Perjuangan Yamin untuk Bahasa Indonesia

Sobih AW Adnan    •    17 Agustus 2016 22:55 WIB
Perjuangan Yamin untuk Bahasa Indonesia
Infografik. (MTVN)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pria berperawakan gagah berjuluk serba bisa. Ialah Mohammad Yamin. Ia tak hanya dikenal cakap di dalam urusan-urusan konstitusi negara. Tapi ia masyhur pula dalam bidang sastra, tatabahasa, sejarah, bahkan dalam ilmu-ilmu antropologi.
           
Pada jelang siang di sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 29 Mei 1945, Yamin diberi kesempatan untuk berkhotbah tentang gambaran dasar yang laik untuk negara Indonesia. Ia mendahului Soepomo, juga Soekarno, yang baru berkesempatan memaparkan gagasannya di dua hari berikutnya.
           
Dalam pidatonya itu, Yamin menyimpulkan ada lima peri yang sesuai dengan kebutuhan dasar negara Indonesia, yakni peri-kebangsaan, peri-kemanusiaan, peri-ketuhanan, peri-kerakyatan, dan peri-kesejahteraan rakyat. Amat mirip dengan lima poin pidato Soekarno yang kelak ia sebut sendiri dengan nama Pancasila.
 
Yamin dan perjuangan bahasa Indonesia
           
Yamin sangat mengagumi tatabahasa Sansekerta dan Jawa. Termasuk juga kekayaan sejarah di dalamnya. Maka tak aneh,  jika pria yang padahal berasal dari Minang ini berhasil menuliskan novel epik berjudul Gajah Mada dengan sangat baik. Novel yang kali pertama terbit pada 1945 ini memberikan banyak pengaruh pada karya-karya sastra selanjutnya, hingga hari ini.



“Melalui Gajah Mada sejak tahun 1945 Muhammad Yamin telah menulis epik dengan gaya yang memengaruhi semua penulis cerita epik pada masa-masa selanjutnya di Indonesia,” tulis novelis Andrea Hirata dalam kesaksian pendeknya di sampul Gajah Mada cetakan keenambelas, 2008. Penulisan novel yang satu ini juga dilatarbelakangi semangat Yamin atas kesatuan bangsa yang pernah terwujud di masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kebangkitan Nusantara sangat diidam-idamkan sosok kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat ini. Terlebih, di saat rakyat dikekang dan ditindas penuh ketidak-adilan di bawah kendali pemerintah kolonial Belanda.

Bukan sebatas Sansekerta dan Jawa. Pada akhirnya Yamin turut mendorong cita-cita terwujudnya persatuan rakyat dalam kesatuan bangsa bernama Indonesia. Setelah nama Indonesia cukup marak digunakan  tokoh-tokoh pergerakan di era 1920-an, Yamin rajin berkampanye agar terwujud pulalah satu bahasa pengantar yang sama, yakni bahasa Indonesia.

Pada 1923, Jong Sumatranen Bond (JSB) menggelar lunstrum pertamanya di Jakarta. Dalam forum penting perkumpulan pemuda dan pelajar asal Sumatera itu,  Yamin mencurahkan gagasannya tentang pentingnya memunculkan bahasa bangsa tersendiri. Yamin menulis dan membacakan pidato berjudul De Maleische Taal in het verleden, heden in de toekomst (Bahasa Melayu di masa lampau, sekarang, dan masa datang) yang menawarkan gagasan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar.

“Sayangnya, kalangan tua di dalam JSB menentang gagasan tersebut. Mereka khawatir gagasan Yamin bakal dianggap Pemerintah Kolonial Belanda sebagai sebuah upaya politik yang akan mempersulit kedudukan mereka,” tulis Restu Gunawan dalam Muhammad Yamin dan Cita-Cita Persatuan.

Perjuangan Yamin dalam menguatkan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sebagaimana amanat Kongres Pemuda Kedua pada 1928 terus berlanjut. Termasuk melalui puisi-puisinya. Bahkan jauh sebelum itu, melalui sajak yang ia tulis pada 1918, Yamin telah mengenalkan kepada bumiputra Hindia Belanda tentang istilah “Tanah Air” dan “Tumpah Darah”.

Pada batasan, bukit Barisan,
Memandang aku, ke bawah memandang;Tampaklah Hutan, rimba, dan ngarai;
Lagipun sawah, sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula;
Langit yang hijau bertukar warna;
Oleh pucuk, daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku.
(Bait pertama Puisi Mohammad Yamin berjudul “Tanah Air”).
 
Kontroversi Yamin
           
Selain dikenang secara baik di benak masyarakat Indonesia, pahlawan kemerdekaan yang meninggal 17 Oktober 1962 ini dikenal pula sebagai tokoh penuh kontroversi. Gagasan-gagasannya mengenai kebangsaan kerap dikritik tidak orisinil, termasuk penggambaran wajah  Gajah Mada yang didambakannya pernah dikatakan lebih mirip dengan raut muka dirinya sendiri.
           
Ihwal perumusan dasar negara, Yamin juga tak luput dari kritik orang-orang semasa atau setelahnya. Pidatonya di BPUPKI yang disampaikan dua hari sebelum Soekarno sering dikatakan memiliki saripati yang sama dengan Pancasila. Oleh karena itu, hasil notulensi sidang BPUPKI dan PPKI yang ia tulis ke dalam buku Naskah Persiapan Undang-undang Dasar 1945 banyak digunakan di rezim berikutnya dan diduga mendukung upaya pengurangan peran Soekarno dalam mewujudkan Pancasila sebagai dasar negara.

“Tidak benar. Bung Yamin agak licik. Sebenarnya pidato itu adalah yang diucapkan dalam sidang Panitia Kecil. Bung Karno-lah satu-satunya yang tegas-tegas mengusulkan filosofishe grondslag untuk negara yang akan dibentuk, yaitu Pancasila. Hanya urutannya sila Ketuhanan ada di bawah,” ucap Mohammad Hatta sebagaimana dikutip Suwarno dalam Pancasila Budaya Bangsa Indonesia.

Kontroversi Yamin lainnya adalah saat ia menjabat sebagai Menteri Kehakiman pada 1951-1952. Yamin membebaskan tahanan politik yang dipenjara tanpa proses pengadilan. Tanpa grasi dan remisi, ia mengeluarkan 950 orang tahanan yang dicap komunis atau sosialis. Atas kebijakannya itu, ia dikritik oleh banyak anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun Yamin berani bertanggung jawab atas tindakannya tersebut.

Terlepas dari kontroversi yang ada, Yamin tetaplah Yamin. Ia telah memberikan sumbangsih yang tak sedikit terhadap bangsa. Utamanya adalah dalam penguatan bahasa dan sastra Indonesia.

“Bung mencintai Tanah Air dan saya pun mencintainya, cinta yang tidak terbelah lagi,” ucap Buya Hamka, seorang yang kerap berseberangan dalam dunia politik maupun sastra, di hari terakhir Yamin.
 


(ADM)