Jejak Etanol dalam Minuman Tradisional Nusantara

Sobih AW Adnan    •    25 April 2016 20:51 WIB
Jejak Etanol dalam Minuman Tradisional Nusantara
Ribuan botol minuman keras dan arak tradisional hasil Operasi Pekat pada berbagai tempat di Kota Palu, Sulawesi Tengah dimusnahkan petugas. (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah).

Metrotvnews.com, Jakarta: Kemasyhuran Singashari menemui akhir dengan raja terakhirnya, Kertanegara, terbunuh atas pemberontakan yang dikomandoi Bupati Gelang-Gelang, Pangeran Jayakatwang. Padahal bupati itu merupakan saudara ipar sekaligus sepupu Raja Kertanegara.
 
Pemberontakan Jayakatwang bermula dari hasutan Arya Wiraja karena sakit hati usai dibuang ke Sumenep. Penyerangan Jayakatwang dilakukan dengan mengepung sang raja yang tengah mabuk menggenggam tuak dalam upacara Madya, satu dari lima ritual Panca Makara yang kerap dijalani penganut Budha aliran Tantrayana.
 
Peristiwa ini menandai bahwa betapa pada mulanya tuak dan minuman memabukkan sejenisnya begitu akrab dengan masyarakat Nusantara. Ia menjadi hidangan pendamping yang selalu ada di kalangan raja-raja Hindu-Budha. Bahkan, untuk urusan-urusan keagamaan.
 
Tantrayana merupakan salah satu keyakinan lampau masyarakat tradisional yang menempatkan tuak sebagai media untuk melakukan mokswa alias menyatukan diri dengan Sang Pencipta. Dalam buku Sejarah Daerah Jawa Timur (1977), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) menyebut Kertanegara sebagai bangsawan pertama yang mengenalkan aliran dari Budha Mahayana ini.
 
“Semasa hidupnya ia (Kertanegara) menganut aliran agama yang berbeda dengan agama-agama raja sebelumnya, dianggap sebagai peletak dasar dikenalnya agama Budha Mahayana  aliran Tantrayana di Indonesia, khususnya di Jawa Timur pada abad 13 M,” tulis buku tersebut.
 
Tuak, minuman dengan kandungan alkohol hasil fermentasi nira dan beras ini berabad-abad mewarnai perjalanan sejarah masyarakat Nusantara. Meski dalam soal keagamaan, ia juga kerap ditempatkan hanya sebagai pilihan dalam menyempurnakan peribadatan.
 
“Untuk golongan pasu, minuman madya dapat diganti dengan air kelapa atau susu; madya diganti dengan lobak, mamsa diganti dengan jahe, kunir, sedangkan maithuna adalah  kenikmatan simbolik yang dirasakan oleh sandhaka bila tela menyatukan atman dengan sakti tertinggi,” tulis I Gusti Ayu Surasmi, dalam Jejak Tantrayana di Bali, yang terbit pada 2007.
 
Kini, tuak menjadi barang tabu. Ia menjadi anak tiri dalam kreasi masyarakat tradisional Indonesia. Terlepas dari perihal memabukkan yang lama kelamaan menabrak norma kesusilaan dan kesehatan, kandungan murni etanol dalam minuman beralkohol tersebut merupakan warisan agung yang semestinya bisa tetap dikembangkan untuk kepentingan masyarakat modern. Termasuk perlunya mematangkan gagasan energi terbarukan dengan memanfaatkan zat-zat etil alkohol yang dihasilkan dari proses alamiah dan tradisional.
 
Etanol dalam ragam minuman tradisional Nusantara
 
Etanol merupakan sejenis cairan turunan alkohol yang mudah menguap, mudah terbakar, dan tak berwarna. Ia sering disebut sebagai obat rekreasi paling tua. Dalam sejarah Nusantara, alkohol rantai tunggal dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O ini terkandung dalam aneka kreasi minuman tradisional, antara lain tuak, arak, dan ciu.
 
Tuak merupakan sejenis minuman beralkohol Nusantara yang dihasilkan dari fermentasi dari nira, beras, atau bahan minuman dari buah yang mengandung gula. Tuak juga bisa dihasilkan cairan pohon enau, nipah atau legen dari pohon siwalan atau tal.
 
Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno disebutkan bahwa tuak sudah ada sejak abad ke-7 Masehi. Ia merupakan kreasi turunan dari apa yang biasa dilakukan masyarakat Tiongkok Kuno saat bertamu ke Kerajaan Tarumanegara.
 
“Dari berita Cina dapat diketahui bahwa orang-orang Ho-ling mempunya kepandaian membuat minuman keras dari mayang (bunga kelapa), sehingga dapat dipastikan bahwa tuak sudah dikenal pada masa itu,” tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku yang terbit pada 2008 tersebut.
 
Selain itu, tuak juga pada masa lampau gencar diproduksi di Pulau Madura. Begitu juga dalam kehidupan klasik masyarakat Tapanuli, Sumatra Utara, khususnya masyarakat Batak. Hal yang sama dijumpai pada suku Toraja, Sulawesi Selatan. Bahkan dalam seri yang lain, Marwati Djoened menyebut tuak sebagai salah komoditas penting dalam perdagangan  masyarakat Nusantara masa lampau.
 
“Dari pasar Pasai, Pedir, dan Aceh, lada banyak diekspor dari Jambi dan Palembang; juga diekspor beras, bawang, daging, tuak, rotan, madu, lilin, kemenyan, kapas, sedikit emas, dan besi,” tulis dia dalam Sejarah Nasional Indonesia: Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia.
 
Arak
 
Meski arak dikenal di beberapa negara lain di dunia, namun arak Indonesia hanya tergolong sebagai arak asia selatan yang tidak dapat disamakan dengan arak dari kawasan Mediterania. Arak Indonesia memiliki perisa adas yang unik. Minuman yang dihasilkan dari fermentasi nira mayang kelapa, tebu, biji-bijian (beras), atau buah ini oleh masyarakat zaman dahulu biasanya disimpan dalam tong kayu agar bisa dinikmati dalam jangka waktu yang lama.
 
W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa menyebut arak pada masa lampau telah dikenal sebagai hidangan favorit yang cepat memabukkan bagi siapa saja yang meminumnya. Kehadiran arak di Nusantara diyakini muncul dari pengaruh tradisi masyarakat Tiongkok, terutama Dinasti Tang pada 618-907 Masehi.
 
“Mereka membuat arak dari bunga pohon kelapa yang menggantung. Jika mereka meminumnya, mereka cepat mabuk. Rasanya manis dan memabukan,” tulis W.P. Groeneveldt.
 
Kejayaan arak di Nusantara terus berlangsung hingga awal abad ke-18. Bahkan, di pusat Hindia Belanda pada masa kolonial masyhur sebuah merk minuman hasil penyulingan dengan nama Batavia Arrack van Oosten.
 
Tidaklah heran jika penyulingan arak disebut industri utama Batavia. Arak Batavia menjadi terkenal di seluruh Asia,” tulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia.
 
Ciu
 
Ciu dikenal untuk menyebut jenis minuman beralkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi ketela pohon cair yang terbuang dalam proses pembuatan tapai ataupun dari tetes tebu. Ciu sudah dikenal di Nusantara sejak awal abad 18. Kemunculannya berbarengan dengan kejayaan arak bermerk Batavia Arrack van Oosten pada masa kolonial Belanda.
 
Salah satu jenis ciu paling dikenal di Indonesia ialah cairan hasil penyulingan dari Desa Bekonang, Sukoharjo, Jawa Tengah. Bekonang. Kemunculan ciu Bekonang berkaitan dengan berdirinya pabrik gula Tasikmadu di Karanganyar yang pada masa itu menjadi aset penting Pura Mangkunegaran.
 
“Masyarakat Bekonang menyuling molasses menjadi ciu. Begitu juga di Pati, Jawa Tengah,” tulis Rama Prihandana dalam Bioetanol Ubi Kayu: Bahan Bakar Masa Depan.
 
Terbentur aturan



Pelarangan konsumsi minuman keras memang kerap dipicu persoalan norma yang berlaku baik di tengah masyarakat, keyakinan beragama, maupun kesehatan. Terutama dalam dunia kesehatan, minuman tradisional beralkohol yang dikonsumsi secara panjang dipercaya mengakibatkan efek buruk bagi seseorang, bahkan kematian.
 
Sejarawan Nusantara Agus Sunyoto menjelaskan bahwa minuman memabukkan bebas dikonsumsi bahkan digunakan untuk keperluan peribadatan sebelum Islam masuk. Menurut dia, masyarakat Indonesia melalui Budha Tantrayana dikenalkan dengan salah satu paket ritual dengan sebutan Ma Lima dalam upacara Panca Makara.
 
Ma Lima adalah upacara peribadatan yang dilakukan di Ksetra dengan mengadopsi lima unsur. Mamsa (daging), Matsya (ikan), Madya (arak), Maithuna (Seks), dan Mudra (semadi). Upacara biasanya dimulai dengan duduk membentuk lingkaran dengan makanan dan minuman tersedia di tengah,” kata Agus.
 
Bagi sebagian besar masyarakat Nusantara saat itu, kata Agus, ritual Ma Lima kerap mendatangkan dampak buruk. Mereka yang tak mampu dengan saksama melakukan mokswa justru merugikan orang lain seperti bertindak semena-mena atau lepas kontrol karena pengaruh alkohol.
 
“Kemudian Walisongo datang, mereka mengenalkan ajaran Islam dan membandingi  Ma Lima. Tapi, larangan Walisongo tidak menebar kebencian kepada kelompok yang melakukan, melainkan membuat budaya sendiri. Misalnya Sunan Bonang membuat tandingan dengan membentuk lingkaran jamaah yang disebut kenduri,” kata dia.
 
Islam zaman Walisongo, kata Agus, tidak serta merta menyabut kegemaran masyarakat Nusantara saat itu. Menurut dia, Walisongo masih memilah dan membolehkan beberapa jenis minuman tradisional yang dianggap tidak menimbulkan efek buruk.
 
“Arak tetap dilarang kecuali cairan nira yang manis yang biasa disebut legen. Bahkan, Gresik sebagai pusat penyebaran Islam waktu itu memproduksi legen sebagai minuman lokal,” ujar Agus.
 
Agus menganggap, jika gagasan energi terbarukan dengan memanfaatkan kandungan dalam etanol ini sudah ada sejak masa kejayaan Nusantara, maka niscaya Walisongo akan mendorong dan menyarankan pengalihan fungsi yang lebih bermanfaat ini. Hal itu, kata Agus, sesuai dengan prinsip dakwah Walisongo yang tidak berlandaskan pada kekerasan dan selalu meninjau sisi manfaat.
 
“Jika ada usaha untuk menjadikan bahan bakar dengan dukungan teknologi tentu lebih baik agar arak tidak dikonsumsi masyarakat, mengingat mudhorot (bahaya)nya lebih besar dari manfaat,” ujar dia.
 
Potensi sumber energi
 
Memang, pada dasarnya minuman beralkohol menjadi ilegal karena mengkonsumsinya akan melanggar sejumlah norma dan aturan. Namun, pelarangan minuman tradisional beralkohol dengan regulasi yang diberlakukan pemerintah ternyata tidak efektif menurunkan peredaran minuman beralkohol ilegal. Penyematan status ilegal pada produk minuman beralkohol, termasuk minuman tradisional, amat membebani pelaku usaha dan perajin lokal. Alih-alih melindungi usaha perajin minuman tradisional seperti tuak, arak, ciu, dan lain sebagainya, pemerintah malah membuat kebijakan tipikal “membakar” seluruh ladang untuk mematikan tikus kecil.

Sehubungan dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol, minuman  beralkohol  dikelompokkan  dalam  tiga   golongan. Pertama, minuman beralkohol golongan A yang mengandung etanol dengan kadar sampai dengan 5 persen. Kedua, minuman beralkohol golongan B yang mengandung etanol dengan kadar lebih dari 5-20 persen. Ketiga, minuman  beralkohol  golongan  C yang  mengandung etanol dengan kadar lebih dari 20-55 persen.

Regulasi ini memberikan kewenangan kepada para kepala daerah untuk melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap   produksi, peredaran dan penjualan minuman beralkohol tradisional  untuk  kebutuhan  adat istiadat atau upacara keagamaan di wilayah kerja masing-masing.

Padahal produksi minuman beralkohol tradisional ini berpotensi dialihkan kepada fungsiyang lebih bermanfaat.
 
Peneliti Bidang Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Haryono mengatakan upaya mempromosikan produksi bioetanol sebenarnya telah berlangsung sejak Orde Baru. Sayangnya, hal itu belum dianggap sebagai hal penting karena Indonesia sendiri masih merasa memiliki banyak cadangan minyak.
 
“Maka konsentrasi pemanfaatan bioetanol saat itu, bahkan hingga sekarang masih dalam bidang farmasi. Belum ada ekskusi nyata di bidang energi,” kata Agus saat dihubungi metrotvnews.com pada Jumat (22/4/2016).
 
Agus menjelaskan, kandungan etanol yang terdapat pada minuman tradisional beralkohol memang potensial untuk dialihkan sebagai bahan bakar bioetanol. Proses itu hanya perlu sebuah penyulingan yang serius untuk meningkatkan kadar etanol yang dimiliki dari tiap-tiap jenis minuman.
 
“Dalam produk tersebut masih ada kandungan gula. Jika hendak dijadikan energi, maka gula itu harus dimurnikan semua menjadi etanol. Karena untuk energi kandungan etanolnya harus di atas 99,5 persen, sementara di minuman paling 10 persen, itu pun sudah cukup tinggi. Perlu proses distilasi (penyulingan),” ujar dia.
 
Untuk soal kesiapan teknologi dan sumberdaya manusia yang mengelola, Agus menyatakan LIPI telah mengawal upaya ini sejak lama. Hanya saja, perlu kesamaan visi antarpihak yang terkait agar gagasan energi terbarukan dengan memanfaatkan etanol ini bisa benar-benar terwujud.
 
“Ya harus ada kesamaan visi semua pihak. Pemerintah, produsen, juga Pertamina. Terobosan ini terganjal karena belum ada regulasi yang mengatur. Malah bisa-bisa proses produksi ini enggan dilakukan karena terbentur cukai yang masih dimasukkan dalam kelompok produksi minuman keras,” kata Agus.
 
LIPI telah mengawal peralihan etanol alami menjadi energi dengan membuat skala pilot plan dari bahan baku sekitar 600 Kg. Semuanya berhasil ditingkatkan kadar etanolnya menjadi 99,5 persen sebagai syarat baku penggunaan sebagai bahan bakar pengganti minyak.
 
“Perubahan dari minuman tradisional semisal yang berbahan beras atau pun ketan dengan kandungan etanolnya dialihkan ke bioenergi sebenarnya lebih mudah. Hanya saja kita sedang mengusahakan untuk tidak menggunakan bahan pangan utama,” kata Agus.
 
Keseriusan Pemerintah
 
Potensi pemanfaatan minuman tradisional menjadi bahan bakar terbarukan ini bukan sekadar omong kosong. Peneliti Bidang Kimia LIPI lainnya, Nino Rinaldi, bahkan mengatakan cairan yang dihasilkan dari proses penyulingan ini akan memiliki kualitas lebih baik dari bahan bakar minyak bumi yang biasa digunakan selama ini.
 
“Kalau bahan bakunya dari tapioka atau umbi-umbian ongkos produksinya bisa menjanjikan dan hasilnya sesuai pasaran dunia. Setara dengan harga dan kualitas Pertamax. Oktannya juga bisa dinaikkan. Kalau kita proses itu oktannya dari 88 sampai 92,” kata Nino.
 
Perkara terwujud atau tidaknya gagasan penggunaan energi terbarukan bioetanol ini tinggal bertumpu pada regulasi, penataan sistem, dan keseriusan pemerintah. Pola produksi juga terkendala pasar karena hingga detik ini belum ada tanggapan resmi dari Pertamina sebagai kepanjangan tangan pemerintah dalam hal perminyakan.
 
“Sebenarnya upaya itu sudah ada, tinggal menunggu tanggapan dari Pertamina. Karena dalam persoalan ini otoritasnya terletak di Pertamina,” kata Nino.
 
Menurut Nino, pengalihan produksi minuman tradisional beralkohol menjadi bahan bakar terbarukan ini merupakan gagasan yang sudah sangat mendesak untuk diwujudkan. Sebab, kata Nino, akan ada banyak manfaat yang dihasilkan seperti terawatnya peluang produsen lokal agar tidak memproduksi etanol dalam bentuk minuman, memperbesar peluang kerja, serta menjaga warisan tradisi yang telah ada dan dilakukan secara turun menurun.
 
“Soal alat bisa kita buat dan kondisikan. Teknologinya sudah ada. Sampai tahapan dehidrasi dan lain-lain. Yang dibutuhkan tinggal sejauh mana keseriusan pemerintah, terutama Pertamina dalam mengusulkan regulasi dan penataan sistem.
 
Jika ini bisa dilakukan, kata Nino, maka Indonesia telah melakukan sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Indonesia akan menjadi negara percontohan dalam hal keseriusan membangun energi terbarukan, juga melakukan penataan sosial secara aksi, bukan hanya berbentuk imbauan dan larangan-larangan.
 
“Nanti justru bisa dikembangkan tidak sekadar etanol dalam minuman, atau pola ini bisa dilakukan sebaliknya. Pengalihan dimulai dari bahan dasar,” ujar Nino.

 


(ADM)