Toleransi Agama, Tirulah Salatiga

Sonya Michaella    •    28 Desember 2015 20:58 WIB
Toleransi Agama, Tirulah Salatiga
Seorang umat Katolik menata patung bayi Yesus saat menghias diorama kandang domba di Gereja Santo Paulus Miki, Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (23/12). Berbagai jenis persiapan seperti mendekorasi dan membersihkan gereja dilakukan umat nasrani untuk menyambut

Metrotvnews.com, Salatiga:  November lalu, Setara Institute memberikan predikat Kota Paling Toleransi di pada sepuluh kota di Indonesia. Salatiga menjadi satu-satunya kota di pulau Jawa yang masuk dalam daftar tersebut.



Salatiga diklaim warganya sebagai kota yang unik. Berada di tengah-tengah tiga kota besar: Semarang, Surakarta dan Yogyakarta, kota yang dulunya tempat persinggahan kolonial Belanda ini menjadi tujuan para pelajar untuk menimba ilmu. Berdirinya Universitas Kristen Satya Wacana pada tahun 1956 yang mempunyai jargon ‘Indonesia Mini’, karena mahasiswanya berasal dari Sabang sampai Merauke membuat Salatiga berkembang menjadi kota pendidikan. “Setelah adanya UKSW, toleransi agama di Salatiga semakin kuat. Apalagi dengan prakteknya yang memang menerima mahasiswa dari semua kalangan dan agama, tidak memandang satu agama. UKSW memang mencerminkan kota Salatiga yang tenang dan tentram,” ujar ahli antropologi politik Pramedhi Giriwiloso kepada metrotvnews.com, Jumat (25/12/2015).

Adanya  keseimbangan komunitas agama yang di Salatiga membuat hampir tidak pernah terjadi gesekan agama di kota kecil yang sejuk dan tenang ini.

“Tidak pernah ada konflik agama. Masyarakat sudah sedemikian menyadari tidak ada perlunya berkonflik dan bergesekan soal agama. Yang ada malah keseimbangan antara komunitas Kristen dan non Kristen dan semua agama,” ungkapnya lagi.

Salah satu bentuk toleransi yang jelas terlihat di kota yang terkenal dengan enting-enting gepuk ini adalah penggunaaan lapangan Pancasila sebagai lokasi kegiatan keagamaan. Pada bulan Desember, lapangan ini menjadi tempat ibadah merayakan Natal umat kristiani se-Salatiga. Pun pada hari Idul Fitri, lapangan ini digunakan untuk melaksanakan sholat Ied secara masal.

Pada saat merayakan Natal, para pemuda Masjid Agung Darul Amal yang berdekatan dengan lapangan pun turut membantu kelancaran ibadah Natal dengan mengatur masuknya kendaraan dan mengatur para warga yang akan mengikuti ibadah. Setelah itu para pemuda masjid akan menyalami dan mengucapkan hari Natal kepada para umat Kristiani. Fenomena ini sangat berbanding terbalik dengan realita yang dihadapi Indonesia dimana umat Muslim haram mengucapkan hari raya Natal kepada umat Kristiani.

Tidak hanya hari Natal, perayaan Paskah pun diadakan di Lapangan Pancasila dan Masjid Agung Darul Alam tidak pernah merasa terganggu kendati mereka juga menggunakan lapangan tersebut saat Idul Adha.

Dimulai sejak subuh sekitar pukul 4.00 WIB, Masjid Agung Darul Alam sangat menghormati perayaan Natal tersebut dengan mematikan pengeras suara adzan subuh. Hal yang terkadang sulit ditemui di kota-kota lain, apalagi dengan gesekan agama yang bertambah.

Pemerintah juga memberikan peluang dan kesempatan umat Kristiani untuk mengekspresikan hari Natal dengan menggelar festival Natal berkeliling kota Salatiga dan disaksikan pula oleh umat Muslim juga umat agama lain setiap tahunnya.

“Salatiga bukan kota ajang pertarungan agama atau menganggap agamanya paling bagus dan hebat. Pemimpin kota Salatiga yang beragama Muslim sangat bisa bekerja sama dengan para bawahannya yang beragama Nasrani,” lanjut Pramedhi.

Pada 23 Januari 2016, sebuah konser besar bertajuk lintas-agama akan digelar di kota tersebut. Konser akan diadakan di salah satu sekolah tinggi agama Islam di Salatiga ini akan menyajikan drama musikal yang dimainkan oleh pemuda-pemudi gereja, pemuda pesantren, dan pemuda umat Budha. Selain konser, akan ada kegiatan alam live in yang mengikutsertakan para warga gereja dan masjid.

Dari kegiatan tersebut, Salatiga bisa dinilai sebagai kota yang sangat menjunjung dan menjaga keharmonisan hidup beragama. “Kegiatan ini sangat diperlukan untuk membuat Salatiga lebih harmonis menyangkut kehidupan toleransi beragama. Memang tidak ada masalah tentang itu, namun kita sebagai warga juga perlu menjaga ketenangan dan kedamaian yang sudah ada ini,” ungkap konseptor konser lintas-agama Indri ketika dihubungi metrotvnews.com.

Persoalan antar agama memang sangat rentan jika dibicarakan. Di Indonesia pun, perbedaan agama masih kentara jelas. Namun, sebagai kota kecil yang berada di Jawa Tengah ini, Salatiga menunjukkan bagaimana sebuah kota bisa harmonis dengan budaya dan agama yang berbeda-beda.

“Konflik agama pasti ada di setiap kota, bahkan negara. Namun, di Salatiga, persoalan tersebut tidak pernah terjadi. Adapun itu konflik besar maupun kecil,” kata budayawan Prajarto di kantornya, Sabtu (26/12/2015).

Memang, keterbukaan untuk menerima agama lain masih sangat rendah di Indonesia. Namun setidaknya, Salatiga sudah mencerminkan bagaimana warganya bisa menerima keberadaan agama lain. Hampir tidak pernah ada masalah agama, social dan ras terjadi di Salatiga. Sikap terbuka dalam melihat dan menerima perbedaan memang seharusnya ada.

“Bahkan imam-imam dari Turki dan pendeta-pendeta dari Belanda sampai datang ke Salatiga untuk belajar membangun relasi antar agama,” katanya.

Dengan slogan kota Salatiga Hati Beriman, kota ini benar-benar menunjukkan bahwa toleransi agama dan pluralisme tinggi memang terbukti ada.
 


(ADM)