Vandalisme: Di Balik Coretan Dinding

Dhaifurrakhman Abas    •    13 November 2018 18:06 WIB
Vandalisme: Di Balik Coretan Dinding
Beken, salah seorang anggota kelompok vandalisme sedang menggambar grafiti di Tangerang. (Dhaifurrakhman Abas).

RINTIK hujan mulai merambah Alam Sutera, Tangerang Selatan, Minggu malam. Sekelompok pemuda berusia 20-an tampak mulai gelisah, sedikit kesal. Satu persatu kaleng-kaleng cat semprot berbagai warna yang mereka beli sejak siang tadi, dimasukan kembali ke dalam dus dan plastik. Kemudian diangkut menggunakan sepeda motor.



Setelah selesai berkemas, para pemuda yang menamai kelompoknya “Only-one” ini lantas buru-buru mencari kedai untuk berteduh, merokok dan menyeruput kopi, sembari menunggu hujan reda. Tembok-tembok rumah toko (ruko) dan fasilitas publik yang belum selesai dicoret-coret terpaksa ditinggalkan begitu saja. Bagi pelaku vandalisme grafiti, hujan bak musuh utama; selain aparat keamanan. Hujan membikin hasil karya seni tak sempurna. Rembesan air bisa merusak gambar yang dilukis menggunakan cat. Pula, akan mempersulit gerak pelarian jika mereka dikejar polisi atau warga setempat.



Lokasi aksi vandalisme Only-one di Tangerang. (Dhaifurrakhman Abas).


Tapi kegiatan malam ini tidak boleh gagal begitu saja--Sudah direncanakan matang-matang. Lokasi yang akan dicoret malam ini juga sudah disurvei jauh hari sebelumnya. Mereka siap menunggu hingga hujan benar-benar reda.

“Totalnya ada lima lokasi malam ini. Setelah ini (Alam Sutra), kita ke Tangerang Kota, ya,” kata pemuda yang karib disapa Beken, kepada Medcom Files, di Tangerang Selatan, Minggu 28 Oktober 2018.
 

Pemilihan tempat

Waktu mulai menunjukan pukul 23.30 WIB. Tapi hujan masih mengguyur, meskipun sudah tidak terlalu deras. Satu persatu anggota Only-one mulai membubarkan diri. Esok pagi, mereka mesti berkuliah dan bekerja.

Sementara Beken, Bedo dan Hiko memutuskan melanjutkan aksi. Begitu hujan reda, wilayah yang menjadi target survei lantas dihampiri. Pemilihan lokasi tidak asal tebang pilih. Biasanya lokasi-lokasi ideal yang mengundang perhatian publik, seperti daerah kemacetan, dan fasilitas publik yang selalu disesaki masyarakat.

“Biar dilihat orang dan pesannya sampai,” katanya.

Menurut Beken, lokasi yang dijadikan wadah berhubungan dengan status sosial dan pengakuan. Semakin sulit akses lokasi yang digambar, si penggambar grafiti (bomber) akan semakin dihormati dalam kelompok maupun kelompok lain.

Tak perduli bentuk grafiti yang digambar bernilai seni, penuh warna, estetik ataupun sekadar tagging (Penanda), semacam paraf identitas atau nama kelompok. Hal ini menjadi tanda bahwa suatu kelompok atau seorang pelaku grafiti pernah atau sedang berada di lokasi tersebut.



Kelompok Only-one melanjutkan aksi setelah hujan reda, (Dhaifurrakhman Abas).

 

Jenis

Hasil gambar grafiti tak melulu selalu meriah, terstruktur, dan estetik. Adapula yang hanya berbentuk coret-coret nama geng, kelompok ataupun sekolah. Seni grafiti ini lebih karib disebut tagging.

Malam ini, Only-one memilih melancarkan aksi tagging di kota Tangerang. Alasannya, karena kelompok ini ingin menyebarkan eksistensi nama kelompoknya di daerah yang belum pernah mereka jamah, sekaligus menunjukkan kepada publik bahwa kelompok ini masih eksis melakukan aksi vandalisme.

Musababnya, kelompok Only-one sudah jarang beraksi di ruang publik. Rutinitas pekerjaan yang menumpuk memaksa mereka tidak beraksi sementara waktu. Lagipula melakukan grafiti jenis ini terbilang lebih cepat dilakukan tanpa memakan waktu.

“Cat semprot satu warna udah cukup, lebih murah. Udah gitu gerak-gerik kita enggak dicurigai (saat beraksi),” ujarnya.

Harga satu cat semprot bervariasi, antara Rp35 ribu sampai Rp200 ribu. Tergantung merek, pabrikan dan kualitas cat. Sekali beraksi, masing-masing orang bisa menghabiskan dua sampai tiga kaleng. Jika ditotal, menghabiskan duit Rp70 ribu per orang.



Toko penjual cat semprot di Alam Sutera, Tangerang. (Dhaifurrakhman Abas).


Sedangkan bentuk grafiti lain bisa cukup mahal. Jenis Wild Style misalnya, dibutuhkan lebih dari satu warna cat semprot. Juga memperhatikan ketebalan dan besarnya tulisan grafiti, serta jenis cat yang berkualitas baik nan mahal. Belum lagi jika latar dinding berwarna tidak pas. Kadang mereka harus membeli cat tembok seharga Rp50 ribu untuk menimpali warna.

“Warna harus menyesuaikan. Kalau latarnya gelap, kita beli cat tembok warna terang, begitupun sebaliknya. Biar mencolok dan dilihat orang. Tapi kalau cuma tagging, cat semprot satu warna aja udah cukup,” ujarnya.
 

Tagging yang dianggap vandal

Era dimana seni jalanan grafiti dan mural, tagging tidak pernah lebih dapat diterima oleh masyarakat ketimbang jenis grafiti lainnya. Tagging memiliki masalah citra yang serius: terkait dengan geng, dianggap vandalisme dan menantang gagasan tentang kepemilikan properti.

“Bentuk vandal nya lebih terasa. Karena tagging tidak memiliki nilai, baik ekonomis maupun nilai seni,” kata Assegaf, seniman grafiti yang akrab disapa Fukone, kepada Medcom Files, di Jakarta Selatan, Jumat 2 November 2018..

Menurut Fukeone, tagging biasanya tidak dihargai masyarakat, bahkan oleh sesama seniman grafiti. Tagging tidak menggambarkan keindahan seni grafiti. Seolah hanya ajang pamer dan penanda wilayah tanpa makna seni. Apalagi jika yang melakukan tagging merupakan orang yang tidak terkenal.

“Biasanya kita sering timpali tagging itu ke bentuk lain, seperti wildstyle atau bubble grafiti. Dan ini juga lebih enak dipandang mata. Berbeda dengan tagging yang lebih urakan,” ujar Fukeone.



Kelompok Only-one melakukan vandalisme di ruko milik warga di Tangerang. (Dhaifurrakhman Abas).


Lokasi tagging pun kerap membuatnya lebih dianggap vandal. Biasanya digambar di mobil-mobil milik publik, tembok, halte, telepon umum dan fasilitas publik lain.

Buat sebagian seniman grafiti Fukeone, bentuk dan keindahan seni grafiti menjadi yang paling utama. Nilai-nilai seni penting untuk perkembangan karir.

“Kalau bagus, bisa jadi sumber pemasukan. Dan juga dihargai oleh kalangan seniman,” ujar Fukeone.

Sementara seniman grafiti dan mural, The Popo punya pandangan berbeda. Menurut dia tagging wajar dilakukan pada usia remaja. Ini terkait cara berekspresi untuk mendapatkan pengakuan kelompok dan pribadi melalui coretan.

“Semua orang butuh identitas, pangakuan. Caranya setiap orang kan berbeda dalam memperoleh pengakuan,” kata Popo saat kami temui di Tebet Jakarta Selatan, Kamis 1 November 2018.



Seniman grafiti dan mural Popo, Jakarta.  (MI/Adam Dwi).


Meski begitu, sebagai seniman grafiti, Popo menyayangkan aksi tagging yang dilakukan. Sebab hal ini tidak memberikan manfaat yang berarti.

“Gue hadir di lingkungan ini, jadi belum bisa mengasih tau benar atau salah. Gue juga pernah melakukan hal seperti mereka. Untungnya gue lebih dulu sadar apa yang gue lakukan enggak ada efek buat gue atau lingkungan,” pungkasnya.



Salah satu anggota vandalisme Only-one sedang beraksi. (Dhaifurrakhman Abas).

 

Candu

Meski begitu kelompok Only-one tidak ambil pusing. Kelompok ini mengaku akan terus melakukan tagging di fasilitas publik. Kegiatan ini ibarat candu yang harus dilampiaskan.

Dia juga mengaku hasrat untuk menggambar di fasilitas publik tidak terbendung. Sekalipun pemerintah menyediakan wadah khusus semacam taman grafiti.   

“Target gue enggak akan berhenti sampai kapanpun. Seminggu enggak nge-gambar tuh, kayak ada yang kurang buat (diri) gue,” ujar Beken menutup perbincangan.
 


(WAN)

  • titlenya ya

    VANDALISME: Di Balik Coretan Dinding

    16 November 2018 19:51

    Coretan vandalisme sering dianggap tak bermakna, tak lebih dari bentuk kejahilan dan kenakalan remaja. Di sisi lain, coretan vandal dimaksudkan untuk …

  • titlenya ya

    Melawan Stigma Vandalisme

    13 November 2018 19:55

    Tiap kali beraksi, dia bersama Only-one, geng vandalisme paling disegani di kota Tangerang.

  • titlenya ya

    Bergerilya di Dinding Kota

    13 November 2018 16:47

    Era orde baru, vandalisme dalam bentuk coretan mulai tampak di dinding kota dan fasilitas publik.

  • titlenya ya

    Pelaku Vandal Akan Terus Ada

    13 November 2018 16:07

    Pelaporan vandalisme ini dimaksudkan sebagai shock therapy