Kala Prabowo Ditinggal Sahabat

Sri Yanti Nainggolan    •    15 Maret 2019 20:35 WIB
Kala Prabowo Ditinggal Sahabat
Ilustrasi: Medcom

Keakraban yang dijalin dua sosok manusia tidak menjamin mereka selalu seiring sejalan. Bahkan, boleh jadi saling berseberangan. Kisah itu semakin nyata di gelanggang politik.



JAPTO Soerjosoemarno, Ketua Umum Pemuda Pancasila (PP) yang memiliki hubungan karib dengan Calon Presiden Prabowo Subianto, turut menambah cerita tentang politik dan persahabatan.

Sosoknya dikenal dekat dengan keluarga Presiden RI ke-2, Soeharto. Ayahnya, Soetarjo Soerjosoemarno, adalah sepupu dari istri penguasa Orde Baru itu, yakni Siti Hartina alias Tien Soeharto.

Bahkan, ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikoesoemo merupakan saksi nikah kedua orang tua Japto. Dan, kekariban terus terjalin hingga Japto dan Prabowo menua.

Tapi, di tengah perhelatan Pemilihan Presiden 2019 ini, Japto dan organisasi yang dipimpinnya menyatakan dukungan kepada pasangan calon presiden nomor 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. Padahal, sang kawan adalah rival Jokowi.



Japto Soerjosoemarno (mengenakan baret merah). (ANTARA)


"Prabowo masih keluarga saya. Kami dekat," aku Japto saat deklarasi dukungan Pemuda Pancasila kepada Jokowi-Ma'ruf di Istora Senayan, Minggu, 3 Maret 2019.

Tapi, sambungnya, dalam Pilpres butuh ketepatan memilih pemimpin. Dia yakin Jokowi akan membawa Indonesia lebih maju. Baginya, Jokowi layak terpilih kembali menjadi presiden.

Meski begitu, sebagai sahabat, Japto juga memuji Prabowo yang dinilainya mampu melihat potensi seseorang. Jika tak didukung Prabowo, kata Japto, mungkin Jokowi tak melangkahkan kakinya ke bursa Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012 silam, lantas menjadi Presiden RI.

"Beliau (Prabowo) yang atur, yang saya tau. Pak Prabowo itu orang pintar," ucap Japto.



Joko Widodo (kedua kiri) mengenakan jaket ormas Pemuda Pancasila disaksikan Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno (kiri) saat Deklarasi Relawan Pemuda Pancasila DKI Jakarta di Istora Senayan Jakarta, Minggu (3/3/2019).

 

Langkah Muchdi

Sebelum Japto, langkah serupa diambil Mayjen (Purn) Muchdi Purwoprandjono. Bulan lalu, 10 Februari 2019, saat purnawirawan perwira tinggi TNI/Polri melakukan deklarasi mendukung Jokowi-Ma'ruf, Muchdi Pr tampak hadir di tengahnya. 

Dukungan para purnawirawan TNI itu cukup mengejutkan. Pasalnya, calon presiden Prabowo Subianto berlatar belakang militer, sebaliknya Jokowi bukan kalangan tentara.

Beberapa senior Prabowo seperti Jenderal (Purn) Wismoyo Arismunandar, Jenderal (Purn) Subagyo HS, Jenderal (Purn) Fahrur Rozi, dan Jenderal (Purn) Agum Gumelar hadir di sana.

Termasuk Muchdi, selain sebagai senior, hubungan persekawanannya dengan Prabowo tak dipungkiri, baik di militer maupun politik. Keduanya pernah berada dalam satu operasi militer bersama di Timor Timur (sekarang Timor Leste).



Muchdi Pr. (MI)


Belakangan saat Muchdi menjabat sebagai Pangdam Tanjungpura, dirinya diminta untuk menggantikan Prabowo sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus pada Maret 1998, sementara Prabowo menjadi Pangkostrad.

Namun tak bertahan lama. Pencopotan Prabowo dari kedinasan TNI terkait kasus penculikan aktivis, berdampak pada Muchdi. Dia pun lengser dari Danjen Kopasus pada Mei 1998, dan pensiun dari kedinasan pada 2008.

Gantung sepatu di militer, kedua karib ini masih berkolaborasi dalam arena politik. Pada 2008, mereka mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bersama beberapa tokoh lain. Prabowo dinobatkan sebagai Ketua Umum, sementara Muchdi PR sebagai Wakil Ketua Umum periode 2008-2011.

Tak lama, namanya pun dikaitkan dengan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib. Namun, pengadilan melepaskan dirinya dari status terdakwa. Pada 31 Desember 2008, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menvonis Muchdi PR bebas murni dari segala dakwaan.

Pada Februari 2011, Muchdi hengkang dari Gerindra dan berpaling ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Saat itu Muchdi beralasan ingin mengabdi di partai berbasis Islam. Meski begitu dia tak memungkiri sempat berada di fase tak sejalan dengan Prabowo, dan sedikit melatari kepergiannya dari Gerindra.



(Dari kiri) Prabowo Subianto, Fadli Zon, serta Muchdi PR dalam Rapimnas II Partai Gerindra di Jakarta pada 2009. (MI)


Pada 2016, Muchdi melanjutkan langkah politiknya dengan bergabung ke Partai Berkarya, yang kini diketuai putera Presiden RI Ke-2 Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Saat ini Muchdi didaulat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Berkarya.

Meski dalam Pilpres 2019 ini Partai Berkarya mendukung Prabowo Subianto, Muchdi justru turut menyatakan dukungannya untuk Jokowi -- bersama para purnawirawan TNI lainnya.

Dalam sebuah video yang beredar, Muchdi mengungkapkan bahwa dirinya mantap mendukung petahana. Jokowi, kata Muchdi, sudah banyak berbuat nyata selama 4 tahun pemerintahannya.

"Apalagi saya lihat lawannya (Jokowi), Pak Prabowo, kan kawan saya. Jadi saya kira itu mungkin tak bisa dilakukan Pak Prabowo lima tahun ke depan," ucapnya.

Tapi dia menegaskan bahwa dukungannya kepada Jokowi adalah sikap pribadi, bukan suara Partai Berkarya. Juga, dipastikan tidak merusak pertemanannya dengan Prabowo.

Sementara Sekretaris Jenderal Partai Berkarya Priyo Budi Santoso menegaskan bahwa keputusan partainya masih sama, mendukung Prabowo dalam Pilpres 2019 ini.

"Sikap Pak Muchdi adalah pendapat dan manuver pribadi beliau yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Partai Berkarya," kata Priyo kepada awak media di Jakarta, Senin, 11 Februari 2019.

Dia pun meminta kepada kader lainnya di Partai Berkarya untuk tetap fokus kepada dwi sukses partai, yaitu, menang legislatif dan sukses Prabowo Presiden.

Pada sisi lain, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Arsul Sani menyambut baik dukungan dari berbagai pihak. 

"Semakin banyak orang yang mendukung Pak Jokowi, terlepas apa pun latar belakangnya, semakin bagus menurut saya," kata Arsul di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 13 Februari 2019.

Menurutnya, tak perlu terlalu memikirkan adanya tujuan dan maksud tertentu dari dukungan tersebut. Yang pasti, siapa pun yang mendukung Jokowi harus mengikuti kesepakatan yang telah diatur bersama partai koalisi.



Deklarasi Purnawirawan TNI-Polri mendukung Capres Joko Widodo - Ma'ruf Amin di Jakarta, Minggu (10/2/2019). (ANTARA)

 

Setali tiga uang Prabowo dan Sandi

Tak hanya Prabowo, pendampingnya dalam Pilpres 2019 ini, Cawapres Sandiaga Uno, bernasib serupa. Erick Thohir, teman masa kecilnya memilih mendukung Jokowi.

Bahkan, Jokowi menunjuk pendiri Mahaka Group itu sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf. Erick dianggap sebagai sosok pengusaha sukses, dan membuktikan kebolehannya tatkala dipercaya sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games 2018.

"Setiap hal yang dia pimpin selalu mendapatkan kesuksesan," kata Jokowi.

Erick dan Sandi akrab sejak kecil. Saat menempuh pendidikan di Amerika Serikat, mereka kerap saling berkunjung meski berbeda universitas. Pertemanan itu berlanjut di arena bisnis.

Keduanya pun sempat berada dalam satu organisasi yang sama. Saat Erick menjadi pengurus pusat di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Sandiaga menjadi ketua umumnya pada periode 2005-2008.



Erick Thohir. (MI)


Saat Erick dikabarkan dipilih menjadi ketua TKN, Sandi mengaku sempat merasa khawatir hubungan pertemanannya terganggu. Namun, Erick menanggapinya santai. Dia berkelakar akan meniru adegan berpelukan ikonik Jokowi dan Prabowo saat Asian Games 2018.

Rumah dinas Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menjadi saksi kedekatan mereka. Dalam momen pernikahan anak Bamsoet pada Sabtu, 8 September 20198, keduanya bertemu, lantas bersalaman dan berpelukan. Saat perbincangan mengarah ke soal Pilpres 2019, mereka justru saling menyemangati.

Saat itu pula Sandi memberikan pernyataan bahwa politik tak akan memengaruhi pertemanan mereka. Keduanya akan memerjuangkan prinsipnya masing-masing di gelanggang politik ini dengan maksimal, dan tetap menjalin hubungan baik. 

"Saya dan Pak Erick akan meninggalkan legacy bahwa politik itu tidak harus bermusuhan. Politik itu ya persahabatan tetap abadi," kata Sandi.



Erick Thohir dan Sandiaga Uno. (Medcom)


Selain Erick, perkumpulan alumni sekolah Sandi juga menyatakan dukungan pada Jokowi. Alumni SMA Pangudi Luhur (PL) yang tergabung dalam Alumni PL berSATU mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf pada 6 Februari 2019 di Jakarta. Komunitas ini terdiri dari 50 angkatan, mulai lulusan 1968 hingga 2018. Sandi sendiri adalah angkatan 1987. 

"Sandiaga Uno juga alumni PL, tapi kenapa harus dukung sesama alumni? Saat ini yang paling pas adalah Pak Presiden," kata salah satu alumni PL Yori Antar kepada para pewarta.

Arsitek yang berteman dengan Sandi tersebut akan tetap menjalin hubungan baik secara personal dan mengaku bahwa dukungan ini bukan karena masalah pribadi. Kinerja Jokowi lah yang membuat komunitas tersebut mantap berpihak ke capres nomor urut 01 itu.



Capres 01 Jokowi menyambangi acara deklarasi dukungan alumni Pangudi Luhur untuk Jokowi-Ma'ruf di Jakarta, Rabu (6/2/2019). (ANTARA)


Namun, alumni PL ternyata tak satu suara. Seminggu setelahnya, 13 Februari 2019, Sandi mendatangi almamaternya itu. Saat itu berdirilah komunitas alumni PL lain yang mendukung Prabowo-Sandi. Komunitas itu diberi nama Brotherhood for Sandiaga Uno (Bro Sandi).

"Bagi yang sudah mendukung Pak Presiden, yang kemarin diorganisasikan sahabat saya, pak Rosan (Roeslani), ya silakan. Kami di sini justru konsepnya #AnakPLDukungAnakPL," ujar Sandi.

Paling tidak, para tokoh dalam kisah ini telah memberikan contoh; pertemanan dan politik adalah dua hal yang tak bisa disamakan. Ditinggal sahabat karena berbeda prinsip dan pandangan politik, tidak berarti silaturahmi terputus.
 
(COK)