan berkadar 99,6%. Perbedaan kadar alkohol yang cukup tinggi diakui menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti dari BPPT.
 
“Untuk minuman keras itu kan biasanya tidak beralkohol tinggi. Biasanya paling tinggi hanya 13 persen. Kalau ini dijadikan etanol untuk kebutuhan lain agak sedikit berat. Kalau itu mau dinaikkan hingga 70-90 persen akan sulit. Usaha yang dibutuhkan itu tidak akan mudah,” terang Kepala Balai Besar Teknologi Pati BPPT Dr Aton Yulianto kepada metrotvnews.com, Jumat (22/4/2016).
 
Namun setelah melakukan riset dan pengembangan selama beberapa tahun, BPPT berhasil menerapkan hingga alat produksi 8.000 liter bioetanol aren per produksi. Bahkan bioetanol berkadar tinggi ini sudah dicoba untuk dicampur menjadi bahan bakar minyak E15 (etanol 15 persen). Namun akhirnya walau akhirnya berhasil di skala lab dan pembuatan proyek percobaan skala besar, diseminasi ke industri justru membentur beberapa kendala,
 
“Tapi memang saat 2009 berhenti karena tidak hitungannya tidak ekonomis,” kata Aton.
 
Pada tahun itu, harga minyak dunia jatuh drastis. Harga minya yang berkisar USD90 - USD140 per barelnya jatuh menjadi kisaran USD35 per barel. Ditambah lagi harga bahan baku bioetanol yang semakin melonjak dan bersaing dengan kebutuhan pangan masyarakat karena krisis pangan 2008.
 
Khudori dalam tulisannya menyebut harga jagung di Indonesia mencapai rekor tertinggi dalam 11 tahun terakhir. Harga kedelai juga mencatat rekor tertinggi dalam 35 tahun terakhir, sedangkan harga gandum menjadi tertinggi selama sejarah. Stok beras dunia juga mencapai titik terendah yang mendorong harga mencapai level tertinggi selama 20 tahun terakhir, sedangkan stok gandum mencapai titik terendah selama 50 tahun terakhir.
 
Harga seluruh pangan meningkat pada angka yang amat fantastis 75 persen dibandingkan tahun 2000, beberapa komoditas bahkan naik lebih dari 200 persen. Hal ini memberi pukulan keras ke Industri biofuel.
 
“Jadi kalau memang kedua hal itu tidak sejalan, akhirnya ini tidak bisa ekonomis,” kata Aton.
 
Kondisi ini membuat banyak pihak tak percaya lagi ke biofuel. Melihat kondisi minyak dunia yang sudah “membaik” ini justru membuat biofuel, terutaman bioetanol, kehilangan pasar. Belum banyaknya pelaku industri yang bermain ditambah hilangnya dukungan dari pemerintah dan BUMN PT Pertamina (Persero), membuat pengusaha menarik diri dari industri.
 
Penerapan teknologi BPPT pun akhirnya dihentikan. BPPT yang sudah mau bicara soal kerjasama dengan Pertamina Lampung jadi membuat BPPT tak bisa bicara apa-apa. kita tidak bisa bicara apa-apa lagi karena harga minyak dunia turun drastis. Harga BBN E15 yang dikembangkan BPPT pun sulit bersaing. “Tapi itu sebenarnya tergantung ke kebijakan pemerintah,” kata Aton.
 
Setengah hati



Apa yang disampaikan Aton ini dibenarkan oleh pelaku usaha biofuel. Masalah harga bahan baku bioetanol yang masih mahal, teknologi yang belum terlalu berkembang, tidak seriusnya pemerintah terutama Pertamina dalam menjalankan keputusan presiden membuat industri bioetanol jalan di tempat.
 
Bahkan ini menjadi permasalah yang menciptakan lingkaran setan bila pemerintah tidak mengambil peran secara serius. Padahal energi sama halnya seperti pangan yang menjadi komoditas strategis.
 
Saat bioetanol di Indonesia ini harganya lebih murah dari BBM jenis Pertamax, asosiasi mencoba mendorong penggunaan etanol menjadi bahan campuran. Dengan membuat bahan bakar campuran etanol E1 (mengandung satu persen etanol) dan menerapkan penggunaan BBN dengan tegas dapat mendorong pemebentukan pasar biofuel Indonesia yang tertinggal jauh dibanding beberapa negara lain.
 
Karena keterbatasan, penggunaan bahan bakar campuran etanol ini dapat diterapkan terlebih dahulu di beberapa deaerah yang memproduksi gula seperti Malang dan sekitarnya atau Lampung tempat pengembangan bioetanol dari Aren.
 
Menerapkan aplikasi bahan bakar etanol campuran diproyeksikannya mampu mendorong industri biofuel yang tengah kritis. Keinginan membuat bahan bakar terbarukan yang lebih murah bisa dicapai bila jumlah pelaku industri bioetanol bertambah karena adanya kepastian pasar bagi bioetanol.
 
Keinginan pelaku usaha tak muluk-muluk, mereka hanya ingin bioetanol ditetapkan sebagai
 
“Tidak usah dengan Premium, tapi dengan Pertamax. Kan selisih harga tidak akan terlalu jauh jadi harga tidak akan berubah banyak. Apalagi jenis bahan bakar campur etanol itu justru ramah dengan kendaraan karena hasil pembakaran lebih bagus,” kata Paulus.
 
Dengan terciptanya pasar akan itu akan mendorong industri. Ini juga akan mendorong perkembangan teknologi baru. Bahan baku baru untuk biofuel juga akan bermunculan. Ini akan menjadi lebih murah. Tapi kalau itu berjalan. Karena kalau industri ini berjalan, pelaku akan bermunculan dan mereka juga akan memikirkan apapun untuk bisa masuk.
 
Kalau dihambat seperti ini, akan BBN bioetanol akan semakin sulit berkembang. Bahkan teknologi dan produksi bioetanol akan semakin tertinggal jauh dari biodiesel Indonesia yang sudah mampu memproduksi 6,8 juta kiloliter pada 2015. Bahkan bisa benar-benar mati.
 
“Sekarang saja pengusaha bioetanol Indonesia yang bergabung ke APORBI tinggal satu. Itupun sudah tidak produksi lagi,” kata Paulus
 
Kalau semisalnya penggunaan bahan bakar terbarukan bioetanol diterapkan dengan tegas, industri akan semakin maju. Pasar semakin besar dan akan mendorong industri. Ini juga akan mendorong perkembangan teknologi baru bagi bioetanol. Bahan baku baru untuk bioetanol juga akan bermunculan.
 
Akhirnya biaya produksi akan lebih murah dibandingkan pasaran bioetanol yang sekarang berkisal di angka Rp8.500 per liter.
 
“Tapi kalau itu bisa berjalan. Keterlibatan langsung pemerintah kalau industri ini berjalan, pelaku akan bermunculan dan mereka juga akan memikirkan cara untuk bisa masuk dan menekan harga,” kata dia.
 
Terganjal aturan Produksi bioetanol di Indonesia sangat tidak berkembang karena persoalan keterbatasan bahan dan nilai keenomiannya yang cenderung kalah ketimbang harga bahan bakar fosil sejenis. Dari hitungan bahan baku bioetanol yang jumlahnya hanya sekitar 1,5 juta ton molasses (ampas gula) tiap tahunnya.
 
Paulus menyebut, jika seluruh molasses ini dikonversi menjadi bioetanol, hanya akan menghasilkan tidak sampai 275 ribu kilo liter bioetanol berkadar tinggi. Persoalannya, industri bioetanol harus bersaing dengan industri pangan karena molasses juga digunakan sebagai bahan penyedap makanan.
 
Sebenarnya etanol memiliki banyak kegunaan bila mampu didorong produksinya. Selain bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaran bermotor atau keperluan Industri, etanol dapat digunakan untuk kompor atau keperluan farmasi dan kesehatan.
 
Walaupun bioetanol untuk kebutuhan energi sebenarnya sangat potensial, namun aturan-aturan di Indonesia justru mengganjal perkembang industri bahan bakar terbarukan ini.
 
“Tapi lagi-lagi untuk bioenergi ini kita memerlukan dukungan dari pemerintah karena selama ini kita terbentur pandangan etanol itu digunakan untuk minuman keras. Sekarang itu kita juga dibuat repot oleh hal ini. Bicara soal survey, izin dan lain-lainnya,” kata Eniya.
 
Wanita yang memegang enam paten untuk energi ramah lingkungan ini mengakui proyek bioetanol aren BPPT di Lampung pun tersandung larangan produksi minuman beralkohol.
 
Aton yang bertanggung jawab mengelola Kepala Balai Besar Teknologi Pati BPPT tempat proyek percobaan bioetanol aren dilakukan juga tak membantah perkara ini. Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 71/M-IND/PER/7/2012 untuk menghentikan pemberian izin baru bagi industri minuman alkohol dan pelarangan distribusi minuman berkalkohol. Hal ini dipertegas oleh Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol yang secara resmi menetapkan bahwa minuman beralkohol yang berasal dari produksi dalam negeri atau asal impor yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) dengan kadar sampai dengan 5 persen ke atas sebagai barang dalam pengawasan. Kementeruan Perdagangan merespon dengan membuat Peraturan Menteri Perdagangan nomor 20/M-Dag/Per/4/2014 yang membatasi distribusi minumal beralkohol. Ini semakin berdampak kepada pemanfaatan teknologi bioetanol BPPT di industri energi terbarukan.
 
Belum lagi persoalan Peraturan Daerah yang seringkali terkesan terlalu kaku.
 
“Memang betul (tersandung) soal aturan. Jadi bisa dibilang berpeluang lebih besar bagi bioetanol, itu cuma bisa digunakan untuk kebutuhan lain,” ucap Aton.
 
“Kalau tadi melihat problematika penyerapan industri etanol bahan bakar ini, jadi tidak terserap masyarakat karena ada pelarangan pembuatan industri minuman alkohol. Nah strategi keluarnya ya menaikkan grade etanol yang kita buat. Ini membuat nilai ekonominya lebih tinggi juga,” beber Eniya di kesempatan yang berbeda.
 
Salah satu yang bisa menjadi opsi adalah penggunaan bioetanol untuk keperluan farmasi dan kesehatan. Aton menyebut untuk farmasi ini tingkat konsentratnya tidak terlalu tinggi seperti yang dibutuhkan oleh bahan bakar, hanya sekitar 70 persen. Berbeda dengan kebutuhan konsentrat berkadar 99,5 persen untuk bahan bakar.
 
Etanol ini dapat digunakan sebagai alkohol steril atau campuran sirup obat batuk. Selain untuk farmasi, etanol ini juga dapat digunakan untuk keperluan teknis seperti cairan pembersih serbaguna. “Itu pakai etanol 30-40 persen tapi saat ini masih belum familiar. Industrinya belum tumbuh,” pungkas Aton.
 
Sementara itu Eniya menyebut BPPT akan fokus untuk pengembangan teknologi bioetanol untuk kebutuhan farmasi. BPPT pun akan memanfaatkan proyek bahan bakar bioetanol yang dulu gagal digunakan untuk produksi massal.
 
Eniya menyebut biaya yang dibutuhkan tidaklah besar karena hanya akan merevitalisasi alat yang sudah ada dan ditambah beberapa komponen baru. Ini akan memberikan sebuah peluang baru bagi bietanol. Bahkan sangat mungkin, produsen minuman alkohol tradiosional dapat beralih dan bergabung ke Industri ini. Ketimbang mereka membuat minuman alkohol ilegal, lebih baik bahan baku tuak, arak, ciu digunakan untuk kebutuhan farmasi atau teknis.
 
“Kita sudah usulkan ke Bappenas. Tahun 2017 kita mulai, dan akan kita hitung nilai ekonomisnya,” tegas Eniya.
 
Paulus pun merasa pemerintah dan lembaga terkait perlu mengevaluasi pelaksanaan aturan terakit energi terbarukan, bioetanol, minuman beralkohol dan dampak-dampak selama tujuh tahun belakangan. Menurut dia, kondisi saat ini menunjukkan industri bioetanol nusantara sudah sangat tidak sehat.
 
“Walaupun ribet, mulai dari harus urus izin yang sekian banyak hingga melibatkan orang cukai di setiap fase produksi sampai pengiriman, pelaku usaha tetap mau masuk. Tapi sekarang kondisi pasarnya sudah tidak jelas. Akhirnya kan bermunculan usaha-usaha bioetanol ilegal dan tidak terjaga kualitasnya. Dipakai dah tu untuk minum, akhirnya banyak kita dengar mati karena minuman oplosan,” tandas Paulus.
 
BPPT saat ini tengah mengembangkan etanol generasi kedua. Jika generasi pertama etanol lebih banyak menggunakan jagung, tebu, dan gandum, generasi kedua akan mencoba menggunakan bahan non-pati atau biomassa lain. Dipastikan bahan baku bioetanol generasi ini tidak akan bersaing dengan kebutuhan pangan seperti generasi pertama. Namun jalan Indonesia memanfaatkan etanol sebagai energi masih panjang.
 
“Kondisi sekarang nilai ekonominya tidak akan ketemu. Kecuali kalau dibuat jadi etanol keperluan lain, dibuat dalam skala besar, atau dibuat industri terintegrasi dengan banyak produk jadi. Secara teknis minuman alkohol tradisional juga bisa dibuat jadi bioetanol kebutuhan lain, tapi usahanya terlalu tidak seimbang jika tidak dalam skala besar atau dibuat industri terintegrasi,” kata Aton.
 


(ADM)