Kenapa Turis Asing di Indonesia Tak Sebanyak di Thailand dan Malaysia?

Surya Perkasa    •    15 Februari 2016 20:59 WIB
Kenapa Turis Asing di Indonesia Tak Sebanyak di Thailand dan Malaysia?
Seorang turis asing mengamati beberapa produk hasil kerajinan tangan pada Pameran Produk Unggulan UMKM Jawa Tengah, di Semarang. (foto: Antara/R. Rekotomo)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia punya segala potensi pariwisata. Pernyataan ini bukanlah sekadar propaganda pemasaran semata. Namun, ini  berdasarkan fakta dan kondisi yang sebenarnya.
 
Untuk pariwisata alam, Indonesia memiliki beragam potensi yang sangat bisa digali. Wajar saja, negara ini memiliki nama lain ‘Nusantara’ dengan ribuan pulaunya yang memiliki karakter beragam.
 
Ya. Indonesia dianugerahi alam yang subur dan penuh pesona. Lihat saja pegunungannya, banyak gunung api tersebar di sebagian besar pulau. Belum lagi hutan-hutan dengan beraneka ragam flora.
 
Keindahan dan kekayaan alam Nusantara ini membuat Indonesia dijuluki Zamrud Khatulistiwa. Panorama berupa danau-danau, sungai-sungai, dari dataran rendah hingga tinggi, semuanya punya daya tarik yang tak kalah dengan negara-negara lain yang tujuan favorit wisatawan.
 
Laut dan pantai Indonesia pun menyimpan keelokan gugusan terumbu karang dan segala jenis satwa di dalamnya. Tengok saja Bunaken atau Raja Ampat, kecantikan pemandangannya tak kalah dibanding Kepulauan Karibia. Ini pun baru sebagian kecil dari wisata bahari yang dimiliki Indonesia.
 
Bali dan Mentawai juga sudah termahsyur sebagai salah satu lokasi berselancar terbaik. Pengalaman meluncur di atas papan selancar untuk menaklukkan tinggi gelombang ombaknya, boleh diadu dengan Hawaii. Ini yang membuat Bali dan Mentawai selalu ramai dikunjungi para pemburu ombak dari seluruh dunia.
 
Selain itu, Indonesia diakui memiliki keanekaragaman satwa. Beberapa hewan khas Indonesia seperti harimau sumatera, badak bercula satu, tapir, dan komodo merupakan jenis-jenis satwa langka yang dilindungi. Ini pun menunjukkan Indonesia punya kekayaan fauna.
 
Namun, sebenarnya segala keindahan alam ini bukan menjadi magnet utama bagi wisatawan mancanegara (wisman) menyinggahi Indonesia.
 
Kementerian Pariwisata RI menyatakan riset yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hanya 35 persen wisman yang tertarik dengan keindahan alam Indonesia. Sebagian besar atau 65 persen wisman justru plesiran di Indonesia untuk menyaksikan kebudayaan masyarakat Nusantara.
 
Dari segi budaya, Indonesia memiliki keunggulan jika ditinjau dari keberagaman suku dan etnis. Seluruhnya memiliki keunikan masing-masing yang dapat menjadi nilai tambah tersendiri bagi turis pecinta budaya.
 
Itu baru berbicara tentang keberagaman suku dan etnis semata. Produk budaya yang berbentuk karya seni lebih banyak lagi. Batik adalah salah satu bentuk produk budaya Indonesia yang dikagumi sebagai karya seni yang bernilai tinggi. Tari Kecak dan Gamelan juga menjadi beberapa beberapa bentuk pertunjukkan kesenian yang selalu berhasil menghipnotis wisatawan pencari keindahan budaya Nusantara.
 
Karya arsitektur masa lampau seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, serta tempat-tempat ibadah seperti Pura dan Klenteng, menjadi daya tarik tersendiri untuk masyarakat lokal dan turis mancanegara. Keanekaragaman dan kekhasan budaya Indonesia inilah yang berhasil menarik jutaan wisatawan domestik maupun asing.
 
“Faktor nomor satu memang turis masih mencari budaya,” ujar Arief Yahya dalam perbincangan dengan metrotvnews.com di Jakarta, Jumat (12/2/2016)
 
Kita boleh bangga dengan semua potensi keunggulan Indonesia di sektor pariwisata. Namun, kenyataannya, kemampuan Indonesia masih kalah dengan Thailand, Singapura dan Malaysia dalam menjaring turis asing alias wisman.
 
Dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia saja misalnya, Indonesia hanya berhasil menarik sekitar setengah wisman kedua negara tersebut. Thailand berhasil menarik hampir 30 juta wisman dan Malaysia berhasil mendapat 26 juta turis asing. Sedangkan Indonesia? Hanya sekitar 13 juta.
 
“Sekarang kita berpacu untuk mengalahkan Thailand yang menjadi lawan profesional dan Malaysia yang menjadi lawan emosional Indonesia,” kata Arief.
 
Perhatian serius
 
Sulit dipungkiri bila pariwisata Indonesia tidak terlalu mendapat perhatian serius dari pemerintah sebelumnya. Bukti ini dapat dilihat dari pariwisata yang tidak mendapat porsi besar di dalam anggaran belanja negara tiap tahunnya.
 
Hal ini menjadi sangat miris karena besarnya potensi devisa yang didatangkan dari sektor pariwisata. Tahun lalu saja, sektor pariwisata menghasilkan devisa bagi negara sebesar Rp144 triliun.
 
Perlahan dari segi anggaran untuk pariwisata oleh pemerintah pusat semakin membaik. Walau sempat menurun pada tahun 2015 jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, anggaran promosi tahun 2016 pariwisata meningkat sekitar empat kali lipat.
 

 
Walau begitu, potensi uang masuk hingga ratusan triliun ini tidak mendapat perhatian dari kelompok kepentingan lain. Potensi pemasukan yang juga memberi dampak kepada pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan pariwisata tak terlalu dipedulikan pemerintah dan stakeholder lain di daerah.
 
Buktinya, pertumbuhan kawasan pariwisata di Indonesia tidaklah cepat. Destinasi wisata Indonesia yang dipromosikan juga  masih banyak terfokus ke Bali, Jakarta, dan Batam dan kawasan di sekitarnya.
 
“Kami melakukan mapping wisman, memang akses langsung yang paling banyak itu masih ke Bali, sekitar 40 persen. Kemudian disusul Jakarta 30 persen dan Batam 20 persen. Tapi itu pemetaan berdasarkan pintu masuk,” kata Arief.
 
Sangat disayangkan karena sektor pariwisata sendiri merupakan salah satu sektor yang nilai pemasukannya cenderung stabil dibandingkan sektor dan komoditas. Baik barang tambang maupun perkebunan.
 

 
Beruntung, pemerintahan Joko Widodo merasa sektor pariwisata perlu didorong untuk berkembang lebih cepat. Bahkan Presiden Jokowi mengeluarkan instruksi agar Kementerian Pariwisata yang dipimpin Arief Yahya dan kementerian terkait gerak cepat di tahun 2016.
 
"Di tahun 2016 saya minta pertumbuhan di sektor pariwisata bisa dipercepat dan kita akselerasi," ujar Presiden Jokowi di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (2/2/2016).
 
Kementerian Pariwisata pun diminta menaikkan target kunjungan wisatawan asing tahun 2015 menjadi 20 juta, dari yang sebelumnya hanya sekitar 13 juta.
 
Kementerian Pariwisata dan kementerian lain diminta berjibaku agar segera dapat mempromosikan sepuluh destinasi wisata Indonesia yang baru. Sepuluh destinasi prioritas tersebut meliputi Candi Borobudur, Mandalika, Labuhan Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Danau Toba, Wakatobi, Tanjung Lesung, Morotai dan Tanjung Layang.
 
Dari sisi promosi sendiri, Kementerian Pariwisata berusaha keras meningkatkan nilai wajah pariwisata. Salah satunya dengan terus berusaha meningkatkan brand pariwisata Indonesia.
 
Alhamdulillah, tahun lalu penilaian brand ‘Wonderful Indonesia’ yang dilakukan World Economic Forum mengalahkan Thailand dan Singapura,” kata Arief.
 
Unggul di ASEAN

Meski langkah Indonesia membangun branding pariwisata terbilang lambat, namun itu tidak masalah. Masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di sektor pariwisata dalam persaingan dengan negara tetangga.
 
Pemasaran pariwisata Indonesia baru mulai dilakukan dengan lebih baik dalam tujuh tahun belakangan. Yaitu saat pemerintah meluncurkan branding pariwisata “Visit Indonesia” tahun 2008. Branding ini sendiri merupakan upaya menghidupkan kembali program pariwisata yang pernah dilakukan pada “Visit Indonesia” tahun 1991.
 
Namun ini kalah start jika dibandingkan Thailand yang telah mengukuhkan brand  “Amazing Thailand” pada 1997, serta Malaysia dengan brand “Malaysia Truly Asia” sejak 1999 yang telah kuat pada tahun 2008.
 
Branding pariwisata Indonesia pun semakin diperkuat pada era Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik. Pada masa kepemimpinan Jero, Kementerian Pariwisata meluncurkan brand baru pariwisata Indonesia pada 2011 yang mengusung “Wonderful Indonesia”.
 
Tapi, lagi-lagi sangat disayangkan, promosi Kementerian Pariwisata ini tidak diiringi dengan koordinasi yang baik dengan kementerian lain dan pemerintah daerah. Bahkan beberapa pihak swasta berusaha membuat brand pariwisata sendiri.
 
Berkaca ke Thailand, brand pariwisata yang mereka usung selalu didukung oleh pihak berkepentingan terkait. Mulai dari promosi hotel, menekan harga transportasi, paket perjalanan, peningkatan infrastruktur, hingga ke masyarakat Thailand sendiri yang terbuka dan ramah kepada turis.
 
Kementerian Pariwasata meyakini Indonesia bisa bersaing jika meniru Thailand dan memperbaiki tata kelola pariwisata. Pemerintah Daerah juga diharapkan dapat bekerja sama dengan daerah lain dan masyarakatnya.
 
Pariwisata Indonesia juga dapat berkembang dengan pesat bila promosi juga melibatkan industri kreatif dan meningkatkan koordinasi antar pihak berkepentingan yang selama ini menjadi masalah tersendiri.
 
“Misalnya Pemda di sekitar kawasan Danau Toba yang berdebat untuk menentukan bertanggungjawab mengelola daerah tersebut. Namun kini mereka sepakat mengelola dengan membentuk badan yang dikoordinasi Menteri Koordinator Kemaritiman dan Menteri Pariwisata sebagai koordinator hariannya,” kata Arief.
 
Pemerintahan di daerah juga harus berpikir pariwisata sebagai peluang untuk menumbuhkan UMKM, industri kreatif dan lapangan kerja baru. Seperti kata Presiden Jokowi, “diperlukan sebuah kecepatan terobosan baik regulasi maupun pekerjaan di lapangan sehingga hasilnya segera bisa kita nikmati.”
 
Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan bisa saja mengungguli negara tetangga untuk sektor pariwisata. Namun, dengan catatan jika Indonesia meningkatkan promosi dan anggarannya, memperbanyak program bebas visa, memanfaatkan peningkatan arus wisatawan mancanegara di kawasan Asia, serta terbukanya kawasan Asia Tenggara menyusul pemberlakuan era persaingan bebas di pasar regional alias Masyarakat Ekonomi ASEAN.
 
(ADM)