NEWSTICKER

Membendung Perlawanan Sambo

9 December 2022 08:05

Persidangan kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J sudah hampir dua bulan lamanya. Banyak fakta terungkap, tapi tak sedikit pula kebohongan ter kuak di ruang sidang. Bak cerita fiksi dalam film ataupun novel, persidangan itu sungguh dipenuhi drama. Perlawanan dari orang yang didakwa sebagai otak pembunuhan, yakni Ferdy Sambo, pun tidak pernah mengendur. Satu kali publik bisa melihat proses dan fakta sidang semakin mengerucut, mengarahkan kepada kita bahwa Ferdy Sambo memang otak sekaligus pelaku pembunuhan berencana Brigadir J. 

Akan tetapi, di saat yang lain, publik juga disuguhi kegigihan dan kelihaian Sambo bersama tim kuasa hukumnya untuk menghindar dari jeratan pasal pembunuhan berencana tersebut. Perlawanan itu semakin tampak jika kita mengikuti jalannya persidangan dari hari ke hari. Lazimnya respons seorang terdakwa di pengadilan, ketika majelis hakim berupaya menyibak kabut yang menyelimuti sebuah kasus, ia akan berusaha keras agar kabut itu tetap membungkus dan kemudian menyelinap di antara kabut tersebut untuk menyelamatkan diri. Begitu pula dengan Sambo. Ia gigih mendistorsi arah persidangan. 

Saat menjadi saksi untuk sidang terdakwa Richard Eliezer, Rabu (7/12/2022) lalu, ia pun kerap melontarkan keterangan yang menurut hakim janggal, bahkan tidak masuk akal jika ditautkan dengan bukti dan kesaksian-kesaksian sebelumnya. Sambo juga terus membantah memerintahkan Eliezer menembak, tapi hanya memintanya menghajar Brigadir J. Sebaliknya, menurut Eliezer, Sambo secara jelas memerintahkan dia untuk menembak Brigadir J.

Perjalanan sidang pembunuhan berencana yang begitu menghebohkan publik ini mungkin masih akan panjang. Sampai pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum dan kemudian vonis majelis hakim, suguhan drama yang lebih seru sekaligus mungkin membuat kita makin jengkel dan naik darah masih akan terus kita saksikan. Kini publik betul-betul berharap pada kearifan majelis hakim. Jika menyimak manuver-manuver para terdakwa selama ini, hakim tidak hanya dituntut untuk bisa bertindak tegas, tapi juga teliti, konsisten, dan punya endurance yang tinggi. Majelis hakim mesti cermat membingkai seluruh bukti dan fakta objektif yang tersaji di persidangan.

Hasil akhir yang diinginkan publik ialah dakwaan jaksa soal pembunuhan berencana dapat tecermin dalam putusan akhir atau vonis majelis hakim. Kita mesti ingat, sejatinya tidak hanya Brigadir J yang menjadi korban dalam kasus ini, tetapi banyak anggota Polri yang juga kena imbasnya, bahkan beberapa di antaranya kini menjadi terdakwa obstruction of justice atau upaya menghalangi penyidikan kasus pembunuhan berencana Brigadir J tersebut. Kasus ini juga merontokkan citra Polri. Karena itu, kini di tangan majelis hakimlah palu keadilan akan dipertaruhkan, apakah kasus ini akan menemukan keadilan atau justru mengingkari rasa keadilan.

Sumber: Media Indonesia