Menyingkap Sepenggal Riwayat Batik

Wanda Indana    •    05 Oktober 2017 21:54 WIB
Menyingkap Sepenggal  Riwayat Batik
Perajin mengangkat kain batik motif klasik yang selesai diberi pewarnaan di sebuah tempat pembuatan batik di Imogiri, Bantul, Yogyakarta (ANTARA/Sigid Kurniawan)

Metrotvnews.com, Kendal: Kekayaan budaya Indonesia melahirkan beragam jenis wastra yang berbeda-beda dan unik di tiap daerah. Wastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yang berarti sehelai kain yang dibuat secara tradisional.
 
Buku karya Quoriena Ginting yang berjudul Nusawastra Silang Budaya memperlihatkan betapa Indonesia sangat kaya dengan khazanah kekainan. Buku setebal 459 halaman ini tidak hanya fokus membicarakan salah satu jenis wastra daerah tertentu, tetapi menampilkan keindahan wastra Indonesia sejak dari Aceh hingga ke ujung Nusa Tenggara.
 
Termasuk di dalamnya menyorot Pulau Jawa yang kaya akan ragam batik. Antara lain batik keratonan atau pedalaman (Solo dan Yogyakarta serta Banyumas) dan ada batik pesisiran (Pekalongan, Indramayu, Garut, Tasikmalaya, Kudus, Lasem), serta ada batik saudagaran. Ada batik kompeni, tapi ada pula batik djawa hokokai dan djawa baroe.
 
Selain itu, ada batik yang tercipta khas karena prosesnya, yakni batik tiga negeri, batik kopi tutung, dan batik gentongan. Tentu hal itu mengecualikan batik printing. Dalam buku ini, printing sama sekali bukan termasuk batik.
 
Meski diterbitkan dan diedarkan secara terbatas, namun buku itu mengundang kekaguman atas kekayaan wastra Indonesia. Oleh karena itu, bangsa Indonesia patut bangga pada budayanya sendiri. Termasuk dalam hal ini bangga pada batik.
 
“Saya paling tidak suka sedikit-sedikit batik dibilang terpengaruh budaya luar. Memangnya kita tidak berbudaya? Memangnya nenek moyang kita tak berbudaya?,” ujar pengusaha batik Shuniyya Ruhama saat berbincang dengan Metrotvnews.com di Weleri, Kendal, Jawa Tengah, Jumat 29 September 2017.
 
Sebagai pebisnis sekaligus aktivis batik, Shuniyya merasa risih jika ada yang menyebut batik Nusantara disebut terpengaruh budaya luar. Kata dia, semua motif dan corak batik Nusantara murni hasil daya kreasi para leluhur.
 
Ia menjelaskan, budaya bangsa Indonesia memiliki kearifan lokal. Banyak bangsa lain yang datang jauh-jauh mempelajari kebudayaan asli Indonesia.
 
Oleh karena itu, ia membantah anggapan tentang berkembangnya motif batik Little Red Riding Hood pada 1840-1940 karena terpengaruh budaya Belanda. Melainkan orang Belanda yang terpengaruh budaya batik dan menambah khazanah budaya tanah air.
 
“Cara membacanya yang salah. Batik kita tidak terpengaruh sama orang Belanda, India, atau Tiongkok, mereka yang jauh-jauh datang ke sini untuk menambah khazanah budaya kita. Coba sekali-kali kita bersikap superior, tegak busungkan dada, ini masalah nasionalisme,” pekiknya.
 

FOTO: Perajin membuat motif batik tulis (ANTARA/Destyan Sujarwoko
)



Simbol
 
Batik adalah khazanah milik bangsa Indonesia yang patut dijunjung. Namun, dalam perkembangannya ada banyak hal yang membuat bangsa ini inferior. Karena kemajuan zaman serba diukur dari peradaban Barat.
 
Batik yang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia, menunjukkan peradaban bangsa Indonesia tak kalah dengan peradaban bangsa lain. Ini seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri.
 
Dengan sejarah panjangnya, perkembangan batik sangat beragam di berbagai daerah. Batik sempat menjadi tren gaya berbusana tradisional, sebagai simbol perlawanan, sampai menjadi media penyebaran agama. “Ada juga simbol batik sebagai media dakwah, memasukkan nilai-nilai religiusitas di dalam batik,” kata Shuniyya.
 
Tapi, menurut Shuniyya, lagi-lagi bangsa Indonesia mengalami pasang surut batik. Kalau dulu, batik dijadikan sebagai lambang-lambang tertentu dan hanya boleh digunakan oleh kalangan tertentu. Dinamika kondisi sosial turut mempengaruhi perubahan batik secara perlahan. Menjadi bebas dipakai kalangan luas hingga penggunaan motif batik disesuaikan dengan aktivitas yang sedang dilakukan.
 
Mataram
 
Shuniyya menuturkan, kiprah Trunojoyo dengan segala gerakan perlawanannya turut berperan dalam penyebaran budaya batik yang meluas hingga ke luar Kerajaan Mataram. Hikayat sejarah pemberontakan Trunojoyo dimulai setelah Sultan Agung Hanyakrakusuma yang menciptakan motif batik parang barong meninggal, dan digantikan Raja Amangkurat I. 
 
Trunojoyo adalah seorang bangsawan Madura. Ia mencetuskan perlawanan terhadap kekuasaan Amangkurat I yang memerintah di Mataram karena dianggapnya tak adil dan bertindak sewenang-wenang.  Pada 1677, Raden Trunojoyo bersama pasukannya yang bermarkas di Kediri menyerang dan berhasil melumpuhkan keraton Mataram.
 
Hal ini mengakibatkan Amangkurat I melarikan diri ke Batavia demi meminta bantuan Perusahaan Hindia Timur Belanda alias VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Selain memonopoli perdagangan rempah-rempah, VOC juga berbisnis jasa menyewakan pasukan perang dengan kekuatan senjata api.
 
Dalam pelariannya itu, Amangkurat I yang membawa putera dan para pengikutnya itu sempat singgah di beberapa wilayah. Sepanjang rute yang dilewatinya, Amangkurat I meninggalkan banyak pembatik di persinggahannya. Karena tidak semua pengikutnya sanggup menempuh perjalanan hingga ke Batavia. “Makanya muncul batik Kendal, batik Batang, dan batik Pekalongan,” beber Shuniyya.
 
Namun, belum sampai Batavia ternyata Amangkurat I wafat di Banyumas. Ia kemudian dimakamkan di Tegal. Sebelum meninggal, ia berwasiat kepada putranya Raden Mas Rahmat agar melanjutkan perjalanan ke Batavia meminta bantuan VOC untuk merebut kembali tahta Mataram dari tangan Trunojoyo.
 
Raden Mas Rahmat inilah yang selanjutnya diangkat sebagai sultan bergelar Amangkurat II. Kelak ia mendirikan Kasunanan Kartasura sebagai kelanjutan Kesultanan Mataram.
 
Amangkurat II akhirnya berhasil mencapai Batavia. Singkat cerita, VOC bersedia membantu Amangkurat II dan mematahkan perlawanan Trunojoyo. Setelah mengalahkan Trunojoyo, VOC meminta balas jasa kepada Amangkurat II untuk menyerahkan kawasan pesisir utara Jawa agar menjadi bagian wilayah kekuasaan Belanda. Kepentingan VOC mencaplok pesisir utara Jawa adalah untuk membangun pelabuhan-pelabuhan strategis yang berada di bawah naungan kompeni.
 
“Tidak ada makan siang yang gratis. Pada akhirnya ada perjanjian, semua wilayah pesisir utara berada di wilayah protektorat VOC. Itu mengapa Semarang dan Surabaya dibangun Belanda. Semarang bisa menjadi Batavia kedua. Ini kaitannya dengan batik di Semarang, ada batik yang kuno namanya batik tiga negeri,” papar Shuniyya.
 
Sementara itu, batik di Kendal berjalan sendiri-sendiri. Kini, motif batik asli Kendal sudah tidak dapat ditemukan. Ini disebabkan pernah terjadi putus generasi pembatik di Kendal. Sementara batik Batang, batik Pekalongan, dan beberapa batik pesisir lainnya justru tumbuh mengikuti zaman.
FOTO: Perajin menyelesaikan pembuatan motif batik. (MI/Arya Manggala
)
 
Pusaka
 
Setelah perjanjian damai di Desa Giyanti disepakati pada 1755, wilayah Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua: Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Surakarta dipimpin oleh Susuhunan Paku Buwono III, sementara Ngayogyakarta atau lazim disebut Yogyakarta dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.
 
Dua hari setelah Perjanjian Giyanti, kedua pimpinan kerajaan melakukan pertemuan di Lebak, Jatisari. Pertemuan itu membahas peletakan dasar kebudayaan untuk menekankan perbedaan identitas kedua wilayah yang sudah menjadi dua kerajaan yang berbeda.
 
Pembahasan dasar budaya terkait dengan tata cara berpakaian, adat istiadat, bahasa, gamelan, tari-tarian, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya tradisi budaya batik. Sultan Hamengku Buwono I memilih untuk melanjutkan tradisi lama budaya Mataram. Sementara itu, Sunan Pakubuwono III memilih menciptakan bentuk budaya baru dengan modifikasi budaya lama.

“Kesepakatan itu membawa implikasi pada perkembangan batik. Salah satu perjanjian Giyanti, pusaka-pusaka kerajaan mataram jatuh ke Yogyakarta, otomatis Solo (ibu kota Surakarta) tak punya pusaka, padahal batik memiliki simbol kultural yang luar biasa,” kata Shuniyya.
 
Kasultanan Ngayogyakarta tampil lebih berpengaruh karena mewarisi budaya Mataram asli. Untuk menyanginya, Kasunanan Surakarta membuka batik untuk rakyat. Ini yang mendasari mengapa batik Solo lebih dinamis ketimbang batik Yogyakarta.
 
Seiring waktu, Yogyakarta merasa tersangi sebagai pewaris kebudayaan nenek moyang. Betapa tidak, Kesultanan Ngayogyakarta melarang penggunaan batik secara luas. Di Yogyakarta, batik hanya boleh digunakan kalangan terbatas, yakni hanya untuk kalangan kerajaan.
 
Pada masa kepemimpinan Sri Sultan HB X, batik mulai dibuka untuk umum.  Hanya saja, masyarakat dilarang menggunakan batik yang memuat pakem-pakem keraton. Masyarakat boleh menggunakan motif pakem tapi tidak berada di lingkungan keraton. Misalnya motif parang barong yang diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma.
 
“Untuk batik pakem itu boleh dipakai tapi harus ada modifikasi. Dan tidak dibenarkan memakai batik pakem di wilayah keraton. Karena bagaimanapun juga, keraton adalah wilayah pertahanan kebudayaan, “ ungkap Shuniyya.

Motif
 
Ketika batik tak lagi menjadi milik keraton maka perkembangan batik tumbuh pesat di luar, di lingkungan masyarakat sipil. Menurut Shuniyya, ini menyebabkan adanya perbedaan nama motif batik antara Yogyakarta dan Surakarta. Misalnya, motif sidomukti yang berada di Yogyakarta berbeda dengan yang ada di Surakarta. Adapula wujud motif batik yang sama tapi memiliki nama yang berbeda..
 
Karena lebih dinamis, motif batik-batik Solo lebih beragam karena terbuka pada kreativitas. Kondisi ini membuat batik Yogyakarta jauh tertinggal dan kalah pamor. Ketika Surakarta menciptakan motif truntum pada ke abad ke-16, maka Yogyakarta mengambil motif tersebut dengan sedikit modifikasi lalu diberi nama motif kembang jeruk.
 
“Ada lagi yang lain. Orang Surakarta bikin motif udan liris, nah di Yogyakarta berubah menjadi motif rujak senthe,” imbuh Shuniyya.
 
Motif udan liris di Solo dan motif rujak senthe di Yogyakarta hanya memiliki sedikit perbedaaan. Udan liris memiliki warna latar yang redup seperti hitam dan cokelat. Sementara itu, motif rujak senthe di Yogyakarta ada tambahan warna putih pada latarnya.
 
Pasa masa itu, batik ditarik ke ranah politik sampai sedemikian rupa. Tak cuma di situ, Keraton Surakarta memiliki motif batik slobok yang digunakan dalam suasana duka cita atau berkabung. Motif slobok sendiri bermakna melebarkan atau longgar. Ini dimaksudkan untuk memberi doa agar keluarga yang ditinggalkan ikhlas dan yang meninggal dilapangkan jalannya menuju Sang Pencipta.
 
Sementara di Yogyakarta, batik motif slobok justru digunakan untuk bercanda atau dalam suasana suka cita. Motif ini muncul dalam pentas wayang wong atau wayang orang yang perankan tokoh punakawan (Petruk, Gareng, Bagong, dan Semar). Punakawan adalah empat tokoh dalam pewayangan Jawa yang memiliki tingkah jenaka.
 
Solo tak tinggal diam, jika Yogyakarta memiliki motif kawung yang digunakan dalam suasana duka cita. Maka motif kawung di Solo dipakai seseorang dalam suasana suka cita. Tokoh punakawan di Solo mengenakan batik motif kawung dalam berlakon.


FOTO: Karyawan menata batik yang dipajang dalam Pameran Batik Jawa. (ANTARA/Ari Bowo Sucipto)
 
Krisis
 
Pada 1929, ekonomi Amerika Serikat secara mendadak mengalami depresi hebat. Krisis ini seketika menghancurkan sendi-sendi perekonomian AS yang ketika itu masih berkembang. Perisitwa itu lalu dikenal sebagai Depresi Besar atau Peristiwa Malaise. Imbas krisis AS juga merambat ke volume perdagangan negara-negara dunia.
 
Termasuk tersendatnya impor kain mori sebagai bahan dasar membatik ke Indonesia. Para pembatik harus memutar otak agar tetap bisa memproduksi namun persediaan kain tetap tersedia. Akhirnya, pada 1930, terciptalah motif batik isuk sore di Pekalongan. Maksud motif isuk sore adalah memberikan dua desain batik berbeda pada satu helai kain yang bertemu di bagian tengah kain secara diagonal. Satu desain motif isuk sore selalu berwarna gelap, dan warna motif di sisi lainnya berwarna terang.
 
Biasanya, sisi motif yang berwarna gelap dipakai di bagian luar untuk pagi dan siang hari. Sementara itu, bagian batik yang berwarna terang dipakai pada acara malam hari.
 
Motif isuk sore muncul untuk penghematan karena sulitnya hidup akibat krisis. Motif ini bisa digunakan sepanjang hari dengan memilih dua corak yang berbeda. Sehingga, pengguna motif ini terkesan berganti kain walaupun tatap menggunakan kain batik yang sama.
 
“Tenaga kerja waktu itu bisa dinegosiasi. Tapi, kain bagaimana? Benar-beanar langka. Akhirnya kondisi itu menginspirasi para pembatik untuk membuat batik isuk sore,” ucap Shuniyya

Tren
 
Pada awal 1930, peranakan Tionghoa di Indonesia mulai mengaplikasikan batik dengan teknik stempel atau kini dikenal dengan batik cap. Teknik batik ini mulai digunakan industri batik skala kecil untuk efisiensi ongkos produksi karena imbas krisis Malaise masih terasa.
 
Rupanya, penggunaan batik cap semakin jamak digunakan untuk membatik. Pelaku industri batik menggunakan teknik batik cap karena mampu memproduksi sepuluh kali lebih cepat dibanding batik tulis dengan biaya yang murah. Walhasil, batik tulis perlahan mengalami kemunduran.
 
Saat era Orde Baru dimulai, pengenaan batik semakin diperkenalkan. Presiden ke-2 RI Soeharto tak jarang mengenakan batik dalam acara-acara formal. Pada akhir dekade 1960, beberapa sentra batik tulis di Jawa tutup karena tidak bisa bersaing dengan batik cap.
 
“Kalau jaman Orba kan sedikit-sedikit penyeragaman. Semua baju diseragamkan. Jadi, ketika permintaan batik tinggi, batik tulis justru tidak sanggup menampung jumlah permintaan, terlalu lama, sulit bersaing,” tutur Shuniyya.
 
Tren batik terus berlanjut ketika Soeharto memberikan hadiah batik kepada Nelson Mandela dalam kunjungannya ke Indonesia akhir Oktober 1990 sebagai Wakil Ketua Organisasi Kongres Nasional Afrika. Tak disangka, Mandela mengenakan batik tersebut ketika datang kembali ke Indonesia pada 1997 sebagai Presiden Afrika Selatan. Gelombang permintaan batik kembali meningkat di pasar.
 
Saking banyaknya permintaan, teknologi batik printing mulai berkembang dan dipilih sebagai solusi. Lambat laun, batik tulis dan batik cap mulai ditinggalkan. Beberapa sentra produksi pabrik tulis, terutama di Yogyakarta terpaksa tutup.
 
Popularitas batik dewasa ini makin digandrungi masyarakat dari remaja hingga dewasa. Hal itu bermula dari ditetapkannya batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia oleh Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan atau UNESCO pada 2009. Hal ini membuat tren gaya batik dalam berbusana jadi meledak lagi.
 
Kini, penggunaan batik semakin meluas. Tak hanya digunakan untuk busana, motif batik juga digunakan sebagai hiasan produk-produk lainnya. Seperti kipas, kaos, topi, celana, dompet, hingga sepatu.


FOTO: Perajin menyelesaikan kerajinan kipas batik. (ANTARA/Rivan Awal Lingga
)


(ADM)