Perkara Tak Mudah untuk Jamu

Surya Perkasa    •    08 Februari 2016 19:31 WIB
Perkara Tak Mudah untuk Jamu

Metrotvnews.com, Jakarta: Kebaya batik berwarna coklat tua beraksen biru membalut tubuh paruh baya Sutarmi. Batik berwarna coklat tua dibalutkankan di pinggangnya. Sutarmi dengan langkah pasti menyusuri gang kecil di kawasan Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur.
 
Bakul berukuran cukup besar dengan isi botol-botol beragam racikan dipanggul Mbok Yani, sapaan bagi langganan Sutarmi. Sesekali menarik minat pembeli, Mbok Tarmi mengeluarkan suara keras namun tetap lembut terdengar telinga. “Jamu! Jamu!”
 
Yuli, seorang ibu rumah tangga beranak dua, menjulurkan kepalanya di atas pagar seraya berkata “Mbok, kunyit asem!”
 
Mbok Tarmi yang melangkah dengan tegap walau telah berusia kepala lima langsung melengos ke arah rumah Yuli. Mbok Tarmi melepaskan ikatan kain panjang yang membalut bakul dagangan seraya bertanya, “Kunyit asemnya untuk siapa aja buk?”
 
“Untuk saya saja. Si Fifi beras kencur,” kata Yuli dengan senyum ramah.
 
Yuli pun terdengar memanggil sang anak yang masih memakai seragam putih biru. Gelas belimbing berisi cairan berwarna kecoklatan ditenggak Yuli dengan cepat. Fifi pun langsung menenggak minuman berwarna seperti kopi susu yang dituangkan Mbok Yani. Dengan dahi bekernyit.
 
Jamu beras kencur, salah satu dari sekian banyak ramuan herbal khas nusantara yang bernama jamu nan berusia ratusan tahun. Minuman ini bertekstur sedikit kesat dari beras tumbuk yang telah disangrai bercampur kencur. Ramuan sederhana ini memiliki banyak khasiat. Harganya pun relatif terjangkau oleh masyarakat kalangan bawah sekalipun.
 
Warisan budaya
 
Bos PT Jamu Jago, Jaya Suprana, menyatakan bahwa jamu merupakan salah satu warisan budaya Nusantara.
 
Dalam perbincangan dengan metrotvnews.com di Jakarta, Sabtu 6 Februari 2016, Jaya menuturkan bahwa jamu sebagai pengobatan tradisional yang telah berusia berabad-abad. Penggunaan obat tradisional di Indonesia sudah berlangsung berabad-abad lamanya, jauh sebelum obat modern ditemukan dan dipasarkan.
 
Tidak ada yang dapat memastikan sejak kapan pengobatan herbal tradisional khas nusantara ini pertama kali diperkenalkan. Namun penggunaan jamu tercermin pada lukisan di relief Candi Borobudur dan resep tanaman obat yang ditulis dari tahun 991 sampai 1016 pada daun lontar di Bali.
 
Jamu sendiri merupakan pengobatan khas Indonesia yang diyakini hampir tak memiliki efek samping. Selain itu, kekhasan jamu berasal dari bahan-bahan yang juga tumbuh-tumbuhan asli Indonesia.
 
Bahan baku jamu dan obat tradisional yang tercatat di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berjumlah ribuan. Bahan baku (simplisia) yang berasal dari tumbuhan, hewan, ataupun mineral alam ini berjumlah 4671 simplisia. Sedangkan 10 peringkat bahan baku asli Indonesia yang paling banyak digunakan merupakan bahan baku jamu yang banyak dipakai.
 

 
Namun kekhasan ini semakin terancam. Beberapa bahan baku jamu Indonesia diincar asing untuk dipatenkan. Terang saja ini akan mematikan pengobatan khas Indonesia jika tidak dilindungi segera.
 
Pamor jamu seakan semakin terpinggirkan dengan masuknya obat modern. Pengobatan alamiah untuk kesehatan yang memiliki nilai sosio-kultural ini seakan semakin terasing di negeri sendiri.
 
Jamu dan obat modern
 
Jaya tak membantah farmasi memiliki kelebihan tersendiri dalam pengobatan.  Namun, jamu tidak boleh dibenturkan dengan obat farmasi karena keduanya bertarung di ranah yang berbeda.
 
“Obat farmasi itu instan, karena hasil ekstrak kimiawi dan berdosis tinggi. Sedangkan jamu itu fungsinya meningkatkan daya tahan tubuh dan menangkal penyakit. Jamu pun harus dikonsumsi secara rutin dalam waktu cukup lama untuk menunjukkan hasil, obat farmasi kan tidak,” kata dia.
 
Jaya menganalogikan, jamu selayaknya tokoh politikus dan negarawan yang membina dan membangun bangsa secara perlahan. Sedangkan obat farmasi bak jenderal perang yang bermanfaat untuk memerangi penyakit.
 
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy A Sparinga menjelaskan perbedaan obat farmasi. “Perbedaan paling penting dari jamu atau obat tradisional dan obat modern adalah dari karakteristik produk dan penggunaannya sebagai terapi,” ujar Roy kepada metrotvnews.com, Minggu (7/2/2016).    
 
 
 
Namun memang, salah satu alasan yang membuat masyarakat lebih percaya obat menjadi pengobatan kesehatan utama dan jamu hanya menjadi pengobatan alternatif.
 
Roy menyatakan pembuktian khasiat dan keamanan jamu lebih secara empiris. Dengan kata lain, pembuktian lebih berasal dari riwayat penggunaan turun temurun tanpa dasar klinis menjadikannya hanya seolah “obat alternatif”.
 
“Sedangkan di dalam sistem kesehatan nasional, penggunaan obat untuk terapi membutuhkan bukti ilmiah terkait khasiat dan keamanannya,” kata Roy.
 
Namun pembuktian ilmiah ini menurut Jaya sebagai hal yang tidak adil karena jamu bukan hasil dari produk farmasi. Menurut dia dunia farmasi sudah menciptakan sistem kesehatan yang sulit dimasuki pengobatan alternatif.
 
“Jadi jamu, pengobatan nusantara, berusaha dimatikan. Tapi ini bukan berarti saya anti-farmasi. Tapi memang sistemnya begitu,” kata Jaya.
 
Kurangnya pembuktian ilmiah ini memang jadi permasalahan tersendiri. Namun lambat laun pembuktian tumbuhan sebagai bahan pengobatan ilmiah semakin diakui.
 
Menurut WHO, sekitar 25% obat modern atau obat konvensional berasal dari tumbuhan obat, seperti artemisinin untuk obat malaria yang berasal dari tanaman Artemisia annua, obat kanker Vincristin yang berasal dari isolasi Catharanthus roseus (tapak dara), dan beberapa hasil isolasi lainnya.
 
Tren pengobatan natural dan tradisional lambat laun semakin terlihat. Namun yang menjadi pertanyaan, mampukah jamu Indonesia bersaing melawan farmasi yang mulai pindah haluan?
 
Gempuran produk non-jamu
 
Tren pengobatan tradisional dan obat-obat berbahan alami semakin nyata adanya. Namun yang disayangkan, jamu bukan ujung tombak perubahan tren.
 
Pengobatan tradisional yang justru mempopulerkan alternatif alami adalah pengobatan tradisional Tiongkok. Pengobatan traditional Tiongkok (chinesse traditional medicine, atau CTM) ini menjadi populer. Tiongkok melakukan standarisasi dan sertifikasi yang didukung oleh negara. Ini pula yang membuat CTM lebih mudah diterima.
 
 “Itu yang tidak kita punya. Mereka (Tiongkok) menjadikan CTM sebagai produk khas. Itu yang seharusnya kita lakukan terhadap jamu,” ujar penggiat gerakan cintai produk Indonesia, Alvin Lie kepada metrotvnews.com, Kamis (4/2/2016).
 
Tidak hanya sistem, keilmuan dan industri obat tradisional Tiongkok lebih cepat melangkah. Ini bisa terjadi karena banyaknya penelitian ilmiah yang dilakukan CTM.
 
Industri jamu dan obat tradisional di Indonesia sendiri memiliki pertumbuhan yang cukup baik. Namun sebagian masih berupa Usaha Kecil dan Mikro.
 
Berdasarkan data yang tercatat di Badan POM, setidaknya terdapat 626 perusahaan/sarana aktif yang mendaftarkan produk Obat Tradisional (OT) ke Badan POM, dengan rincian:
 
Hanya sebanyak 103 Industri Obat Tradisional (IOT) terdaftar di BPOM. Sedangkan sisanya berupa Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) sebanyak 460 perusahaan dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT) sebanyak 63 perusahaan. Sebanyak 9.645 jenis merupakan Obat Tradisional Lokal dan 37 jenis Obat Tradisional Lisensi terdaftar. Namun sekitar 20 persen, atau tepatnya 1.825 jenis Obat Tradisional Impor berhasil penetrasi pasar.
 
Hal ini tidak diimbangi dengan pembuktian ilmiah dampak produk pengobatan jamu. Hal ini sangat disayangkan oleh Roy karena sedikitnya uji klinis dilakukan ke produk hasil budaya Nusantara ini.
 
“Hingga saat ini, produk yang terdaftar di Badan POM yang telah melalui uji klinis atau dikategorikan sebagai fitofarmaka berjumlah sebanyak 7 produk,” ungkap Roy.
 
Rendahnya penelitian secara klinis ini membuat jamu sulit bersaing. Apalagi, obat tradisional tidak hanya dilirik pelaku industri obat tradisional saja. Perlahan perusahaan farmasi juga terlihat semakin tertarik untuk terjun.
 
Roy mengakui banyak industri farmasi yang mengarahkan produksinya ke produk obat tradisional karena meningkatnya tren secara nasional dan global, “semangat back to nature”.
 
Namun untuk farmasi tidak bisa sembarangan masuk karena Peraturan Menteri Kesehatan nomor 007 tahun 2012 tentang Registrasi Obat Tradisional. Industri Farmasi tegas tidak boleh memproduksi obat tradisional.
 
“Apabila industri farmasi ingin memproduksi obat tradisional, maka harus memiliki izin di bidang obat tradisional dan menerapkan prinsip cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) untuk menjamin mutu produk, terutaman dari cemaran senyawa kimia sintesis,” terang dia.
 
Selain menerapkan CPOTB dalam proses produksi, produsen juga harus memenuhi persyaratan pendaftaran sebagai pembuktian akan komitmen jaminan keamanan, mutu dan manfaat, dan komitmen ini harus konsisten dilakukan setelah produk diedarkan di pasaran.
 
Jamu harus dilindungi. Semua sepakat di tataran wacana. Namun jika tidak ada tindakan jamu bisa digempur habis-habisan melawan obat herbal asing dan farmasi yang mulai membawa embel-embel alami. Jamu pun bisa-bisa hanya menjadi tuan rumah bagi pengobatan asing. Bukan tuan pengobatana di rumah sendiri.
 
“Berbagai upaya perlu dilakukan oleh berbagai pihak, melibatkan sinergisme Akademisi, Bisnis dan Pemerintah,” kata Roy
 
Apalagi bila orang Indonesia sendiri gengsi mengakui jamu. “Waktu itu saya ingin mengajukan jamu sebagai warisan budaya Indonesia ke UNESCO. Saya malah ditertawakan. Kalau orang UNESCO-nya sih enggak masalah. Ini orang Indonesia,” beber Jaya sambil menggelengkan kepala.
 
Kenapa kita masih malu mengakui herbal khas nusantara bernama jamu?
 


(ADM)