Tionghoa di Keraton Jogja

Lis Pratiwi    •    16 Februari 2018 15:32 WIB
Tionghoa di Keraton Jogja
Ilustrasi: Medcom

Tak hanya berperan sebagai pusat kesultanan, Keraton Yogyakarta bak museum yang menyimpan segenap kronik Yogyakarta dan perkembangan budaya Jawa. Termasuk jejak Tionghoa di dalam Istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu.


Yogyakarta: Melintang di antara dua aliran sungai, yakni Code dan Winongo, Keraton Yogyakarta berada tepat di jantung kota. Istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini dibangun tahun 1775, tak lama usai Perjanjian Giyanti yang memecah Mataram menjadi Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.
 
Peran pentingnya dalam sejarah bangsa menjadikan Yogyakarta menyandang gelar Daerah Istimewa. Yogyakarta pun diizinkan mendirikan sistem kerajaan di tengah-tengah pemerintahan demokrasi di Indonesia.
 
Kun Maryati dan Juju Suryawati dalam buku Sosiologi menjabarkan bahwa stratifikasi masyarakat feodal di Yogyakarta dipimpin oleh kaum bangsawan yang terdiri dari raja, keluarga, serta kerabatnya.
 
Golongan kedua adalah priyayi, yaitu pegawai kerajaan yang terdiri atas orang-orang yang berpendidikan atau memiliki kemampuan yang khusus untuk kerajaan. Sementara golongan terendah adalah wong cilik atau rakyat jelata yang hidup mengabdi untuk raja.
 

Adalah Tan Jin Sing, yang menjadi bukti pengabdian masyarakat keturunan Tionghoa dalam perjalanan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Darinya, ada warna lain dalam klan kebangsawanan Yogyakarta.


Tan Jin Sing atau Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat adalah pengabdi yang memiliki jasa besar kepada Sultan Hamengku Buwono III. Banyak orang meyakini bahwa dia asli orang Tionghoa, ada yang meyakini dia sebetulnya orang Jawa. Ada pula yang menduga bahwa dia adalah anak hasil kawin campur antara Tionghoa dan Jawa.
 
Tan Jin Sing pula yang mendominasi perbincangan kami dengan sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Djoko Suryo, saat kami menyambangi kediamannya di Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, Sabtu, 10 Februari 2017.
 
Dikatakan Djoko, Tan Jin Sing bernama asli Raden Luwar, dibesarkan ayah tirinya Oei The Long, seorang juragan gadai di Wonosobo, Jawa Tengah.
 
Di tahun 1757, Tan Jin Sing pindah dan tinggal di pusat Kesultanan Yogyakarta, mengikuti kakek buyutnya - yang berjasa kepada Sultan Hamengku Buwono I.
 
Lantas, Tan Jin Sing pun menikah dengan putri Kapitan Yap Sa Ting Ho, Kapitan Cina di Yogyakarta pada masa itu.
 
“Setelah Yap Sa Ting Ho wafat, Tan Jin Sing diangkat sebagai penggantinya dengan gelar Kapitan atau Lurahing Pacino di Yogyakarta,” jelas Djoko.



Sri Sultan Hamengku Buwono X (tengah) menerima sungkem dari salah seorang kerabat keraton Yogyakarta. (ANTARA)
 
 
 
Tionghoa bergelar bangsawan
 
Jejak Tionghoa di Yogyakarta juga ditandai dengan munculnya klan bangsawan di lingkungan keraton, antara lain; klan Secodiningrat, Honggodrono, dan Kartodirjo. Ketiga klan ini adalah keturunan Tionghoa dari tiga istri Tan Jin Sing.
 
Menurut Djoko, hal ini bermula dari campur tangan Tan Jin Sing saat konflik antara Sultan Hamengku Buwono II dengan putra mahkotanya, Sultan Raja, tahun 1813-1815.
 
Saat itu, Tan Jin Sing mendukung Sultan Raja dan Pemerintah Inggris yang dipimpin Raffles untuk menggulingkan Sultan Hamengku Buwono II.
 
Usai Sultan Hamengku Buwono II diasingkan ke Penang dan Sultan Raja diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwono III, Tan Jin Sing pun diangkat menjadi Bupati Nayoko di Yogyakarta yang diberi gelar Kanjeng Raden Temenggung (KRT) Secodiningrat.
 
Lahir dari ibu yang berbeda, yakni Tionghoa dan Jawa, menjadikan keturunan Tan Jin Sing tersebar ke dalam dua kelompok budaya tersebut. Djoko melanjutkan, hingga kini keturunan Tan Jin Sing masih diberi gelar bangsawan Jawa, yakni Raden bagi laki-laki dan Raden Roro bagi perempuan.
 
“Ini (gelar bangsawan keturunan Tan Jin Sing) adalah contoh bagaimana asimilasi dan akulturasinya cukup mengemuka. Ternyata di Jogja bisa seperti itu juga, yang tidak terdapat di tempat lain,” kisah Djoko bersemangat.
 
Djoko memang hafal betul sejarah Yogyakarta. Sebab dedikasinya itu pula keraton menganugerahinya gelar kehormatan serupa milik Tan Jin Sing, yaitu Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Dia pun diberi nama paringan (pemberian) KRT Suryohadibroto.  

Prof Djoko Suryo. (MI)


Pecinan di Malioboro
 
Djoko kembali bercerita, bahwa Pecinan di Yogyakarta berpusat di sekitar Malioboro. Sejarah ini dimulai dari berdirinya Pasar Bering Harjo yang menjadi sentra ekonomi sejak keraton berdiri.
 
“Orang Cina pasti tempat tinggal dekat tempat perdagangan, dekat pasar, akhirnya kenapa mereka pilih di sana. Waktu itu sama keraton juga diizinkan,” sambung guru besar UGM ini.



Dalang memainkan Wayang Potehi di Kampung Ketandan, Yogyakarta. Wayang Potehi adalah wayang khas Tionghoa dari Cina bagian selatan, yang dibawa perantau etnis Tionghoa ke berbagai wilayah nusantara. (ANTARA)


Sementara itu, Sunyoto Usman dalam bukunya berjudul Malioboro menjabarkan cikal bakal Pecinan di Malioboro turut disertai peran Tan Jin Sing. Kala menjabat sebagai bupati, Tan Jin Sing tinggal di ndalem Setjodingratan yang kini terletak di sebelah timur Kantor Pos Besar.
 
Sejak tahun 1916, kawasan Malioboro sebelah selatan pun dikenal sebagai pemukiman Pecinan, yang ditandai dengan rumah-rumah toko yang menjual barang-barang kelontong, emas, dan pakaian.



Gapura masuk kampung Ketandan yang berarsitektur Tionghoa dan Jawa. (Medcom)


Salah satu Pecinan paling terkenal di Malioboro adalah Kampung Ketandan. Gapura berarsitektur Tionghoa dengan ukiran naga meliuk di kedua tiangnya menjadi penanda yang mencolok di tengah bangunan lain bergaya Jawa dan Hindia Belanda.
 
Aktivitas pecinan di kampung ini tak begitu kentara. Budi Susanto dalam bukunya berjudul Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia, melihat etnis Tionghoa di Yogyakarta memiliki orientasi kultural yang beragam.
 
Jejak kebudayaan Tionghoa di wilayah ini begitu luas dan tak terbatas pada penampilan fisik, seperti kulit kuning langsat atau mata sipit. Bahasa sehari-hari mereka pun lebih menggunakan bahasa Jawa ngoko bercampur krama, atau bahasa Indonesia. Boleh dikata, ketionghoaannya sudah melebur dengan budaya setempat.
 


(COK)