Bergerilya di Dinding Kota

Dhaifurrakhman Abas    •    13 November 2018 16:47 WIB
Bergerilya di Dinding Kota
Vandalisme memenuhi dinding jalan dan terowongan di kawasan Dukuh Atas, Jakarta. (MI/RAMDANI).

Tak jelas laten vandalisme masuk ke Indonesia. Namun, era orde baru, pertengahan tahun 1995, vandalisme dalam bentuk coretan mulai tampak di dinding kota dan fasilitas publik.



Awalnya coretan vandalisme berisi pesan-pesan moral. Ramai mengangkat isu ketidakadilan, kemiskinan, hingga korupsi. Tapi kini, keberadaan mereka dianggap mengkhawatirkan. Mengganggu ketertiban. Masyarakat sulit menerima kehadiran mereka. Bahkan, tak jarang pelaku vandal yang tertangkap basah mengalami persekusi.
 

Dari Brooklyn

Tahun 1985, aksi vandalisme mulai marak di Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Banyak dilakukan warga kulit hitam yang menentang diskriminasi. Masa itu, isu rasisme tengah memuncak.

Warga kulit hitam mulai mencoret stasiun kereta bawah tanah (subway), halte bus, stasiun, dan fasilitas publik lainnya. Cara ini dilakukan sebagai simbol pemberontakan. Lantas, aksi ini menular ke seluruh kelompok vandal mancanegara dengan membawa isu masing-masing.

Pemilihan tempat sasaran aksi vandal bukan sembarang. Coretan vandal yang berada di ruang publik dianggap perfek. Semakin sulit dijangkau, semakin apik, patut dibanggakan.

Seniman Grafiti Popo mengakui, coretan vandalisme di kota-kota di Indonesia hasil tiruan dari aksi kelompok vandalisme di AS. Termasuk, lokasi atau bangunan yang menjadi sasaran vandal.

“Jadi kalau mereka coret di kereta, halte, yang di sini juga ikut,” ujar Popo saat berbincang dengan Medcom Files, Kamis 1 November 2018.



Kondisi Stasiun Pondok Rajeg yang dipenuhi coretan vandalisme di kawasan Cibinong, Bogor, Jawa Barat. (MI/ BARY FATHAHILAH).

 

Memegang idealisme

Menurut Popo, tak ada ramuan jitu untuk menghentikan vandalisme. Sebab, selayaknya manusia, mereka butuh pengakuan. Suara mereka ingin didengar.

Upaya pemberian lokasi khusus untuk mencegah aksi vandalisme juga tidak efektif. Persis yang dilakukan Pemkab Bogor yang membangun Taman Corat-Coret buat membatasi aksi vandalisme menyebar ke sudut kota. Kata Popo, vandalisme membutuhkan banyak ruang sesuai isu yang ingin disampaikan. Tak bisa dibatasi.



Sejumlah warga berada di Taman Grafiti jalan raya Adnan Wijaya, Tegal Gundil, Kota Bogor, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah).


“Buang tempat aja. Mereka butuh ruang yang spesifik sesuai isu yang diangkat, dia gak bisa ngomong kemacatan tapi di taman itu enggak ada kemacetan, kepuasan untuk memakai ruang itu enggak ada,” katanya.

Popo menjelaskan, batasan vandalisme berada pada penilaian masyarakat. Jika coretan, gambar, atau sejenisnya diizinkan masyarakat, maka tidak bisa disebut vandal.

“Ketika dia butuh satu ruang. Satu ruang terdiri banyak elemen, ada bangunan dan masyarakat. Kekuatan terbesarnya ada di masyarakat. Gimana caranya? negosiasi dengan masyarakat, kolaborasi, kalau mau dihalusi, ya permisi,” jelas Popo.

Malah, kata Popo, vandalisme jangan hanya dilihat dalam bentuk coretan atau gambar saja. Bentuk vandalisme bisa bermacam-macam. Kata dia, masyarakat dan pemerintah juga turut melakukan aksi vandalisme. Masyarakat yang membuang sampah sembarangan bisa dinilai bentuk vandalisme. Pemerintah yang memberikan izin bangunan tidak sesuai peruntukkan juga bisa dianggap vandalisme.

“Jadi banyak yang jauh lebih vandal dari mereka (kelompok vandalisme),” ujarnya.
 

Bentuk kriminalitas?

Kriminolog Universitas Indonesia Iqrak Sulhin menjelaskan, ada tiga sudut pandang yang bisa digunakan untuk membahas tabiat vandalisme.

Pertama, vandalisme sebagai bentuk gangguan keamanan. Dalam perspektif ini, vandalisme dianggap mengganggu ketertiban karena merusak sesuatu yang sudah tertata dan teratur. Kedua, vandalisme dianggap sebagai bentuk penyimpangan sosial.

“Vandalisme mengganggu sesuatu yang dianggap indah, nyaman” jelas Iqrak saat kami datangi di Depok, Jawa Barat, Sabtu 27 Oktober 2018.

Terakhir, vandalisme bisa dilihat sebagai indikator yang memberikan sinyal tertentu di masyarakat. Biasanya memberitahu sesuatu yang salah di masyarakat.

“Lebih banyak dilihat dari property marking, mereka menandai. Menunjukkan mereka tidak suka sesuatu, mengkritik sesuatu, dan dia ingin mengekpresikan itu,” jelas Iqrak.  



Kriminolog Universitas Indonesia Iqrak Sulhin di Depok, Jawa Barat.  (Dhaifurrakhman Abas).


Menurut Iqrak, vandalisme merupakan perbuatan normal di masyarakat. Sebab, vandalisme merupakan bentuk atau cara lain dalam berkomunikasi.

“Karena media komunikasi konvensional yang dianggap normal dikuasai kalangan atas, seperti akademisi, para politisi, dan masyarakat level atas. Sehingga mereka yang di bawah ini menyalurkannya lewat itu,” jelas dia.

Dengan begitu, Iqrak menganggap, hukuman kurungan kepada pelaku vandalisme, berlebihan. Di negara barat, pelaku vandalisme dikenakan hukum kerja sosial.

Community Service Order (hukum kerja sosial), jadi dia dihukum membersihkan tempat yang divandal itu sendiri, atau melakukan layanan-layanan publik lainnya, kalau dipenjarakan atau dikurung terlalu berlebihan,” pungkas Iqrak.

Terlepas dari tujuannya, coretan vandalisme sering dianggap tak bermakna. Tak lebih dari bentuk kejahilan dan kenakalan remaja.

Sosiolog Universitas Ibnu Chaldun Musni Umar menjelaskan, eksistensi kelompok vandalisme sulit diterima masyarakat. Sebab, kelompok vandal merusak standar keindahan yang ditetapkan masyarakat.



Sosiolog Universitas Ibnu Chaldun Musni Umar di Jakarta. (Dhaifurrakhman Abas).


Namun, kata Musni, banyak yang salah memahami keberadaan kelompok vandalisme. Banyak pelaku vandal yang tertangkap dipersekusi, bahkan diseret ke ranah hukum. Bagi Musni, vandalisme merupakan fenomena sosial yang wajar terjadi di masyarakat terkhusus kaum muda. Menurut Musni, aksi vandalisme dilakukan kaum muda yang masih dalam proses pencarian jati diri.

“Seharusnya mencari siapa pelakunya dan berkomunikasi dengan mereka. Jadi bukan membawa mereka ke ranah hukum,” jelas Musni.
 


(WAN)