Kertas di Pusara

Coki Lubis    •    21 November 2016 15:16 WIB
Kertas di Pusara
Seorang Mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta, meletakan foto B.N Irmawan saat menggelar peringatan Tragedi Semanggi di Kampus Atma Jaya Jakarta. (ANTARA/Yudhi Mahatma)

Metrotvnews.com, Jakarta:



Sumpah Rakyat Indonesia...
Kami, rakyat Indonesia bersumpah
Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan
Kami, rakyat Indonesia bersumpah
Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan
Kami, rakyat Indonesia bersumpah
Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan
"Hidup rakyat! Hidup mahasiswa!" pekik ratusan ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di depan kampus Universitas Atma Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, menutup pembacaan sumpah tersebut.

Jumat sore itu, 13 November 1998, awan mendung selimuti kawasan Semanggi. Perjalanan menuju Gedung MPR/DPR, Senayan terpaksa berhenti. Pagar betis tentara dan polisi sudah menutup jalur demonstrasi mahasiswa, di sekitar jembatan Semanggi. Barisan aparat keamanan ini menjadi penanda bahwa pengunjuk rasa tidak boleh menuju gedung wakil rakyat itu.

Mahasiswa dan masyarakat yang terlibat dalam demonstrasi itu memadati kawasan Semanggi. Para orator silih berganti menaiki mobil komando, mereka menyuarakan tolak Sidang Istimewa MPR yang hari itu merupakan hari penutupannya.

Sidang Istimewa yang dipimpin Ketua MPR Harmoko itu mengagendakan digelarnya Pemilihan Umum. Mahasiswa menolak. Alasannya, mahasiswa sudah tidak mempercayai produk politik hasil Pemilu 1997 di era Soeharto. Dikhawatirkan, Pemilu tersebut menjadi instrumen masuknya kembali kekuatan lama, yakni Orde Baru.

Saat itu yang berubah hanya Presiden saja. Soeharto mundur dan kekuasaan diberikan kepada Wakil Presiden BJ. Habibie sebagai transisi. Sementara kabinet dan anggota MPR/DPR-nya masih dianggap anasir Soeharto dan produk Pemilu Orde Baru yang dianggap tidak demokratis.

Apa yang diinginkan mahasiswa adalah perubahan bukan sekadar pergantian Presiden. Konsepnya, perlu dibentuk Komite Rakyat Indonesia (KRI), sebuah presidium yang mirip KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) di awal kemerdekaan. KRI diisi oleh tokoh masyarakat, reformis, tidak terlibat dalam perangkat Orde Baru. KRI-lah yang akan menggelar Pemilu baru. Karena itu, Sidang Istimewa harus ditolak.

Sekira pukul 16.00 WIB, dari arah Bundaran Hotel Indonesia, di belakang barisan mahasiswa, tampak kedatangan ribuan massa lain. Mereka datang tanpa spanduk, namun membawa bambu runcing.

Kelompok itu menamakan diri Pamswakarsa, yaitu, pengamanan sipil yang dibentuk oleh pemerintahan transisi saat itu untuk mengamankan jalannya Sidang Istimewa MPR. "Dukung Sidang Istimewa! Sikat mahasiswa!" teriak mereka.

Namun, Pamswakarsa dihadang ribuan warga sekitar Jalan Sudirman. Tampak pula pelajar SMU yang bergabung di barisan warga yang mengusir Pamswakarsa. Bentrokan pun pecah antara warga dengan Pamswakarsa. Belasan orang tewas.

Sementara di depan kampus Atma Jaya, dari bawah Jembatan Semanggi, pagar betis tentara merangsek ke barisan Mahasiswa. Tank anti huru-hara mendekat. "Kraaak!" suara kokang sejata dan desingan peluru terdengar. Mahasiswa bentrok dengan aparat.

Dalam peristiwa ini, sejumlah mahasiswa tewas, ratusan luka-luka. Sekitar empat puluhan mahasiswa diketahui luka tembak. Inilah tragedi Semanggi 13 November 1998. Sebuah peristiwa berdarah yang merenggut nyawa anak bangsa.

Kecemasan

Wahab Talaohu, mahasiswa Universitas Jakarta yang didaulat sebagai pemimpin aksi dalam demonstrasi besar itu menceritakan kembali peristiwa ini kepada metrotvnews.com, Jumat (18/11/2016).

Aksi ini diawali dari kampus Universitas Persada Indonesia YAI, Salemba pada 9 November 1998. Puluhan ribu mahasiswa, di bawah organisasi ekstra kampus Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (FAMRED), merencanakan perjalanan menuju Gedung MPR/DPR. Dalam perjalanan, di sekitar Jalan Imam Bonjol, Jakarta, aparat menghadang dan memukul mundur demonstran. Mahasiswa pun kembali mengkonsentrasikan massa di YAI.



Pada 10 November 1998, mahasiswa kembali bergerak menuju Tugu Proklamasi, Menteng. Di lokasi bersejarah ini terjadi akumulasi massa dari masyarakat yang bergabung. Pada 12 November 1998, perjalanan menuju Gedung MPR/DPR dilanjutkan melalui kawasan Manggarai, Kuningan hinggan Jalan Jenderal Sudirman.

Tepat di depan kampus Universitas Atma Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, perjalanan kembali terhenti oleh blokade aparat keamanan. Demonstran kembali didesak mundur hingga terpaksa masuk ke dalam kampus Atma Jaya.

"Alhamdulillah tidak terjadi penembakan pada tanggal 12 itu, hanya dipukul mundur," ucap Wahab. Dia pun memutuskan agar massa aksi segera masuk ke dalam kampus Atma Jaya.

Wahab mengaku saat itu banyak yang memprovokasinya agar tetap lanjutkan perjalanan ke Gedung MPR/DPR. Ada pula provokasi yang menuding mahasiswa pengkhianat bila mundur dan masuk ke dalam kampus Atma Jaya. "Termasuk ancaman yang masuk melalui pager (penyeranta) saya saat itu," katanya.

Namun dirinya tetap mengambil keputusan untuk mundur. Menurutnya, keputusan ini sesuai pertimbangan para koordinator kampus-kampus saat itu, atau umum disebut sebagai simpul kampus.

Wahab mengaku, di malam hari pada tanggal 12 November 1998 itulah dirinya mulai dilanda kecemasan. Informasi mengenai akan terjadi penembakan oleh aparat didapat dari para seniornya, baik yang bekerja di media massa maupun diinstansi pemerintahan saat itu, termasuk senior gerakan mahasiswa yang masih aktif di LSM maupun organisasi kemasyarakatan.

"Dari informasi ini, mereka meminta agar saya tidak melanjutkan demonstrasi," ujar Wahab.

Potongan kertas

Malam itu, 12 November 1998 di dalam kampus Atma Jaya, perbincangan Wahab dengan mendiang Bernardus Realino Norma Irmawan alias Wawan terjadi untuk yang terakhir kalinya. Wawan adalah salah satu mahasiswa yang tewas tertembus peluru dalam tragedi berdarah itu.

Saat itu, di kala hujan mengguyur kawasan Semanggi, Wahab berbincang dengan beberapa teman, di antaranya ada Wawan. Wawan sendiri merupakan bagian dari perangkat aksi yang bertugas sebagai tim medis kala itu.

"Di tengah perbincangan, Wawan meminta saya menggunakan jaket kulitnya yang berwarna coklat. Wawan menawarkan itu karena pakaian yang sedang saya kenakan basah kuyup," ucap Wahab.

Setelah jaket itu diterima dan dipakai olehnya, dia terkejut mendapati banyaknya potongan kertas di dalam kantung jaket kulit itu. Dia pun bertanya kepada Wawan, untuk apa potongan kertas itu. Wawan menjawab seraya meminta kepada Wahab agar potongan kertas itu nanti ditaburkan di atas pusaranya bila dirinya meninggal. Sebaliknya, Wawan akan menaburkan itu ke makam Wahab bila sang Jenlap meninggal.

"Saya katakan padanya jangan bercanda seperti itu. Saya katakan Insya Allah tidak ada apa-apa, kita akan baik-baik saja," ucap Wahab mengisahkan perbincangan yang menjadi kesan baginya.

Malam itu Wahab mengaku kecemasannya meningkat, salahsatunya karena informasi yang terus datang untuk meminta dia tidak melanjutkan aksi. Pada sisi lain, penyeranta terus berbunyi, memberikan pesan yang mendorong agar mahasiswa harus duduki MPR/DPR.

Penembakan

Pagi harinya, Jumat, 13 November 1998, perangkat aksi dan para simpul kampus kembali berkumpul. Informasi terus masuk, di antaranya, kabar tewasnya sejumlah masyarakat dan pelajar saat bentrok dengan Pamswakarsa di beberapa lokasi di Jakarta.

Keputusan harus diambil, apakah akan tetap turun ke jalan atau mundur dan sudahi demonstrasi. Keputusannya saat itu, mahasiswa harus tetap turun suarakan Tolak SI MPR dan kembali duduki gedung MPR/DPR.

Pagi itu seorang aktivis mahasiswa yang bertugas mendokumentasikan aksi menghampiri Wahab. Dia menginformasikan kepada Wahab bahwa di Gedung BRI, yang lokasinya tepat diseberang kampus Atma Jaya, tampak sekelompok pasukan. Pasukan berbaret itu terlihat melalui kamera genggam (handycam) miliknya.

Kecemasan meningkat, inilah pengakuan Wahab. Dia dan kawan-kawan lain menduga bahwa pasukan kecil di atas Gedung BRI itu mungkin regu penembak. Kesimpulan sementara itu muncul karena banyaknya informasi yang mengatakan akan terjadi penembakan terhadap massa aksi di kala terjadi benturan. Di antara targetnya adalah pemimpin-pemimpin mahasiswa saat itu.

Keputusan pun diambil. Hasilnya, demonstrasi dilanjutkan. Wahab pun harus menjalani keputusan forum. Dia mengaku sudah ikhlas bila terjadi sesuatu pada dirinya. Baginya, bila meninggal, itu merupakan konsekuensi perjuangan.

Usai menggelar Sholat Jumat, tanpa diduga jumlah massa meningkat. Diperkirakan mencapai 500.000 massa terkonsentrasi di kampus Atma Jaya. Angka ini Mahasiswa terus berdatangan dari kampus-kampus sekitar Jakarta. Di luar kampus, tampak masyarakat umum sekitar Jalan Sudirman juga mulai memadat, meneriakan dukungan.

"Saya sudah mewakafkan diri saya sebagai martir perjuangan pada saat itu. Bertawakal, memohon, berserah diri, semua keputusan ada pada yang Maha Kuasa. Dan saya menuju ke mobil komando," kenangnya. Sejujurnya, kata Wahab, saat itu dirinya dalam kecemasan yang luar biasa, bertanggungjawab kepada ratusan ribu massa aksi yang siap menunggu instruksi.

Sore, sekitar pukul 16.00, usai menjalankan sholat Ashar berjamaah, masyarakat sekitar tampak menghalau laju Pamswakarsa di barisan belakang mahasiswa arah Bundaran HI. Sementara pasukan aparat mulai merangsek barisan depan mahasiswa di sekitar Jembatan Semanggi.

"Chaos.. Saya melihat kira-kira 10 barisan terdepan mahasiswa, yang menjadi barisan pelopor kami, bertahan dari desakan aparat. Saat itu saya berpikir saya akan mati dan teteskan airmata," kata dia.


TRAGEDI SEMANGGI. (dokumentasi Famred)

Mahasiswa kembali terdesak, desingan peluru dan ledakan gas air mata terus terdengar. Ratusan ribu mahasiswa lari berdesakan masuk ke dalam kampus Atma Jaya sambil melawan dengan lemparan batu dan tongkat bendera. Barisan penyelamat simpul mahasiswa menarik Wahab untuk masuk ke dalam kampus Atma Jaya.

Sambil bertahan di dalam kampus, kabar mahasiswa yang tertembak pun tiba di Wahab. Di antaranya, terdengar nama Wawan, seorang kawan yang juga tim kesehatan yang memberikan jaket kulit kepada Wahab. Wawan, yang konon sedang memegang bendera palang merah sebagai penanda tim medis, tertembus timah panas.

"Saya terdiam, tak bisa berucap. Sempat teteskan air mata," ujar Wahab.

Deru ambulan terdengar di sela desingan peluru, hilir mudik mengangkat korban yang tergeletak di Jalan Jenderal Sudirman. Pengepungan kampus Atma Jaya terus berlangsung. Mahasiswa bertahan dengan lemparan batu dan botol hingga dini hari.

Evakuasi

Kampus Atma Jaya terkepung, simpul kampus berkumpul bersama perangkat aksi, berkeputusan untuk menggelar konferensi pers terkait aksi aparat keamanan.

Saat itu perangkat keamanan mahasiswa menginformasikan kepada Wahab bahwa banyak aparat tak berseragam alias intel berkeliaran di dalam kampus Atma Jaya.

"Saya juga mendapat informasi bahwa saya dan beberapa kawan akan ditangkap. Pikiran saya mengarah pada undang-undang subversif yang akan dikenakan kepada kami," kata Wahab. Mahfum, sejak awal reformasi bergulir, banyak aktivis mahasiswa yang ditangkap.

Wahab mengaku, saat itu ia diminta sejumlah orang untuk segera keluar dari kampus Atma Jaya. Instruksinya adalah, menunggu mobil ambulan yang masuk menurunkan jenazah korban dan segera naik ke dalamnya.

"Saya pun ditarik oleh beberapa orang satgas kami, dipakaikan kerudung, dimasukan ke dalam mobil ambulans. Saya bersama dua orang simpul utama saat itu," ujarnya.

Kecemasan Wahab semakin meningkat. Dia dan kedua temannya mengaku pasrah, karena, di dalam kabin belakang ambulan yang tertutup itu, mereka tidak mengetahui siapa yang mengendarai mobil tersebut dan kemana tujuannya. Pintu belakang ambulan terkunci.

Dalam perjalanan yang lumayan jauh itu tiba-tiba mobil berhenti. Saat pintu belakang ambulan dibuka, kami pun keluar. Ternyata kami tiba rumah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). "Lega, kami memang sedang diselamatkan," katanya.

Ya. Tensi politik saat itu memang sangat tinggi. Isu yang berseliweran terdengar akan ada pembersihan aktivis. "Kami dituduh ingin melakukan makar oleh Panglima ABRI saat itu," ujar Wahab.

Namun, saat itu aktivis mahasiswa merasa beruntung. Gusdur menanggapi tuduhan makar ABRI terhadap aksi mahasiswa. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu menjawab tudingan dengan mengatakan, "yang makar itu harusnya tentara, karena memegang senjata. Mahasiswa tidak memegang senjata," ucap Wahab mengenang pernyataan Gus Dur yang melegakan itu.

Wahab mengaku, sejak itulah mereka telah menyiapkan diri menghadapi tensi poplitik yang tidak menentu itu. "Bila pemerintahan Habibie kembali, mungkin kami ditangkapi atau mau tidak mau harus tinggalkan Indonesia saat itu. Ya itulah suka duka perjuangan," katanya.

 


(ADM)

  • titlenya ya

    Jejak Duka Tragedi Semanggi (3)

    06 Desember 2017 00:37

    Kebebasan demokratik yang pada hari-hari ini yang relatif bisa dinikmati masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan gerakan pro demo…

  • titlenya ya

    Jejak Duka Tragedi Semanggi (2)

    06 Desember 2017 00:23

    Kebebasan demokratik yang pada hari-hari ini yang relatif bisa dinikmati masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan gerakan pro demo…

  • titlenya ya

    Jejak Duka Tragedi Semanggi (1)

    06 Desember 2017 00:23

    Kebebasan demokratik yang pada hari-hari ini yang relatif bisa dinikmati masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan gerakan pro demo…

  • titlenya ya

    Peringatan 19 Tahun Tragedi Semanggi

    13 November 2017 20:19

    Metrotvnews.com, Jakarta: Peringatan Tragedi Semanggi digelar di kampus Universitas Atmajaya, Semanggi, Jakarta, Senin (13/11/2017).  Dalam aksin…