NEWSTICKER

Bedah Editorial MI: Lorong Gelap Sang Guru

26 November 2022 08:08

Semua orang mungkin mengerti dan sepakat dengan beberapa baris ungkapan yang menggambarkan mulianya sosok dan profesi guru yang terdapat dalam bait lagu Hymne Guru ciptaan Sartono. Namun, sesungguhnya tidak semua orang tahu cara menghargai sosok yang dihormati dan dipuja sebagai pelita, penyejuk, sekaligus pahlawan bangsa tersebut.

Tidak seluruhnya mengerti bagaimana semestinya mengapresiasi peran dan pengabdian guru sebagai penyemai benih-benih generasi pembangun bangsa. Bahkan negara pun, yang di atas kertas tampak menaruh hormat tinggi kepada para guru, dalam praktiknya sering tidak mengimplementasikan penghormatan itu secara sungguh-sungguh. Penghormatan hanya terlihat secara tekstual, tidak secara kontekstual. 

Padahal, selain mulia, profesi guru begitu penting. Bahkan ada ungkapan, cara sebuah bangsa memperlakukan guru adalah cerminan bagaimana bangsa itu memperlakukan masa depan. Itu merupakan gambaran sebegitu pentingnya peran dan posisi guru dalam membangun generasi yang akan menjadi pemegang kunci masa depan bangsa.

Secara jumlah, Indonesia sangat kekurangan guru, terutama guru aparatur sipil negara (ASN) di sekolah negeri. Dalam catatan Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), sampai 2024 Indonesia butuh 1,3 juta lagi guru ASN di sekolah negeri. Sangat banyak. Kebijakan pengangkatan 1 juta guru honorer menjadi guru ASN pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) yang sebetulnya merupakan angin segar untuk mengatasi problem kuantitas dan kesejahteraan guru, nyatanya berhenti sebatas target. Realisasinya meleset jauh dari sasaran.

Yang lebih mengenaskan, guru honorer lagi-lagi mesti gigit jari dan pasrah dengan gaji yang hanya Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Profesi yang konon mulia itu ternyata hanya mendapat 'penghargaan' dengan nilai yang bahkan jauh di bawah upah minimimum provinsi (UMP) atau upah minimum kabupaten/kota (UMK) daerah.

Kita paham tantangan di masa depan bakal semakin berat, kompetisi kian ketat, inovasi-inovasi mesti terus ditumbuhkan. Pendidikan yang baik, yang mampu mempersiapkan sekaligus menempa anak-anak bangsa, adalah modal untuk menghadapi tantangan-tantangan itu. Situasi tersebut, jika dibiarkan berlambat-lambat, tentu akan menghambat mimpi-mimpi besar bangsa ini di bidang pendidikan. Karena itu, pada momentum Hari Guru Nasional 2022 ini, kita mendesak pemerintah segera mencari jalan terang untuk menyelesaikan persoalan kesejahteraan para pendidik. Jangan biarkan masalah itu terus-terusan tersesat di lorong gelap sehingga pada akhirnya malah mematikan cahaya dan pelita yang dibawa sang guru.

Sumber: Media Indonesia