Jaya Suprana, Jamu Jago, dan Pergantian Nama Keluarga

Surya Perkasa    •    08 Februari 2016 19:43 WIB
Jaya Suprana, Jamu Jago, dan Pergantian Nama Keluarga
Presiden Komisaris Jamu Jago Grup, Jaya Suprana. (foto: Antara/Andika Wahyu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jamu atau obat tradisional Indonesia sudah diakui manfaatnya sejak ratusan tahun. Ini menjadikan jamu sebagai salah satu warisan budaya Indonesia di bidang kesehatan.
 
Sebagai produk herbal yang punya nilai budaya tinggi, sudah sepatutnya semua pihak mendukung jamu untuk menjadi produk unggulan Indonesia.
 
Pemerintah telah mencanangkan kampanye minum jamu setiap hari jumat. Langkah ini menarik untuk dicermati. Sebab, upaya untuk meyakinkan masyarakat memilih obat alami warisan budaya bangsa yang sudah diakui khasiatnya selama ratusan tahun dibanding obat kimiawi sintetis yang diproduksi pabrikan luar negeri, memang bukan perkara mudah.
 
Presiden Komisaris Jamu Jago Grup, Jaya Suprana, secara gamblang mengungkapkan kebanggaannya terhadap jamu. Sebagai generasi ketiga yang mewarisi perusahaan, usaha jamu yang dirintis kakeknya sejak 1918, Jaya paham betul bahwa industri jamu membutuhkan pengembangan lebih gencar demi tetap lestari dalam tradisi masyarakat Nusantara. Berikut petikan wawancara reporter metrotvnews.com Surya perkasa dengan Jaya Suprana saat ditemui di Jakarta Utara, Sabtu 6 Februari 2016.
 
Bisa Anda jelaskan pandangan Anda mengenai Jamu?
Jamu itu adalah istilah bahasa Jawa. itu harus diakui dulu. Kalau tidak, tidak akan ketemu. Ini adalah istilah yang digunakan budaya Jawa. Karena memang jamu itu karya dan karsa kesehatan masyarakat Jawa.
 
Sebenarnya semua insan pernah merasakan sakit. Itu bagian kodrati makhluk hidup. Yang Maha Kuasa memberikan naluri untuk menyembuhkan diri. Tidak hanya manusia, hewan pun melakukan itu.
 
Misalnya, anjing peliharaan saya itu makan arang kalau sedang sakit pencernaan. Itu aneh. Tapi memang arang itu obat untuk masalah pencernaan.
 
Semua insan memiliki naluri untuk mengobati penyakit. Jadi semua penyakit itu ada obatnya di alam. Nah, orang Jawa itu menggunakan tanaman di sekitarnya. Ya itulah jamu.
 
Memang Tuhan memperkenankan penyakit itu selalu ada obatnya. Dalam mencari itu, maka tumbuhlah kebudayaan jamu.
 
Bukankah Tiongkok juga punya tradisi pengobatan kuno dan menggunakan bahan baku herbal. Lantas apa bedanya jamu dengan obat herbal Tiongkok?
Bedanya, mereka (Tiongkok) menggunakan tanaman mineral dan hewan. Indonesia tidak.
 
Aneh. Kayak ada semacam naluri religiusnya. Seolah-olah Indonesia itu sudah siap untuk menerima Islam. Karena kalau semisalnya menggunakan unsur hewan, itu bakal terbentur soal halal-haram kan? Kalau jamu kan tumbuhan semua. Jadi, semua halal. Hahahaha…
 
Apakah Anda setuju dengan anggapan yang menyatakan bahwa peran jamu tak bisa digantikan oleh obat modern?
Hmmmm. Ya. Tapi sebaliknya pun sama. Farmasi pun tidak bisa menggantikan jamu. Bisakah orkes gamelan menggantikan orkes simfoni seperti biola dan piano? Ini sama juga sebaliknya. Biola tidak bisa menggantikan gamelan.
 
Itu kebudayaan. Tidak bisa.
 
Saya itu berjuang dengan jamu bukan untuk menggeser farmasi. Saya juga punya pabrik farmasi.
 
Jadi kalau semisalnya orang bilang saya berjuang untuk jamu, bukan berarti saya anti farmasi.
 
Bung Karno dan Bung Hatta berjuang melawan Belanda dan Jepang bukan berarti anti-Belanda atau Jepang. Tapi untuk memerdekakan Indonesia.
 
Jadi kalau semisalnya ada yang bilang seperti itu, sama saja seperti bilang rembulan tidak bisa menggantikan matahari. Semua beda.
 
Kalau kita analogikan badan kita itu negara, jamu itu adalah politikus, gampangnya seperti Bung Hatta. Nah, obat farmasi itu seperti jenderal Soedirman. Beda.
 
Karena politik, jamu, sifatnya membina dan jangka panjang. Sedangkan obat farmasi itu gerak cepat, seperti militer.
 
Jamu itu adalah preventif dan promotif. Mencegah penyakit dan membina kesehatan. Obat itu seperti pasukan penumpas musuh. Kalau ada musuh masuk, penyakit sudah menyerang, lebih baik jangan minum jamu, tapi obat.  Nah, minum jamu itu untuk mencegah musuh dari luar yang bikin penyakit itu.
 
Contohnya, karena rutin minum jamu, saya sehat walau teman-teman satu sekolah sakit. Tapi enggak boleh sombong juga. Nanti dibikin sakit sama Tuhan. Hahahaha...
 
Jadi, jamu dan farmasi bukan bersaing tapi saling mengisi?
Iya. Contohnya gigi saya sempat sakit. Kalau saya bertahan minum jamu, bisa mati saya. Jadi harus operasi, minum antibiotik.
 
Bedanya, jamu itu relatif tidak memiliki efek samping. Ibarat bernegara tadi. Walau seperti apapun kacaunya DPR atau orang ngomong, yang terbunuh jarang.
 
Tapi kalau militer, lihat saja ke Timur Tengah. Berapa banyak orang tidak berdosa jadi korban. Nah obat ibarat itu. Berapa banyak sel-sel sehat, atau sel tidak berdosa, yang mati terkena efek samping obat.
 
Berarti anggapan tentang jamu harus menggantikan farmasi adalah tidak benar?
Makanya, jangan bandingkan. Apalagi gantikan. Gila itu namanya.
 
Kalau semisalnya ada kelompok pemuja jamu yang begitu, saya bilang sih itu ekstremis jamu. Kubu garis keras. Gila itu. Mau gantikan farmasi. Hahahahaha... 

Jangan sombong. Begitu juga sebaliknya untuk farmasi. Kamu jangan kurang ajar. Jamu itu lebih dulu hadir.
 
Hayam Wuruk, Damarwulan, dan Minak Jinggo, pasti enggak minum antibiotik. Saya jamin.
 
Buktinya mereka kan hebat-hebat, sakti-sakti. Tanpa obat farmasi.
 
Melihat kondisi saat ini, ada kesan jamu dipinggirkan?
Bukan dipinggirkan! Memang mau dibunuh kita. Ini persaingan industri dan bisnis. Itu wajar kalau semisalnya mereka konspirasi membunuh jamu.
 
Kalau saya semisalnya bukan orang Indonesia, ooo... jamu saya habisin. Saya fitnah macam-macam.
 
Waktu Belanda masuk pun kita dikata-katain karena jamu. Goblok, ngobatin kok pakai daun-daunan.
 
Nah cara berpikir kita sendiri kan seperti itu. Kita masih mewarisi sifat inferior itu.
 
Lalu Jamu Jago bagaimana saat berdiri?
Nah itu saya bisa cerita, waktu kakek saya mendirikan Jamu Jago 1918 itu ditertawakan oleh Belanda. Bahkan dikatai penipu.
 
“Apa-apaan itu rumput-rumput digerus, terus dicampuri aspirin,” kata orang Belanda. Kemudian, “kenapa ini bisa diklaim menyembuhkan?”
 
Kakek saya dicemooh. Tapi memang kakek saya adalah salah satu orang yang nasionalismenya kuat sekali.
 
Anda tahu tidak? Keluarga Suprana adalah keturunan pertama yang ganti nama. Bukan saat gerakan ganti nama pada zaman Orde Baru. Kita pada saat masa Bung Karno. Bapak saya keukeuh ganti nama.
 
Kami marganya Poa. Lalu minta ganti nama. Dikabulkan oleh Presiden Soekarno saat itu. Jadi dari dulu kami sudah punya naluri untuk pertahankan jamu. Saat belajar farmasi pun meraciknya jamu, bukan obat Tiongkok.
 
Kami sempat dicap pengkhianat sama etnis sendiri. Hahahahahaa... (tertawa lepas)
 
Setuju dengan wacana mendorong pemberian resep jamu oleh dokter umum?
Saya itu, kalau semisalnya ada dokter yang menulis resep jamu, ya terima kasih. Tapi tidak ada ambisi ke sana.
 
Tapi, kalau misalnya mau seperti, ya kita bikin dokter jamu. Jangan paksa dokter farmasi. Kasihan dong.
 
Dokter farmasi itu dididik untuk memberi resep obat farmasi. Wong itu keliru sekali. Buat apa? Saya enggak mau nanti ada paten-patenan jamu.
 
Jamu berarti tidak boleh dipaten?
Lho. Boleh. Tapi tahu nggak dari mana istilah paten itu? Paten itu sama dengan mateni (bahasa Jawa, artinya mematikan). Mematenkan itu berani membunuh hak orang untuk menggunakan yang kita punya. Dan itu sebenarnya tidak ada di kebudayaan Jawa tempat asal jamu.
 
Jamu pegel linu itu semua pabrik bikin. Nah saya kan enggak protes. Waktu orang sibuk paten-patenan baru saya patenkan juga produk saya saat itu: Jamu Buyung Upik. Tapi, itu kan sudah terkontaminasi. Pada sibuk paten, saya ikut juga.
 
Jadi daripada dokter dipaksa beri resep jamu, buat model pendidikan baru?
Lebih baik dibuat pendidikan.
 
Hebatnya farmasi itu apa? Mereka bikin pabriknya, mereka bikin penyalurnya, mereka bikin peramunya atau apoteker, mereka bikin dokternya yang beri resep.
 
Itu sistem pendidikan dokter farmasi. Dan hebatnya setiap hal diberi sertifikat dan lisensi. Itu budaya barat. Kita tidak ada seperti itu.
 
Kita belum ada sertifikasi dukun atau tabib jamu, ya?
Nah. Itulah. Iya kan? Hahaha.
 
Ya, tapi kenapa tidak? Kita bikin sekolahnya. Sekolah dukun dan tabib jamu. Why not?
 
Kemarin saya ke salah satu daerah Flores. Orang-orang di sana masih pergi ke dukun. Dan mereka kan banyak juga yang tertolong.
 
Cuma, kita kan malu kalau ke dukun. Gengsi. Dikatakan kalau dukun itu bohong. Tapi kan sebelum londo atau orang Barat itu datang buktinya hidup semua. Memang angka gizi buruk, kematian bayi tinggi. Tapi kan yang bertahan hidup benar-benar kuat dan berkualitas.
 
Barat datang menyempurnakan, itu enggak apa-apa. Tapi kalau misalnya barat yang datang ini menelan kearifan lokal, itu yang tidak boleh terjadi. Saya lawan. Saya enggak rela.
 
Wacana itu berarti sama dengan pembuatan sertifikasi dan lisensi pengobatan tradisional Tiongkok?
Ya ya ya. Tapi CTM itu kan konspirasi. Kehebatan mereka kan itu.
 
Tapi ada perbedaan yang mencolok. Bedanya, orang Tiongkok itu bangga dengan budayanya. Sedangkan orang Indonesia ada yang bangga ada yang tidak. Ini semua karena sudah terkontaminasi penjajah. Sebagian orang kita percaya bahwa budaya kita lebih inferior.
 
Mereka selalu dibikin percaya kita bangsa lemah, bangsa bodoh, bangsa tempe, bangsa malas.
 
Karena itu kita perlu konspirasi. Kita harus meniru cina dari sisi kebanggaan. Enggak ada cerita kalau semisalnya ada yang tidak bangga dengan budayanya di Tiongkok. Bisa hilang nanti.
 
Kita perlu punya pride of nation. Kebanggaan sebagai bangsa. Celakanya kita kan percaya dengan propaganda penjajah, jadinya muncul inferiority complex.
 
Apa yang jamu butuhkan saat ini?
Pemerintah harus memberikan ketegasan. Ketegasan bahwa jamu itu adalah tuan. Bukan tuan rumah! Kalau sekedar tuan rumah, nanti yang indekos di kita juga banyak.
 
Kita harus menjadi tuan di negeri sendiri. Sekarang? Kesehatan kita menjadi budak orang lain. Bahkan budaya kesehatan kita dicurigai.
 
Contoh sederhana. Saya pernah memimpin rumah sakit. Nah setiap usaha itu kan ada miss-productnya. Dan di rumah sakit itu miss-product itu pasien yang mati. Jadi kan itu gagal diobati.
 
Selama saya memimpin belasan tahun, tidak ada yang menuntut kita bila ada pasien yang mati. Bahkan ada yang pasang iklan, “terima kasih kepada rumah sakit yang telah merawat orangtua kami hingga meninggal dunia”.
 
Sekarang coba misalnya ada dukun merawat orang sampai pingsan. Mati. Tapi yang mati ya dukunnya. Ditangkap, diarak warga, diangkat tuduhan malpraktik, dan merugikan konsumen. Kenapa? Karena rumah sakit punya lisensi.
 
Dukun tidak ada kelompok yang memayungi secara aturan. Tapi kita sendiri tidak percaya diri untuk membuat korps dan kelompok dukun dan tabib jamu.
 
Wong kita dulu pernah berkumpul dan berbicara untuk membuat sekolah jamu. Tapi ngobrol panjang bla bla bla bla bla. Akhirnya enggak jadi. Kenapa? Karena di dalam hati kita masih punya inferiority complex.
 
Benarkah alasan, karena jamu tidak banyak diteliti secara ilmiah buat jamu kalah gengsi?
Ilmiah apa? Penelitian ilmiah dan secara klinis itu pun kan sebenarnya adalah bagian dari konspirasi kesehatan barat.
 
Ya sudah, kalau mau bikin penelitian, jangan pakai riset mereka dong. Beda.
 
Tangga nada gamelan itu pentatonik, kalau barat itu kan diatonik. Ya kalau misalnya kita mainkan nada pentatonik dengan diatonik, jadinya fals semua. Sama juga dengan riset jamu dengan gaya mereka.
 
Jadinya seperti bohong semua.
 
Karena apa? Karena kita tidak punya konspirasi tersendiri.
 
Lalu, bagaimana cara jamu kita tetap bertahan dan terus maju?
Kita harus berkomplot. Berkonspirasi untuk memasarkan jamu kita.
 
Harapannya ke pemerintah?
Hanya satu, buat Undang-Undang Jamu.
 
Sebenarnya kan begini, jaman Pak SBY kan sudah disiapkan rancangan UU Kesehatan. Antara lain RUU tentang Jamu. RUU sudah siap, tinggal ditandatangani.
 
Tapi pada saat masuk ke meja pak SBY itu, jamunya itu enggak tahu siapa dicabut. Hilang. Ini kita berjuang supaya Pak Jokowi yang tanda tangan. Kalau tidak kita sulit bergerak yang komplotan ini. akhirnya kita di ombang-ambingkan terus.
 
Wong saya mau daftarkan Jamu ke Unicef-Unesco saja, ada kelompok tertentu yang bilang “Pak Jaya jangan permalukan bangsa Indonesia”. Saya tanya kenapa? Mereka bilang, “masa jamu dijadikan sebagai warisan Indonesia”.
 
Kaget saya. Karena yang ngomong itu orang Indonesia. Kalau orang sananya sih enggak masalah bagi saya. Ini orang Indonesia lho.
 
Enggak ada kebanggan.
 
Harapannya bagi industri jamu kecil?
Terus berjuang. Karena jujur saja, industri jamu besar enggak akan bisa bersaing dengan industri rumahan. Kenapa? Karena dosis.
 
Industri besar itu terbentur masalah dosis. Sedangkan industri kecil seperti warung jamu dan mbok-mbok jamu itu kan bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat dan konsumen. Mereka bisa meracik sesuai dengan kebutuhan individu dan itu yang tidak bisa disaingi industri besar.
 
(ADM)

  • titlenya ya

    Gengsi Jamu

    08 Februari 2016 19:54

    Jamu belum mendapat perlakuan yang sama dengan negara lain memperlakukan obat tradisionalnya.

  • titlenya ya

    Perkara Tak Mudah untuk Jamu

    08 Februari 2016 19:31

    “Jadi jamu, pengobatan nusantara, berusaha dimatikan. Tapi ini bukan berarti saya anti-farmasi. Tapi memang sistemnya begitu."

  • titlenya ya

    Industri Jamu dan Farmasi Saling Menopang

    08 Februari 2016 19:27

    "Jamu tetap membutuhkan manfaat farmasi, pun sebaliknya,” kata Irwan Hidayat, Bos PT Sido Muncul Tbk.

  • titlenya ya

    Apa Kabar Sang Legenda Klub-klub Top Eropa?

    23 Januari 2016 17:10

    Sepertinya para mantan ikon klub-klub top Eropa ini tidak pernah lepas dari ingatan para penggemar sepakbola. Mereka dulu adalah bintang-bintang lapan…