Hikayat Kekeramatan di Luar Batang

Wanda Indana    •    14 Juni 2017 00:32 WIB
Hikayat Kekeramatan di Luar Batang
Masjid Keramat Luar Batang (Antara/Yudhi Mahatma)

Metrotvnews.com, Jakarta: Langit senja memasuki waktu pergantian hari menjelang malam. Semburat cahaya berwarna lembayung perlahan meredup di ufuk timur. Sang surya sebentar lagi menghilang ditelan kegelapan.
 
Dari pengeras suara di atas menara masjid ini, lamat-lamat lantunan shalawat nan syahdu terdengar merdu membelai kalbu. Alunannya seperti membius, memberi ketenangan bagi yang mendengarnya. Menghayatinya membuat lupa akan segala susah payah kehidupan. Meresapinya mampu melunturkan rasa penat dan lelah seharian.
 
Berkebalikan dengan upaya meredakan denyut jantung yang penuh kenikmatan batiniah ini, suasana di sekitar kami justru tampak serba sibuk dan terburu-buru. Beberapa pengurus masjid menggelar terpal di pelataran sisi utara, menyiapkan tempat bagi jemaah untuk menyantap takjil alias makanan ringan berbuka puasa.
 
Suasana bertambah ramai dengan kehadiran ratusan peziarah makam aulia atau tokoh mulia pendiri masjid ini. Mereka yang ingin berziarah ini datang dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Masjid ini memang seperti punya daya tarik bagi para pengharap “berkah” jika dilihat dari namanya: Masjid Jami’ Keramat Luar Batang.
 
Kata “keramat” yang sengaja disematkan dalam penamaan masjid ini jelas merupakan suatu hal yang unik. Keramat yang dimaksud di sini memang merujuk pada asal katanya dari bahasa arab: karamah yang berarti mulia.
 
Adapun pengertian keramat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ada dua. Pertama, suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan (tentang orang yang bertakwa). Kedua, suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain (tentang barang atau tempat suci).
 
Jadi, makna keramat yang melekat pada masjid ini dapat dipahami sebagai tempat suci peninggalan orang mulia (wali) yang bertuah atau menyimpan keajaiban.
 
Lebih menarik lagi jika mengetahui riwayat kehadiran masjid ini, yang banyak dituturkan melalui cerita rakyat (folklore). Adalah seorang bernama Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus, sosok pemuda Arab asal Hadramaut, Yaman Selatan yang menjadi hulu, pusat, serta muara dari berbagai kisah tentang Masjid Keramat Luar Batang.
 

Langit senja di atas kawasan Kampung Luar Batang (MI/Galih Pradipta)

Hikayat mengenai Habib Husein dinarasikan sebagai tokoh karismatik yang memiliki karomah (kemuliaan) serta giat berdakwah dan menyiarkan ajaran Islam di kalangan masyarakat Betawi. Sejak kedatangannya melalui pelabuhan Sunda Kelapa dan memasuki Batavia, Habib Husein segera beradaptasi dengan penduduk lokal. Antara lain mempelajari bahasa melayu lewat interaksi di pasar-pasar sembari berdagang.
 
Lantaran memiliki banyak kelebihan, Habib Husein bisa beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungannya, termasuk mempelajari bahasa lokal. Kegiatannya berjualan kapur barus, kitab-kitab Islam, gamis, tasbih, dan segala perkakas khas Timur Tengah dilakukan untuk sekadar mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.
 
Meski begitu, ia tak pernah meninggalkan ibadah di tengah kesibukannya berdagang. Apalagi untuk urusan shalat, ia bisa melakukannya di mana saja. Termasuk di pinggir jalan. Kebiasannya inilah yang mengundang perhatian dan menimbulkan kekaguman bagi banyak orang.
 
Pun begitu, ia tak segan mengajarkan kepada siapa saja yang bertanya maupun berminat pada pengetahuan untuk memperdalam ilmu terkait ibadah Islam. Maka, tak heran jika kemudian ia cepat dikenal  masyarakat sebagai ahli ibadah, seorang guru dengan reputasi tingkat kesalehan yang tinggi.
 
Seiring kemasyhurannya menjadi mubalig hingga ke pelosok, Habib Husein kemudian membangun surau di sebuah kampung baru yang tak jauh dari pelabuhan. Berkat kegigihan bisnisnya pun mengalami kemajuan sehingga ia bisa mengumpulkan dana bagi pembangunan surau di lahan tersebut.  
 

Lukisan pelabuhan Sunda Kepala di masa lalu yang terdapat di dalam Museum Bahari, Jakarta. (Antara/Hafidz Mubarak)

Pada era itu, Sunda Kelapa termasuk salah satu bandar tersibuk di Pulau Jawa. Di pinggiran pantai, banyak dibangun hunian dan sentra perdagangan. Sementara itu, ada kawasan baru yang dibuka di dekat hutan bakau. Nah, di situlah Habib Husein mendirikan surau.
 
Alwi Shahab, budayawan Betawi, dalam Saudagar Baghdad dari Betawi (2004) menyebut, tiap malam selalu ada warga yang mendatangi surau Habib Husein untuk mengaji dan memohon bantuan doa. Sedangkan pada siang hari, Habib Husein berdagang ke pasar.
 
Ada cerita, pada suatu malam, Habib Husein dikejutkan oleh kedatangan seorang pemuda yang pakaiannya basah kuyup. Pemuda itu warga keturunan Tionghoa. Ia memohon pada Habib Husein agar menyelamatkannya dari pasukan bayaran perusahaan dagang Belanda (VOC) yang sedang mengejarnya. Ia mengaku kabur dari tahanan lantaran tak mau dihukum mati.  
 
Habib Husein bersedia menolongnya. Pemuda itu diperbolehkan bersembunyi di kediamannya. Ketika pasukan VOC datang untuk menangkap pemuda itu, Habib Husein melindunginya dengan mengajukan diri sebagai jaminan atas kebebasan pemuda tersebut. Mendapat tawaran seperti itu dari Habib Husein, yang merupakan tokoh yang dihormati masyarakat, pasukan VOC pun bergerak mundur.
 
Pemuda itu berterima kasih dan menyatakan ingin mengabdi pada Habib Husein. Lalu, Habib Husein menerimanya sebagai murid setelah pemuda itu masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Abdul Kadir.
 
Kehadiran Abdul Kadir yang senantiasa menyertainya, semakin memudahkan Habib Husein dalam berdakwah. Abdul Kadir kerap berperan sebagai penerjemah jika Habib Husein kesulitan berkomunikasi dalam bahasa melayu.
 
Dengan bantuan penerjemah, Habib Husein makin tersohor. Kian ramai orang datang untuk belajar Islam padanya. Tak cuma dari warga sekitar, tapi warga luar Batavia. Saban hari, rumah Habib Husein dikunjungi para muridnya dan masyarakat umum.
 
Bertambah ramainya orang berkumpul di tempat Habib Husein menggelisahkan penguasa VOC. Mereka curiga Habib Husein memanfaatkan kepopuleran dan pengaruhnya untuk gerakan politik yang memicu perlawanan masyarakat terhadap penjajah.
 
Dengan alasan mengganggu keamanan, Habib Husein beserta beberapa pengikutnya ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Mereka dijatuhi hukuman tahanan.
 
Habib Husein dipenjarakan dalam sel tersendiri, di ruangan yang sempit, terpisah dengan para pengikutnya. Anehnya, sipir penjara sering dikejutkan dengan sosok Habib Husein yang tampak menjadi imam shalat di tengah malam berjemaah dengan para pengikutnya di ruangan lain yang lebih luas. Padahal, jika dicek ke selnya, Habib Husein terlihat pulas di ruang sempit yang terkunci.
 
Selanjutnya, Habib Husein dan pengikutnya dikeluarkan dari penjara. Namun, pertimbangan dan alasan pembebasannya ini tidak diketahui secara jelas. Keajaiban ini menjadi salah satu bagian dalam cerita rakyat yang sudah awam mengenai karomah Habib Husein.
 

Suasana dari atas Masjid Keramat Luar Batang (Antara/Hafidz Mubarak)

Cerita lainnya, Habib Husein pernah menolak hadiah berupa uang, bahkan emas, dari seorang pria berkebangsaan Belanda. Pemberian ini konon merupakan ungkapan terima kasih pria itu kepada Habib Husein yang membuatnya diangkat menjadi pejabat pemerintahan di Batavia.
 
Lantaran pejabat itu mendesak agar pemberiannya diterima, Habib Husein menawarkan agar hadiahnya diganti. Yaitu, berupa tanah. Ternyata, pejabat itu menyanggupi, Habib Husein dihadiahi tanah seluas kira-kira 10 hektare.
 
Tanah itu lalu digunakan Habib Husein untuk mengembangkan suraunya menjadi masjid. Dari sini Habih Husein meningkatkan kegiatan pengajian dan dakwah. Habib Husein mengajarkan agama kepada murid-muridnya yang datang dari berbagai daerah di Nusantara.
 
Kemudian, tanah seluas itu diberi patok dengan batang kayu. Kelak, wilayah itu dikenal sebagai kampung Luar Batang.
 
Frederik de Haan dalam buku Oud Batavia mengungkapkan, kawasan ini disebut Luar Batang karena terletak di luar batang penghalang yang diletakkan melintang di muara Sungai Ciliwung. Penghalang tersebut terbuat dari batang kayu dan diperkuat dengan besi.
 
Ada istilah boom dari bahasa Belanda yang merujuk tentang batang kayu yang dijadikan penghalang bagi kapal atau perahu sebelum membayar bea masuk daerah perairan, sesuai peta yang diperkirakan dibuat pada 1623. Nah, kawasan yang berada di luar penghalang inilah yang kemudian disebut dengan Luar Batang atau dalam bahasa Belanda disebut buiten de boom.


Menepikan perahu yang akan disewakan di kawasan Kampung Luar Batang (Antara/Wahyu Putro)

Tetapi, ada juga versi lain mengenai penamaan luar batang ini. Hal ini terkait dengan peristiwa "ajaib" seputar pemakaman Habib Husein. Menurut cerita rakyat, jenazah Habib Husein akan dimakamkan di Tanah Abang. Namun, sesampainya di Tanah Abang keranda yang digunakan untuk menggotong jenazah Habib Husein ternyata kosong. Rombongan pun kembali lagi dan terkejut bahwa jenazah sang habib masih bersemayam di dalam masjid.
 
Lantas jenazah dimasukkan lagi ke keranda dan pelayat membawanya ke Tanah Abang untuk kedua kalinya. Tetapi, hal yang sama terjadi lagi. Keranda kosong ketika dibuka di Tanah Abang, seolah jenazah menghilang dari keranda atau kurung batang (mayat) tanpa siapapun mengetahuinya. Hingga ketiga kalinya, kejadian yang sama terulang.
 
Masyarakat akhirnya menguburkan jenazah Habib Husein di pekarangan  masjid. Kali ini, jenazah tidak lagi menghilang dan berhasil dimakamkan. Dari situlah, masyarakat mengenal kisah tentang habib keramat (karomah) yang jenazahnya keluar dari kurung batang.
 
Habib Husein pertama kali menjejakkan kaki di Jawa melalui pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1746 dan wafat pada  tahun 1756. Saat tiba di Batavia, Habib Husein masih berusia sangat muda, sekira 20 tahun.


Makam Habib Husein di dalam Masjid Keramat Luar Batang (Antara/Hafidz Mubarak)

Pasca meninggalnya Habib Husein, masyarakat terus membangun masjid peninggalan ini. Beberapa kali mengalami renovasi dan perluasan, kini makam Habib Husein tidak lagi berada di luar, tetapi dalam satu ruangan dengan serambi masjid. Makam itu ditutupi kain dan hanya dibuka pada bulan Maulid dan bulan haul (peringatan wafatnya).
 
Lantaran usianya yang sudah ratusan tahun dan memiliki nilai kesejarahan tinggi, masjid ini kemudian diresmikan menjadi cagar budaya yang patut untuk dilestarikan oleh pemerintah provinsi pada saat Gubernur DKI Jakarta dijabat oleh Soerjadi Soedirja. Dengan kata lain, masjid yang setiap pekannya didatangi sekitar 5.000 peziarah ini juga menjadi ikon wisata religi di Jakarta.

Sejarawan Universitas Indonesia Rushdy Hoesein mengungkapkan, Habib Husein memiliki kontribusi besar dalam penyebaran Islam. Tak hanya di di pesisir utara Batavia, tetapi juga pelosok daerah lain hingga Surabaya. “Jadi wajar, makam beliau hingga kini tak pernah sepi dari para peziarah,” ujar Rushdy kala berbincang dengan Metrotvnews.com, akhir bulan lalu.
 
Suara adzan maghrib terdengar, sudah waktunya berbuka puasa. Kami bersama jemaah lainnya langsung menyantap takjil gratis yang disediakan pengurus masjid tadi. Tak lama kemudian, kami pun beranjak ke serambi masjid untuk melaksanakan shalat maghrib berjemaah.
 
Semakin malam, semakin ramai pula para peziarah yang berdatangan. Kata Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Luar Batang, Mansur Amin, jumlah pengunjung semakin membludak saat malam Jumat.
 
“Bisa ribuan orang yang datang, dari berbagai daerah. Paling ramai kalau Malam Jumat,”  kata Mansur.
 

Seorang penjual poster dan foto para juru dakwah, kyai dan tokoh Islam karismatik membungkus poster jualannya di halaman Masjid Luar Batang (Antara/Zabur Karuru)


 
(ADM)