Kala Sejarah Dilalap Jago Merah

Lis Pratiwi    •    02 Februari 2018 17:13 WIB
Kala Sejarah Dilalap Jago Merah
Ilustrasi: Medcom

Jakarta: Aroma kayu yang terbakar masih tercium di sekitar Museum Bahari, Rabu, 17 Januari 2018. Puluhan petugas berseragam oranye tampak sibuk mengangkut puing yang berserak. Sehari lalu, kebakaran melanda museum yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara itu.
 
Di salah satu gedung, air sisa pemadaman masih tergenang. Beberapa perahu koleksi museum tampak basah dan kotor. Menjadi saksi bisu kejadian pilu.
 
Gedung C, di bagian utara, adalah yang terparah. Dari sinilah titik api berasal, membuat seluruh bangunan di kompleks itu terbakar. Kisah sejarah kebaharian Indonesia berubah menjadi arang dan kayu hitam yang bertumpukan.





Petugas membersihkan reruntuhan kayu yang terbakar di Museum Bahari, Rabu, 17 Januari 2018. (Medcom/Lis)
 

Koleksi Museum Bahari di Gedung C rusak dan terendam air pasca pemadaman. (MI)
Tercatat 60 koleksi museum terbakar, di antaranya patung-patung dari ruang legenda laut internasional, patung legenda bahari nusantara, koleksi perang laut jawa, alat navigasi laut, alat bantu pelayaran, model mercusuar, dan miniatur perahu tradisional dari tahun 1940-1980.
 
Secara keseluruhan, Museum Bahari memiliki hingga 3000 koleksi, termasuk aneka kerang dari laut Indonesia. Kendati jumlah barang yang terbakar hanya sekitar dua persen dari total koleksi, namun kerugian akibat kejadian ini tak terhitung. Tentu saja, karena nilai sebuah sejarah tak bisa dikalkulasikan.
 

Selain koleksinya, gedung museum yang berdiri sejak 1652 itu pun rusak berat.

 

Pada masa pendudukan Belanda, bangunan tersebut digunakan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk menyimpan barang dagangan; seperti rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil.
 
Sementara di era pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai sebagai tempat penyimpanan logistik tentara. Setelah Indonesia merdeka, bangunan dialihgunakan oleh PLN dan PTT untuk gudang.
 
Akhirnya, pada 1976, bangunan ini dipugar kembali, menjadi cagar budaya, dan diresmikan sebagai Museum Bahari pada 7 Juli 1977.



Kebakaran di Gedung Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta, Selasa, 16 Januari 2018. (ANTARA)


Kebakaran museum
 
Kebakaran museum juga pernah terjadi di New York, Amerika Serikat pada Juli 1865 dan 1868. Museum itu bernama Barnum’s American Museum - sebelumnya bernama Scudder's American Museum, milik Phineas Taylor Barnum (P.T. Barnum).

Berbagai benda artifisial binatang, patung lilin, alat-alat penelitian, menjadi koleksinya; yang dikumpulkan dari seluruh dunia selama 25 tahun. Museum ini juga difungsikan sebagai tempat pertunjukan, dari teater hingga sirkus.

Kemudian, pada Agustus 2007, kebakaran juga melanda bangunan berusia 100 tahun, yang sebelumnya digunakan sebagai British Tea Party Ship and Museum di Boston, Amerika Serikat.
 
Beruntung, barang bersejarah seperti replika Brig Beaver, salah satu kapal dalam Revolusi Amerika, telah dipindahkan akibat museum tersambar petir pada 2001.
 
Museum lain yang pernah dilanda kebakaran adalah Scott's Antique Mall dan Hopalong Cassidy Museum di Cambridge, Ohio, Amerika Serikat. Museum yang didedikasikan untuk pahlawan koboi fiktif Hopalong Cassidy itu terbakar pada 3 September 2016.
 
Dan, salah satu kebakaran museum paling parah abad ini adalah The National Museum of Natural History di New Delhi, India, pada 26 April 2016. Peristiwa itu menghancurkan hampir seluruh bangunan museum dan berbagai koleksinya, termasuk fosil-fosil berusia 160 juta tahun.



Kebakaran di Gedung Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta, Selasa, 16 Januari 2018. (MI)


Sistem keamanan konvensional

Di Indonesia, kebakaran Museum Bahari mendulang banyak perhatian. Pengelola mengatakan, kejadiannya sekitar pukul 08:40 WIB. Api diduga berasal dari korsleting listrik di plafon Gedung C.
 
Saat itu, kabel yang meleleh berjatuhan mengenai alat penunjang museum.  Arsitektur museum serta barang koleksi yang didominasi material kayu membuat api cepat membesar, pula menjalar.
 
Namun, banyak kalangan tampak mewajarkan besarnya api dan luasnya kebakaran tersebut. Alasannya, standar keamanan museum yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu masih terbatas.



Kebakaran di Gedung Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta, Selasa, 16 Januari 2018. (MI)


Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budiati mengatakan, sekitar 15 tahun lalu, Pemprov telah menyiapkan alat pemadam dengan memasang pipa hydrant di dinding museum. Sayangnya, pipa tersebut berkarat akibat korosi air laut yang merambat ke tembok.
 
“Untuk gedung C ini baru akan dipasang sistem sprinkler, tapi belum dipasang sudah terjadi kebakaran. Belajar dari kejadian ini kita akan mengevaluasi sistem keamanan baik kebakaran, pencurian, dan musibah lainnya,” jelas Tinia saat memantau Museum Bahari, Rabu, 17 Januari 2018.
 
Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha Unit Pengelola Museum Kebaharian Umuarsih mengaku, untuk menjaga museum, pengelola menggunakan jasa petugas keamanan yang berkeliling secara berkala. Harapannya, saat terjadi bencana, petugas segera mendeteksi dan menanggulanginya.
 
“Sistem keamanannya masih konvensional,” kata Umuarsih saat kami temui di hari dan lokasi yang sama.


Bekas gudang
 
Ketua Tim Sidang Pemugaran DKI Jakarta Bambang Eryudhawan mengatakan, bangunan Museum Bahari berbeda dengan museum lainnya. Sejak awal didirikan, bangunan tersebut bukan diperuntukkan sebagai museum, melainkan sebuah gudang. Bukan tempat yang penuh aktivitas manusia.
 
Pada sisi lain, Museum Wayang, Museum Sejarah Jakarta, atau Museum Seni Rupa dan Keramik - yang juga berada di kawasan Kota Tua, sebelumnya adalah gedung perkantoran pemerintah Hindia Belanda.
 
“Untuk kasus gudang ini memang sudah tua juga, ada keterbatasan. Museum Bahari itu sering kena banjir jadi lantai dasar sudah diangkat sampai 1 meter, jadi sudah tidak asli lagi itu di bawah,” ujar Bambang saat kami hubungi.



Menara Syahbandar di Museum Bahari. (MI)


Pascakebakaran Museum Bahari, kata Bambang, pemerintah sudah memikirkan upaya pengembalian fungsi museum - sesuai asas pelestariannya. Caranya; memulihkan kembali bagian-bagian yang rusak (restorasi), serta membangun kembali bagian yang hilang atau terbakar seluruhnya (rekonstruksi).
 
Kemudian, koleksi berupa miniatur yang hilang dan perahu-perahu asli daerah akan dibuatkan kembali oleh pengrajin - sesuai dokumentasi museum.

Sementara untuk lampu mercusuar dan alat navigasi, Pemprov akan bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan untuk menyumbangkan barang-barang yang bisa dipamerkan.
 
Bambang optimistis, perbaikan tersebut akan menciptakan sejarah baru. Ya. Meski bukti sejarah kebaharian Indonesia di Museum Bahari sejak ratusan tahun lalu telah sirna dilalap api.


(COK)